Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan menegaskan tidak akan membiarkan minyak melewati jalur strategis tersebut selama konflik masih berlangsung.
Seorang juru bicara markas militer IRGC menyatakan bahwa setiap kapal yang memiliki keterkaitan dengan AS, Israel, maupun sekutu mereka akan dianggap sebagai target militer yang sah. Ia bahkan memperingatkan dampak besar terhadap pasar energi global.
“Anda tidak akan bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Perkirakan harga minyak akan berada di angka 200 Dolar AS per barel,” kata juru bicara IRGC, dikutip dari Al-Jazeera, Kamis 12 Maret 2026.
Ancaman tersebut muncul di tengah perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari dan memicu gejolak besar di pasar energi. Iran terus meluncurkan rudal dan drone ke berbagai target di Timur Tengah sebagai balasan atas serangan AS dan Israel.
Penutupan atau terganggunya aktivitas di Selat Hormuz menjadi perhatian serius dunia. Jalur laut ini merupakan salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat tersebut setiap hari.
Situasi semakin memanas setelah tiga kapal dilaporkan terkena proyektil di perairan sekitar selat itu. Salah satunya adalah kapal kargo berbendera Thailand yang diserang sekitar 18 kilometer di utara Oman.
Meski risiko keamanan meningkat, Presiden AS Donald Trump tetap mendorong kapal-kapal komersial untuk terus melintasi selat tersebut. Ia menyatakan bahwa keamanan di kawasan itu akan segera dipulihkan.
BERITA TERKAIT: