Pasar Eropa Terkoreksi, Saham Rheinmetall Anjlok 8 Persen

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Kamis, 12 Maret 2026, 07:14 WIB
Pasar Eropa Terkoreksi, Saham Rheinmetall Anjlok 8 Persen
Ilustrasi (Gambar: RMOL/Reni Erina)
rmol news logo Bursa saham Eropa tergelincir ke zona merah pada perdagangan Rabu 11 Maret 2026 Waktu setempat. Investor tampak mulai berhati-hati dalam mengukur dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah yang kini memasuki hari ke-12, sembari tetap memantau rilis data inflasi Amerika Serikat. 

Gejolak geopolitik dan ancaman lonjakan harga energi memicu aksi ambil untung setelah sempat menguat sehari sebelumnya.

Indeks STOXX 600 ditutup melemah 0,59 persen (3,58 poin) ke level 602,54. 

Mayoritas bursa regional lainnya juga mencatat rapor negatif. Pasar Jerman menjadi beban terberat bagi Eropa dengan indeks DAX anjlok signifikan hingga 1,37 persen ke posisi 23.640,03. 

Pemicu utamanya adalah saham raksasa pertahanan, Rheinmetall, yang terjun bebas sekitar 8 persen. Hal ini terjadi setelah proyeksi margin laba dan arus kas bebas perusahaan untuk tahun 2026 ternyata melesat di bawah ekspektasi pasar.

Sentimen negatif ini merembet ke sektor pertahanan Eropa secara umum yang turun 1,8 pesen, disusul sektor industri yang melemah 1,2 persen. 

Di London, FTSE 100 terkoreksi 0,56 persen ke 10.353,77, sementara CAC 40 Prancis turun tipis 0,19 persen ke 8.041,81.

Kekhawatiran pasar memuncak menyusul peringatan keras dari komando militer Iran terkait potensi harga minyak yang bisa meroket hingga 200 Dolar AS per barel. Ancaman ini muncul di tengah laporan serangan terhadap tiga kapal di kawasan Teluk yang terblokade, serta eskalasi serangan Teheran ke wilayah Israel.

Kondisi ini mematahkan optimisme hari Selasa, saat pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut perang "hampir berakhir" sempat membawa STOXX 600 ke performa harian terbaiknya sejak April 2025.

Menanggapi krisis ini, Badan Energi Internasional (IEA) mengambil langkah bersejarah dengan melepas 400 juta barel minyak dari cadangan guna meredam harga. Dampaknya, saham sektor energi menjadi satu-satunya yang menghijau dengan kenaikan 1,6 persen.

Bank Sentral Eropa (ECB) kini bersiap menghadapi kemungkinan lonjakan inflasi akibat guncangan energi. Data LSEG menunjukkan pergeseran ekspektasi investor; dari yang semula mengharapkan penurunan suku bunga, kini mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga pada 2026.

Barclays bahkan memperingatkan bahwa STOXX 600 berisiko terjatuh hingga ke level 550 poin jika harga minyak bertahan di angka 100 Dolar AS per barel.

Sektor Perbankan masih dalam tekanan dengan pelemahan tambahan 0,6 persen.

Meskipun inflasi Jerman dilaporkan melambat ke 2,0 persen pada Februari dan inflasi AS sesuai perkiraan, fokus utama pasar tetap tertuju pada stabilitas di Selat Hormuz—jalur yang mengangkut seperlima perdagangan minyak dunia. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA
Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA