Mengenang Konferensi Gabungan Dua Korea, Jalan Menuju Reunifikasi Yang Terkubur

Lukisan konferensi gabungan organisasi-organisasi di Korea Utara dan Selatan pada April 1948/Net

Sejarah terpisahnya Korea tidak terlepas dari sebuah konferensi yang digelar di Pyongyang pada April 1948. Ketika itu, organisasi-organisasi dari Korea Utara dan Selatan berkumpul membahas bersatunya kedua negara.

Konferensi yang diinisiasi oleh Kim Il Sung tersebut hampir berhasil menyatukan Korea dengan menerbitkan Program 10 Poin dari Persatuan Besar Seluruh Bangsa untuk Reunifikasi Negara.

Sayangnya, perseteruan dua blok kekuatan pada saat itu membuat jalan menuju reunifikasi menjadi buntu.

Setengah abad setelah konferensi tersebut, 18 April 1998, Kim Jong Il membuat surat kepada Simposium Nasional. Ia berusaha menggali kembali jalan menuju reunifikasi yang damai bagi seluruh bangsa.

Dalam surat tersebut, Kim Jong Il mengatakan, konferensi gabungan itu merupakan sebuah kemenangan bersejarah pertama. Di mana Korea Utara berhasil mempertemukan komunis, nasionalis, dan berbagai kekuatan politik serta berbagai lapisan masyarakat di Korea. Mereka bersatu untuk tujuan bersama, terlepas dari perbedaan ideologi, pandangan politik, maupun agama.

"Ini juga menunjukkan bahwa reunifikasi mandiri dan damai negara dapat diwujudkan melalui harmoni utara-selatan dan persatuan seluruh bangsa," ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, Kim Jong Il menyadari betapa mendesaknya persatuan nasional, sebagai sebuah bangsa yang sama.

"Bangsa kita, sebagai bangsa yang homogen dengan sejarah dan budaya yang dihormati, sangat patriotik dan kuat dalam semangat korps. Akan tetapi, suatu waktu di masa lalu, bangsa kita menderita kerugian karena kehilangan kedaulatannya karena perebutan kekuasaan di antara para penguasa feodal," tekannya dalam surat tersebut.

Dalam upaya penyatuan bangsa, Kim Jong Il juga menyalakan kembali gagasan persatuan berorientasi Juche yang diupayakan Kim Il Sung. Di mana ada tiga prinsip reunifikasi nasional yang ia tekankan, yaitu kemerdekaan, reunifikasi secara damai, dan persatuan nasional yang besar.

Gagasan tersebut, Kim Il Sung tuangkan dalam program sepuluh poin yang berisi semua orang Korea di utara, selatan, maupun luar negeri harus mencapai reunifikasi nasional yang mandiri dan damai.

"Bangsa kita adalah kekuatan pendorong reunifikasi nasional," tekan Kim Jong Il.

"Saat ini, persatuan besar bangsa kita dan reunifikasi nasional telah menjadi pertanyaan yang lebih mendesak dari sebelumnya," sambungnya.

Di tengah berbagai konfrontasi antara utara dan selatan, Kim Jong Il mengatakan, tidak ada seorang pun bangsa Korea yang berusaha menutup mata untuk persatuan dan reunifikasi nasional.

Walaupun terdapat perbedaan ideologi dan sistem pemerintahan antara utara dan selatan, Kim Jong Il mengatakan, keinginan bangsa Korea untuk bersatu secara keseluruhan jauh lebih kuat dari perbedaan tersebut.

"Mencintai negara dan bangsanya serta menghargai ciri-ciri kebangsaannya adalah psikologi dan sentimen umum dari anggota bangsa," tuturnya.

Guna menggeser hubungan ketidakpercayaan dan konfrontasi dengan hubungan saling percaya dan rekonsiliasi reunifikai merupakan satu-satunya opsi.

Sayangnya, ia mengatakan, selatan memiliki kebijakan anti-konfrontasi utara yang memicu ketidakpercayaan dan permusuhan. Penolakan atas perbedaan ideologi utara membuat rekonsiliasi Korea semakin sulit dilakukan.

Hal tersebut juga tidak dapat dilepaskan dengan adanya pengaru asing. Di mana Korea Selatan, menurut Kim Jong Il memiliki ketegantungan pada pasukan aisng.

Sejak awal, perpecahan Korea muncul karena campur tangan asing dan saat ini persatuan Korea terhambat oleh hal yang sama.

"Bangsa kita telah terpecah menjadi utara dan selatan oleh pasukan asing, dan negara dan bangsa belum bersatu kembali karena dominasi dan campur tangan mereka," tegasnya.
 
Untuk mencapai reunifikasi, utara dan selatan dihadapkan pada fase sejarah baru dengan masalah yang masih sama. Tanpa melawan dominasi dan campur tangan pasukan asing dan kekuatan pemecah belah di dalam dan luar negeri, mustahil untuk mewujudkan persatuan antara utara dan selatan, persatuan besar bangsa, dan penyatuan kembali negara.

"(Meski) jalan menuju reunifikasi masih diliputi banyak kendala dan kesulitan, namun kami optimis dengan masa depannya. Bangsa kita adalah satu, begitu pula negara kita. Bangsa kita akan mencapai persatuan besar di bawah panji reunifikasi nasional tanpa gagal," teguhnya.

Sampai saat ini, setelah 72 tahun konferensi tersebut, reunifikasi Korea masih terus menjadi tujuan utara dan selatan yang belum tercapai.

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

Januari Hitam Di Tanah Azerbaijan
Histoire

Januari Hitam Di Tanah Azerb..

20 Januari 2021 06:15
Kisah Sang Tiran Ivan IV Vasilyevich: Tsar Rusia Pertama Yang Paling Mengerikan
Histoire

Kisah Sang Tiran Ivan IV Vas..

16 Januari 2021 06:10
Histoire: Capitol Hill Telah Diserang Berkali-kali
Histoire

Histoire: Capitol Hill Telah..

08 Januari 2021 08:18
Perjanjian Santa María-Calatrava: Jatuh Bangun Meksiko Raih Kedaulatannya Dari Cengkeraman Spanyol
Histoire

Perjanjian Santa María-Cala..

28 Desember 2020 07:24
Disebut Terlibat Suap KKP, Ngabalin Ngaku Dikeluarkan Dari Grup Keluarga
Histoire

Disebut Terlibat Suap KKP, N..

23 Desember 2020 15:18
Hari Bela Negara, Belanda Rebut Yogyakarta Dalam Agresi Militer Belanda 19 Desember 1948
Histoire

Hari Bela Negara, Belanda Re..

19 Desember 2020 06:38
Ditjenpas Pindahkan 50 Napi Narkoba Dari Aceh Ke Nusakambangan
Histoire

Ditjenpas Pindahkan 50 Napi ..

17 Desember 2020 17:58
Deklarasi Djuanda: Cerminan Sosok Ir. Djuanda, Diplomasi Dan Konsistensi Indonesia
Histoire

Deklarasi Djuanda: Cerminan ..

13 Desember 2020 21:15