“Target hilirisasi untuk proÂduk tambang pada 2014 sulit tercapai karena pembangunan
smelter-nya tidak berjalan,†ujar Direktur Eksekutif Institute for DevelopÂment of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri HarÂtati kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Alasannya, pemerintah gagal memÂberikan kepastian pemÂbaÂngunan infrastruktur baik jalan mauÂpun listrik. Alhasil, para penguÂsaha yang tadinya tertarik unÂtuk membangun
smelter berÂpikir ulang. Belum lagi, masalah perizinan yang berbelit-belit.
Seharusnya, pemerintah memÂpermudah dan memberikan faÂsilitas infrastruktur yang meÂmaÂdai. Apalagi,
smelter akan banyak dibangun di luar Jawa.
Enny mengatakan, ketidaksiaÂpan pemerintah juga bisa dilihat dari pernyataan Direktur Jenderal Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Thamrin Sihite.
Saat itu, dia menguÂsulkan agar pembangunan
smelter mengÂgunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan alasan swasta tidak serius.
Padahal, menurut Enny, pemÂbaÂngunan
smelter sangat penting unÂtuk meningkatkan nilai tambah hasil tambang dibanding ekspor baÂhan baku mentah. Jika ini tidak diÂatur akan cepat habis dan IndoÂnesia tidak mendapatkan apa-apa.
Namun, Menko Perekonomian Hatta Rajasa masih optimistis program hiliÂrisasi pada 2014 akan berÂjalan. Secara tegas dia meÂnolak usulan agar pemÂbangunan
smelter menggunakan dana APBN. “Kita tetap akan beÂkerja sama dengan swasta,†ujarnya kepada
Rakyat Merdeka, akhir pekan lalu.
Hatta mengklaim, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada para pengusaha tambang agar mau membangun industri pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Menurutnya, jika pengusaha itu tidak mau, mereka akan diberi sanksi tidak boleh mengekspor.
Untuk pengusaha yang memÂbangun
smelter tapi pada 2014 tidak selesai, pihaknya akan memÂberikan tenggang waktu keÂpada pengusaha untuk menyeÂlesaikan pembangunannya.
Sedangkan, untuk perusahaan yang belum membangun
smelter dilarang ekspor. Hasil tamÂbangÂnya, kata Hatta, juga harus dijual kepada perusahaan pemurnian dalam negeri.
Sebab, jika tidak dihentikan, maÂka seluruh sumber daya alam yang dimiliki seperti nikel, boukÂsit, alumunium yang saat ini urutannya satu sampai lima dunia hanya habis begitu saja dan tidak akan memberikan nilai tambah bagi dalam negeri.
“Mereka (luar negeri) memÂprosesnya menjadi barang jadi dan itu melibatkan para sarjaÂnanya. Negara pemasok bahan menÂtah tidak dapat apa. Malah bisa jadi hanya jadi beban bagi geÂneÂrasi penerusnya,†jelas Hatta.
Dia juga membantah soal ketidaksiapan infrastruktur yang dikeluhkan pengusaha. MenurutÂnya, PLN sudah menjamin keterÂsedian listrik untuk
smelter.
Sebelumnya, Thamrin SiÂhite menambahkan, saat ini suÂdah ada 158 pengusaha mineral yang akan membangun
smelter. Dia menilai positif rencana pengusaha tersebut.
Kendati begitu, dia mengÂungkapkan, banyak pengusaha yang berniat membangun
smelter asal diberi izin ekspor. “Kalau mereka (perusahaan tambang) tidak mau kerja sama memÂbangun pemurnian, ya sudah kau stop saja,†jelasnya.
Ketua Umum Asosiasi PemaÂsok Energi dan Batubara IndoÂnesia (Aspebindo) Ferry JulianÂtono mengkritik kebijakan pemeÂrintah yang mewajibkan seluruh perusahaan mineral melakukan pembuatan
smelter. Sedangkan perusahaan tambang besar sekelas Freeport tidak diwajibkan.
“Pemerintah sebagai pembuat kebijakan seharusnya melakukan klasifikasi perusahaan pertamÂbangan karena penerapan pengaÂjuan Izin Usaha Pertambangan (IUP) sangatlah sulit karena keÂterbatasan modal dan teknologi,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: