Gara-gara pemerintah hobi melakukan impor, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung turun gunung mengawasi kebijakan ketahanan pangan.
Deputi Bidang Statistik ProÂduksi Badan Pusat Statistik (BPS) Adi Lumaksono mengataÂkan, saat ini KPK sudah memÂbuat tim unÂtuk mengawal ketaÂhanan paÂngan.
“KPK sudah bikin tim dan UKP4 (Unit Kerja Presiden biÂdang Pengawasan dan PengenÂdalian Pembangunan) juga ikut mengawal kebijakan ketahanan pangan,†katanya, Jumat (30/11).
Menurut Adi, alasan lembaga pemÂberantas korupsi itu ikut meÂngawasi karena pangan masalah yang sangat penting. Apalagi jika terjadi kekuÂrangan pangan peÂmerintah paniknya luar biasa dan berusaha untuk mengaÂtasi itu.
“Karena itu, pemerintah harus serius menjaga ketahanan pangan dan tak sembarangan mengÂambil kebijakan impor. Saat ini produk pangan impor sudah memÂbanjiri dalam negeri,†ujarnya.
Ketua KPK Abraham Samad pernah mengatakan adanya jaringÂan mafia yang bermain dalam tata kelola impor bahan makanan seÂlama ini. Akibatnya, masyarakat dibanjiri barang-barang impor yang belum tentu dibutuhkan.
“Hasil penelusuran KPK ini bentuk permainan, tata rantai mafia yang bermain,†tegasnya.
Menurut Samad, masyarakat sebenarnya tidak memerlukan imÂpor daging, impor susu atauÂpun impor beras. Namun, impor barang-barang itu terus dilakuÂkan karena ada permainan para mafia yang menguntungkan piÂhak-piÂhak tertentu namun meruÂgikan masyarakat.
Adi menyatakan, saat ini yang menjadi sorotan adalah kebijakÂan impor pemeÂrintah dengan alasÂan untuk menÂjaga stok dan keÂtahanan pangan. Namun, hingÂga kini belum ada data berapa proÂduksi pangan daÂlam negeri. KaÂrena itu, BPS akan melaÂkuÂkan sensus pertanian taÂhun depan.
“Sensus ini untuk meÂngetahui berapa produksi pangan dalam negeri, sehingga kita tahu keÂmampuan dan kekuÂranganÂnya,†jelas Adi.
Sensus ini juga untuk mengeÂtahui apakah kebijakan impor yang dilakukan pemerintah suÂdah tepat atau belum. Pasalnya, keÂbijakan itu akan berdampak pada petani dalam negeri.
Sedangkan untuk cakupan dari sensus pertanian ini adalah tanaÂman pangan dan hortikultura (saÂyuran, buah-buahan). TermaÂsuk perkebunan, peternakan, perÂikanÂÂan dan kehutanan.
“Saat ini buah impor banyak membanjiri pasar dalam negeri. Ini dikeluhkan para petani. BahÂkan petani bawang tidak mau meÂmanen bawangnya,†katanya.
Rektor Universitas Gadjah MaÂda (UGM) Prof Pratikno berÂpenÂdapat, tidak masuk akal untuk masyarakat Indonesia dengan kekayaan melimpah tapi maÂyoÂritas petani masih mengalami maÂsalah pangan.
“Ini menjadi ironis di tengah negara lain genÂcar meÂnyediakan stok pangan, InÂdoÂnesia masih saja berkutat deÂngan impor paÂngan,†ujarnya.
Dia menduga, korupsi sektor pangan justru terjadi di tingkat keÂbijakan, sehingga kondisi menÂjadi lebih parah karena koÂrupsi tersebut telah terjadi seÂbelum mengkorupsi anggaran dan lain-lain.
Peneliti Pusat Kajian Anti KoÂrupsi (Pukat) UGM Zainal Arifin Mochtar mengatakan, korupsi di bidang pangan terjadi dari hulu hingga ke hilir, dari pengadaan bibit hingga pengÂiriÂman. Dia meÂÂnawarkan pada KPK untuk beÂkerja sama mewuÂjudkan audit kualitas agar benih layak dibaÂgikan dan tidak pro pasar.
Anggota Komisi VI DPR SoÂhibul Iman mengatakan, konÂdisi impor pangan Indonesia yang meÂrupakan negara agraris sudah sangat mencemaskan. Defisit paÂngan Indonesia tahun lalu temÂbus 9,24 miliar dolar AS atau mendeÂkati Rp 90 triliun.
Menurut Sohibul, defisit tujuh koÂmoÂditas pangan utama naÂsional terus meningkat. Pada 2011, voÂlume impor beras, jaÂgung, ganÂdum, kedelai, gula, susu dan daÂging mencapai 17,6 juta ton seÂnilai 9,4 miliar dolar AS. Defisit pangan tahun 2011 menÂcapai 17,35 juta ton dengan nilai 9,24 miliar karena ekspor hanya 250 ribu ton dengan nilai 150 juÂta dolar AS.
Lebih rinci, data BPS menunÂjukkan, impor beras Indonesia mencapai 2,75 juta ton dengan nilai 1,5 miliar dolar AS atau 5 persen dari total kebutuhan dalam negeri. Impor kedelai mencapai 60 persen dari total konsumsi dalam negeri sekitar 3,1 juta ton dengan nilai 2,5 miliar dolar AS.
Impor jagung sebesar 11 persen dari konsumsi 18,8 juta ton seÂnilai 1,02 miliar dolar AS, ganÂdum 100 persen impor dengan nilai 1,3 miliar dolar AS, gula putih 18 persen dari konsumsi atau 1,5 miliar dolar AS dan daÂging sapi 30 persen dari konsumsi atau 331 juta dolar AS dan susu 70 persen dari konsumsi. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: