Awas, Menteri ‘Brutus’ Coba Gagalkan Program Anti Miskin

Menko Kesra Bilang Program Entaskan Kemiskinan Bukan Bagi-Bagi Proyek

Jumat, 16 November 2012, 09:30 WIB
Awas, Menteri ‘Brutus’ Coba Gagalkan Program Anti Miskin
ilustrasi
Kecil Besar

rmol news logo Pemerintah mengklaim program pengentasan kemiskinan sudah berjalan maksimal. Buktinya angka kemiskinan saat ini tinggal 11 persen. Masa sih...???

“Program-program pe­ngen­tasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah saat ini bukan hanya bagi-bagi proyek saja,” tegas Men­ko Kesra Agung Laksono kepada Rakyat Merdeka.

Pernyataan Agung ini me­nyin­dir Ketua DPR Marzuki Alie yang sebelumnya mengatakan proyek kemiskinan pemerintah tidak berjalan maksimal dan ter­kesan hanya jadi bahan pro­yekan saja karena penurunannya tidak sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan.

Menteri asal Partai Golkar ini pun memaparkan alasannya. Me­nurut Agung, pada awal pe­me­rintahan Presiden Susilo Bam­bang Yudhoyono (SBY) jumlah orang miskin mencapai 17,9 per­sen, tapi saat ini jumlahnya su­dah turun tinggal 11 persen.

“Itu berdasarkan data Badan Pu­­sat Statistik (BPS),” katanya.

Agung mengaku saat ini pe­nu­runan kemiskinan masih berki­sar di angka 0,8 persen per ta­hun. Tapi angka itu lebih tinggi diban­ding penurunan kemiskin­an di Amerika Latin dan Afrika. Ber­dasarkan data World Econo­my Forum, angka penurunan di ne­gara tersebut rendah atau 0,3 persen per tahunnya.

Agung menyatakan, peme­rin­­tah menargetkan, akhir pe­me­rin­tah Presiden SBY angka ke­mis­kin­an akan berada di ba­wah 10 persen.

Untuk mengatasi kemiskinan tersebut, pemerintah telah mem­bagi program penanggulangan kemiskinan ke dalam 4 kategori klaster. Hal ini dilakukan agar ke­lompok hampir miskin dapat di­lindungi dari kerentanan akan perubahan keadaan.

Klaster pertama adalah prog­ram penanggulangan kemiskin­an yang sasarannya adalah ru­mah tangga miskin melalui Program Keluarga Harapan (PKH), Prog­ram Bantuan Siswa Miskin, Prog­ram Jaminan Kese­hatan Ma­syarakat (Jamkesmas) serta Prog­ram Beras untuk Masyarakat Mis­kin (Raskin).

Klaster kedua, program pe­nang­gulangan kemiskinan yang sasarannya komunitas, dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Klaster ke­tiga program pemberdayaan eko­nomi yang sasarannya adalah usa­ha mikro dan usaha kecil dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Klaster keempat ditujukan men­jadi program pro rakyat lainnya, yang disasar lebih khu­sus lagi seperti kelompok miskin, nelayan dan sebagainya. “Kami setiap tahun mengucurkan dana Rp 50-60 triliun untuk program pengen­tasan kemiskinan,” klaim Agung.

Namun saat ditanya mengenai jumlah pengangguran yang me­ning­kat, Agung menegaskan, jumlahnya saja yang bertambah namun presentasinya tidak.

Anggota Komisi VIII DPR Muhammad Baghdowi meng­imbau kementerian dan lembaga terus berkoordinasi dengan DPR guna mengatasi penanganan ke­miskinan yang di tiga tahun ter­akhir penurunannya lambat.

“Saya melihat ada rentang dan sistem yang tidak pas dalam upa­­­y­a pemerintah menang­gu­langi kemiskinan. So­al­nya ang­ga­ran­nya tinggi tapi laju pe­nu­ru­nan­nya kok lambat,” kata Bagh­­dowi kepada Rakyat Mer­deka.

Anggota Fraksi Partai De­mokrat itu menduga ada menteri yang mencoba menggagalkan program anti kemiskinan di te­ngah komitmen negara mengen­taskan permasalahan itu. Terma­suk DPR melalui penyediaan sa­rana dan prasarana perundang-undangan anti kemiskinan.

“Jika kondisinya seperti ini (pe­nurunan angka kemiskinan terus melambat), jangan-jangan ada menteri ‘Brutus’. Artinya, program anti kemiskinan sebagus ini dia telikung,” katanya.

Untuk diketahui, istilah Brutus diambil dari nama Markus Yu­nius Brutus yakni Senator Ro­mawi yang terkenal sebagai pe­mimpin konspirasi pembunuhan Julius Caesar.

Baghdowi menjelaskan, tahun lalu DPR menyetujui anggaran kemiskinan sebesar RP 86 triliun. Namun, dari angka sebesar itu hanya satu juta orang yang ter­angkat kemiskinannnya.

Menteri Perencanaan dan Pem­ba­ngunan Nasional/ Kepala Ba­dan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Ar­mida S Alisjahbana mengatakan, pen­duduk miskin di Indonesia ter­sebar tidak merata. Jumlah terbe­sar dari penduduk miskin 57,8 persen berada di Pulau Jawa.

Lalu sebanyak 21 persen di Su­matera, 7,5 persen di Sula­wesi, 6,2 persen di Nusa Teng­gara, 4,2 persen di Maluku dan Papua dan angka terkecil sebe­sar 3,4 persen tersebar di Kali­mantan. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA