Farah.ID
Farah.ID

Perlawanan Daidan Dari Blitar

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/republikmerdeka-id-1'>REPUBLIKMERDEKA.ID</a>
LAPORAN: REPUBLIKMERDEKA.ID
  • Rabu, 07 April 2021, 18:10 WIB
Perlawanan Daidan Dari Blitar
Monumen PETA di Blitar./Repro
rmol news logo Tertanamnya cinta tanah air serta kekejaman Jepang yang menyengsarakan rakyat selama pendudukan memicu pemberontakan dari sejumlah Tentara (PETA) di Blitar, Jawa Timur.

Enam bulan menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, atau tepat pada 14 Februari 1945 terjadi peristiwa pemberontakan yang dilakukan satuan setingkat Daidan (atau batalyon) Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar, Jawa Timur.

Daidan Blitar dibentuk pada 25 Desember 1943. Salah satu komandan peleton (Shodanco) di Daidan Blitar itu bernama Supriyadi. Dialah yang memimpin pemberontakan tersebut bersama sejumlah shodanco dan bundancho lainnya.

Supriyadi, adalah pemuda berusia 20 tahun.  Sebagai komandan, ia merasa prihatin terhadap kesensaraan yang diderita rakyat Blitar,  di bawah pendudukan Jepang. Mengutip buku Tentara Gemblengan Jepang, yang ditulis Joyce C Lebra  (1988),  ada beragam alasan yang memicu kemarahan anggota PETA Blitar hingga meletus pemberontakan itu.

Tentara sukarela ini banyak yang kecewa saat kembali ke daerah usai menamatkan pendidikan PETA di Bogor. Mereka mendapati kenyataan, perlakuan semena-mena tentara Jepang terhadap rakyat sipil.

Pada paruh kedua 1944, Daiden PETA Blitar dikirim ke wilayah Pantai Selatan untuk mengawasi pembangunan kubu di wilayah tersebut. Mereka terkejut banyak  melihat banyaknya rakyat yang dipekerjakan secara romusha.

Para romusha itu dipaksa bekerja berat sejak dini hari  hingga sore. Dengan makanan yang tak layak dan tanpa upah. Makanan dan bantuan kesehatan sangat minim sehingga separuh dari mereka jatuh sakit dan meninggal.

Pada akhir 1944, jumlah penduduk laki-laki di desa-desa sekitar menurun drastis. Sebagai gantinya, tentara Jepang mengerahkan romusha perempuan. Sama. Mereka juga diperlakukan semena-mena. Jadi korban penyiksaan dan banyak yang meninggal dunia. Penderitaan rakyat itu yang memunculkan rasa nasionalisme dan keprihatinan dari para tentara PETA Blitar.

Faktor lain adalah perwira PETA yang merasa direndahkan oleh militer Jepang.  Pimpinan PETA tidak suka dengan kewajiban hormat kepada bintara Jepang, bahkan yang pangkatnya paling rendah sekalipun.

Mengutip, sejarawan Kahin, Joyce mengatakan, pemberontakan ini juga disokong oleh kegiatan anti-Jepang yang dilakukan kelompok Sjarifuddin dari Partai Komunis. Kelompok ini beroperasi di bawah tanah.

Faktor lain yang memicu pemberontakan itu adalah keinginan Soepriyadi dan anak buahnya bahwa Indonesia merdeka sepenuhnya.

Sejak September 1944, Soepriyadi telah menggalang kekuatan untuk memberontak. Ia menggelar sejumlah pertemuan rahasia untuk menyusun rencana itu.  Gerakan ini dirancang tak hanya sekedar memberontah terhadap  militer Jepang di Blitas tapi menggulirkan aksi revolusi untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Sejumlah komandan peleton PETA lainnya ikut terlibat dalam perencanaan yang dipimpin Soepriyadi. Termasuk shodancho Moeradi dan Soeparjono, serta tiga orang bundancho (komandan regu), yakni Soedarmo, Soenanto, dan Halir Mangkoedidjaja.

Soepriyadi juga berusaha membangun jaringan dan komunikasi dengan sejumlah komandan batalyon dan peleton PETA  di wilayah lain. Ia mengajak untuk bersama-sama mengangkat senjata melawan Jepang dan merebut kemerdekaan.  Soepriyadi juga berupaya menggalang kekuatan rakyat untuk mendukung upaya itu.

Sayangnya, saat persiapan yang direncanakan itu belum matang sepenuhnya, gerak-gerik Soepriyadi dan kelompoknya mulai dicurigai militer Jepang,  Gerakan ini mulai tercium oleh polisi rahasia Jepang (Kempetai).

Soepriyadi yang juga mengetahui rencananya sudah dicurigai Kempetai, merasa khawatir mereka malah akan ditangkap sebelum aksi dimulai. Ia pun memutuskan untuk mempercepat aksinya.

Beberapa waktu sebelumnya, sebenarnya banyak pihak yang sudah memperingatkan Soepriyadi untuk mempertimbangkan kembali niatnya. Termasuk Ir Soekarno, salah seorang pemimpin yang disegani ketika itu.

Soekarno dalam buku biografinya, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams (1988), mengakui telah mengetahui rencana makar anak-anak muda PETA Blitar ini. Ia sempat menyarankan Soepriyadi untuk mempertimbangkan hal itu.

Dikisahkan, beberapa minggu sebelum meletusnya pemberontakan, tiga perwira PETA yakni Soepriyadi, Muradi dan Sunanto menemui Soekarno yang saat itu sedang pulang ke rumah orang tuanya di Blitar. Ketiganya mengemukakan rencana mereka untuk melakukan pemberontakan.

Soekarno pun terkejut mendengar rencana tersebut dan buru-buru meminta ketiganya mengurungkan niat itu. “Pertimbangkanlah masak-masak untung ruginya, saya minta saudara-saudara memikirkan tindakan yang demikian itu tidak hanya dari satu segi saja,” kata Soekarno.

Namun Soepriyadi, yang merupakan pimpinan tertinggi dalam rencana itu meyakinkan Soekarno bahwa persiapan sudah matang. Ia optimistis akan berhasil. “Kita akan berhasil!” tandas Soepriyadi.

Namun Soekarno tak sepenuhnya yakin. “Saya berpendapat bahwa saudara terlalu lemah dalam kekuatan militer untuk dapat melancarkan gerakan semacam itu pada waktu sekarang,” kata Soekarno.

Menurut Tommy Darmadi (saudara dari Soepriyadi) dalam kesempatan itu, Soekarno juga menyebutkan bahwa Soepriyadi dan kawan-kawan adalah cikal bakal para pemimpin ketentaraan Republik Indonesia yang sudah merdeka.

Soekarno juga mengingatkan agar Supriyadi dan kawan-kawan bercermin kepada insiden yang baru saja terjadi di Manchuria. Yakni, ketika satu kompi tentara Jepang yang sudah gerah terhadap perilaku rekan-rekannya melakukan pemberontakan. Namun akhirnya ditindas secara kejam.

“Kalau sekiranya saudara-saudara gagal dalam usaha ini, hendaklah sudah siap memikul akibatnya. Jepang akan menembak saudara-saudara semua!” tukas Soekarno memperingatkan Soepriyadi.

Meski demikian, Sukarno tak bisa menghalangi semangat dan tekad para pemuda PETA yang kadung berapi-api itu. Sukarno pun meminta mereka memikirkan ulang rencana itu, karena akibatnya akan fatal. Dia pun memikirkan keberlangsungan PETA sebagai alat revolusi bisa hancur lantaran pemberontakan ini.

“Apakah Bung tidak bisa membela kami?” ujar Supriyadi bertanya kepada Soekarno.

“Tidak. Saudara anggota tentara, bukan orang preman. Dalam hukum militer, hukumanmu otomatis,” jawab Bung Karno tegas.

“Saya harus menerangkan dengan jelas kepadamu semua. Kalau engkau terus bertahan hendak mengobarkannya, saya sokong. Saya akan membantu dengan pembuatan rencana. Akan tetapi saya harus hati-hati sekali untuk menutupi jejakku. Jangan sampai timbul persangkaan Jepang, ini kebetulan terjadi di negeriku. Dalam keadaan apa pun, saya tidak akan membukakan rahasia ini. Saya akan terpaksa memungkiri segala sesuatu yang kuketahui mengenai peristiwa ini demi berlangsungnya kehidupan PETA untuk masa selanjutnya,” tutur Bung Karno.

Akan tetapi, perlawanan mereka tak bisa dibendung lagi. Pada 13 Februari 1945 malam, Soepriyadi memutuskan aksi harus segera dijalankan. Nekat, siap atau tidak siap. Ini saatnya tentara PETA membalas perlakuan kejam tentara Jepang.

Ternyata benar, penggalangan yang dilakukan Soepriyadi ke tentara PETA sepenuhnya tidak mulus. Tidak semua anggota Daidan Blitar mau mengikuti ajakan untuk memberontak.

Meski demikian, Soepriyadi meminta para tentata PETA bergabung dengannya untuk tidak menyakiti sesama PETA walaupun tidak mau memberontak. Tapi, khusus terhadap orang Jepang, semuanya harus dibunuh.

Buku Tentara Gemblengan Jepang, yang ditulis Joyce C Lebra menyebut, pemberontakan pun pecah pada 14 Februari 1945, pukul 03.00 dini hari.

Aksi ini ditandai dengan penembakan mortir, senapan mesin, dan granat ke Hotel Sakura yang ditempati para perwira Jepang di Blitar. Markas Kempetai juga ditembaki senapan mesin.

Akan tetapi, rencana serangan itu bocor. Kedua bangunan itu ternyata sudah dikosongkan. Secara mendadak para perwira Jepang telah membatalkan rencana pertemuan setelah menerima informasi dari polisi rahasia mengenai rencana pemberontakan yang akan dilakukan tentara PETA pimpinan Shodancho Soepriyadi.

Joyce menulis, sebanyak 360 orang tentara PETA ikut memberontak bersama Soepriyadi. Selama perlawanan, 25 perwira Jepang berhasil dibunuh.

Dari Hotel Sakura, para tentara PETA bergerak menuju rumah penjara. Sebanyak 285 narapidana yang ada dalam penjara itu dibebaskan. Mereka teriak kegirangan "Merdeka! Merdeka!"

Dari alun-alun, para tentara PETA bergerak ke kecamatan-kecamatan. Saat di Kecamatan Nglegok, para tentara PETA menemui rakyat yang telah berkumpul dan menyampaikan tujuannya untuk merdeka.

Dalam aksi yang lain, seorang bhudancho (bintara) PETA merobek poster bertuliskan "Indonesia Akan Merdeka" dan menggantinya dengan tulisan "Indonesia Sudah Merdeka!".

Pasukan Soepriyadi juga merebut banyak perlengkapan militer dan logistik Jepang, seperti senjata Arisaka dan senapan mesin Type 99.  

Tapi kekuatan tentara Jepang sulit ditandingi. Jepang menguasai seluruh Kota Blitar. Mereka mendatangkan pasukan yang juga dipersenjatai tank dan pesawat udara untuk menghalau tentara PETA yang melakukan perlawanan.

Pasukan Soepriyadi mundur ke luar kota berpencar menjadi tiga ke arah pegunungan dan membentuk benteng pertahanan.

Supriyadi memimpin pasukan di timur dan membuat perbentengan di Kali Putih-Kali Menjangan Kalung. Suparjono ke Barat dan Muradi ke Utara. Keduanya kemudian bertemu di Candi Panataran.

Struktur komando PETA yang berada dibawah Panglima Militer Jepang dan tidak memiliki komando terpusat sendiri, juga berpengaruh terhadap kekuatan perlawanan. Dengan komando yang tetap terpusat, Tentara Jepang berhasil mencegah pemberontakan itu menyebar ke daidan-daidan lainnya.

Menumpas perlawanan ini, Jepang mengirim tentara PETA yang masih setia untuk memburu Soepriyadi dan pengikutnya. Militer Jepang juga memblokade pintu keluar bagi para pemberontak agar tidak bisa melarikan diri. Daidan-daidan yang ada di sekitar Blitar dikerahkan.

Daidan Kediri diperintahkan menjaga perbatasan di Blitar-Tulungagung dan Sungai Brantas di Lodoyo, Kademangan dan Ngunut. Daidan Malang di perbatasan Blitar-Malang dan Kali Lohor.

Dalam kondisi seperti itu, para pemberontak pun terdesak. Pemberontakan tentara PETA ini berhasil dipadamkan dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan PETA sendiri maupun Heiho.

Dalam rangkaian melemahkan kekuatan pemberontakan PETA, dengan difasilitasi Dinas Propaganda Jepang, Kolonel Katagiri menemui Shodancho Muradi, salah satu pentolan pemberontak dan meminta seluruh pasukan yang memberontak untuk menyerah dan kembali ke markas batalyon.

Shodancho Muradi mengajukan syarat kepada Kolonel Katagiri. Senjata pasukannya tidak boleh dilucuti. Anggotanya tidak boleh diperiksa atau diadili tentara Jepang.

Syarat itu disetujui Kolonel Katagiri. Ia menyerahkan samurai sebagai jaminan. Dalam budaya Jepang, pemberian pedang tersebut sebagai janji seorang samurai yang harus ditepati.

Akan tetapi, janji Katagiri ternyata tidak bisa diterima oleh Komandan Tentara Jepang XVI. Militer Jepang malah mengirim Kempetai untuk mengusut pemberontakan PETA.

Pimpinan lapangan dari pemberontakan ini, Muradi tetap bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir. Mereka semua pada akhirnya, ditangkap dan dibawa ke Jakarta untuk diadili pada 16 Mei 1945.

Sebanyak 78 orang perwira dan prajurit PETA dari Daidan Blitar diadili secara militer. Sebanyak 6 orang divonis hukuman mati, 6 orang dipenjara seumur hidup, dan sisanya dihukum sesuai dengan tingkat kesalahan.

Buku Perlawanan Rakyat Indonesia terhadap Fasisme Jepang yang ditulis Sagimun MD (1985) menyebutkan, pada 14 April 1945, Daidan Blitar dijatuhi hukuman kolektif.

Mereka yang tidak diberangkatkan ke Jakarta untuk diadili polisi militer Jepang. Melainkan diasingkan ke daerah Gambyok. Sebuah wilayah tandus di lereng Gunung Wilis.

Dalam pengasingan, para PETA ini membuat rumah dari bambu dan atap ilalang. Untuk mendapatkan air minum, mereka harus berjalan 25 kilometer ke arah Nganjuk.

Buku Tentara Peta pada Jaman Pendudukan Jepang di Indonesia yang ditulis Nugroho Notosusanto (1979), mencatat enam orang yang dijatuhi hukuman mati, yakni dokter Ismangil (chudancho), Moeradi (shodancho), Soeparjono (shodancho), Soenanto (bundancho), Halir Mangkoedidjaja (bundancho), dan Soedarmo (bundancho).

Vonis mati itu dijatuhkan pada 16 April 1945. Mereka dieksekusi di pantai Ancol, Jakarta Utara.

Sementara keberadaan pimpinan perlawanan ini, Soepriyadi hilang misterius sejak pemberontakan itu terjadi. Namaya tidak ada dalam daftar orang-orang yang ditangkap ataupun dijatuhi hukuman oleh militer Jepang. Soepriyadi hilang tak jelas rimbanya. Bahkan sampai saat ini, keberadaannya masih misterius. Entah terbunuh oleh tentara Jepang, entah selamat tak ada yang tahu.

Presiden Soekarno juga tetap meyakini Soepriyadi masih hidup. Menghargai jasanya, Bung Karno mengangkat Soepriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat pada 6 Oktober 1945 dan Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 20 Oktober 1945.

Akan tetapi hingga pelantikan menteri, Soepriyadi tak kunjung hadir menerima mandat itu. Presiden Soekarno pun menulis "Menteri Pertahanan belum diangkat". Tak kunjung hadir, akhirnya Soekarno melantik Imam Muhammad Suliyoadikusumo sebagai Menteri. Sedangkan posisi Panglima TKR kemudian diserahkan kepada Jenderal Soedirman.  

Banyak spekulasi beredar tentang keberadaan Soepriyadi, ada yang mengatakan, dia ditangkap dan dibunuh di suatu tempat rahasia. Ada juga rumor yang menyebut dia melarikan diri ke Trenggalek, kota kelahirannya yang letaknya cukup dekat dengan Blitar. Kondisi geografisnya yang memungkinkan Soeprijadi untuk mengasingkan diri dan bersembunyi.

Ada juga yang memperkirakan Soeprijadi gugur dalam pertempuran yang terjadi 14 Februari 1945 itu. Meski demikian, jasadnya tidak ditemukan. Bahkan sampai sekarang tidak ada yang tahu kepastian kabar Soepriyadi.

Berdasarkan data dari Dinas Sejarah TNI AD disebutkan, tidak menutup pintu kemungkinan Soepriyadi tidak ikut gugur dalam pemberontakan Blitar.

Majalah Vidya Yudha No 12/III/1971 memuat tulisan Mayor Soebardjo yang mengatakan, dia mendengar dari Letnan Sasmita kalau Soepriyadi tewas di Gunung Wilis menjelang datangnya kemerdekaan. Satu regu tentara Jepang menembaknya ketika dia tengah menenggak air minum.

Untuk mengenang perlawanan tentara PETA pimpinan Shodancho Soepriyadi di Blitar, tepat di lokasi perlawanan itu  kini didirikan sebuah monumen. Monumen PETA itu terdiri atas tujuh buah patung tentara PETA dalam posisi siap menyerang. Patung Shodancho Soepriyadi berdiri di tengah monumen sebagai pemimpin perlawanan PETA melawan kekejaman dan penindasan tentara Jepang ketika itu. rmol news logo article

ARTIKEL LAINNYA