Bos Pertagas Tak Merasa Perlu Mengklarifikasi Berita Pencopotannya

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Jumat, 09 September 2016, 21:04 WIB
Bos Pertagas Tak Merasa Perlu Mengklarifikasi Berita Pencopotannya
Hendra Jaya/Net
rmol news logo Presiden Direktur Pertagas, Hendra Jaya, ramai diberitakan dicopot dari jabatannya. Namun, dia tidak merasa tidak perlu melakukan klarifikasi.

Karena sudah terkonfirmasi dengan sendirinya, bahwa yang benar masa tugasnya sudah habis pada 30 Agustus lalu dan sampai saat ini belum ada RUPS untuk membahas siapa yang akan menjadi nakhoda baru.

"Saya kira tanpa saya klarifikasi, berita lain sudah mengkonfirmasi dan meluruskan perkara tersebut. Saya rasa cukup,” kata Hendra dalam keterangannya, Jumat (9/9).

Selama selama tiga tahun atau satu periode masa kerja sebagai Presiden Direktur Pertagas, di bawah kepempimpinannya Pertagas tercatat sebagai anak usaha Pertamina yang paling tinggi memberikan keuntungan bagi induk perusahaan. Namun dia merendah.

"Itu semua kerja tim, hasil keringat kawan-kawan di PERTAGAS, juga arahan yang jelas dari Induk perusahaan Pertamina dan Kementerian BUMN. Jadi saya hanya menjalankan tugas. Jika ada yang kurang baik, itu tentu karena saya kurang maksimal. Intinya saya hanya ingin bekerja dan dipercaya penuh. Ini hajat hidup orang banyak," ungkapnya.

Beberapa penghargaan prestisius didapatkan oleh Pertagas selama kepemimpinan Hendra Jaya, Gold Awards dalam hal Quality Control di Internatinal Convention on Quality Control Circle (ICQCC) pada Oktober 2014 di Jepang, Platinum Awards di tahun yang sama pada Temu Karya Mutu dan Produktivitas Nasional (TKMPN) tahun 2014 di Batam, Satyalencana Wirakarya dari Presiden Jokowi pada Juli 2015, dan Patra Nirbhaya Karya Utama Adinugraha untuk PT Pertagas Operasi Wilayah Barat dan Timur atas pencapaian 20 juta lebih jam kerja tanpa kecelakaan kerja.

Hendra Jaya tetap menyatakan belum puas dan belum maksimal atas torehan tersebut. "Harusnya bisa lebih baik lagi, bekerja lebih keras lagi," katanya.

Sementara soal banyaknya tudingan miring yang menyebut bahwa kelangkaan dan mahalnya harga gas di pasaran salah satu penyebabnya adalah ketidakpaduan antara kerja Perusahaan Gas Negara (PGN) dan Pertagas, Hendra Jaya enggan memberikan komentar mengenai hal tersebut.

"Saya ini Presdir Pertagas, tugas saya menjalankan perusahaan dan memberikan profit kepada karyawan dan juga Pertamina sebagai induk, soal perusahaan lain bukan wewenang saya untuk memberikan penilaian," katanya.

Seperti diketahui, semakin santer pemberitaan mengenai rencana penyatuan antara Pertagas dan PGN. Namun yang mengemuka adalah Pertagas akan diakuisisi dibawah PGN. Padahal, dari data yang beredar, tidak seperti Pertagas yang mencatatkan kinerja dan keuntungan yang baik, PGN malah diselimuti keadaan keuangan yang buruk. Bahkan Presdir PGN Hendi Prio Santoso kini dicekal terkait penanganan kasus Float Storage Regasification Unit (FSRU) di Lampung.

Hendra Jaya menolak mengomentari rencana holdingisasi tersebut.

"Sekali lagi tugas saya adalah di Pertagas, holdingisasi itu kebijakan yang lebih tinggi. Saya tidak punya preferensi untuk memberikan penilaian. Saya bekerja sesuai mandat saya saja," demikian Hendra Jaya. [zul]

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA