Misteri Pembunuhan Olof Palme: Luka Lama Swedia yang Kini akan Diperiksa AI

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 28 Februari 2026, 12:47 WIB
Misteri Pembunuhan Olof Palme: Luka Lama Swedia yang Kini akan Diperiksa AI
PM Swedia Olof Palme (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Nordic Crime Official)
rmol news logo Misteri siapa pelaku pembunuhan Perdana Menteri Swedia Olof Palme masih belum terjawab hingga 40 tahun setelah peristiwa itu terjadi.

Meski penyelidikan besar-besaran telah dilakukan dan satu orang sempat dinyatakan bersalah lalu dibebaskan, identitas penembak yang menewaskan Palme tetap menjadi tanda tanya besar. Ini adalah luka yang dalam sejarah modern Swedia.

Sebelumnya, RMOL pernah mengulas bahwa polisi setempat berhasil mengungkap sebuah nama yang patut dijadikan tersangka. Sayangnya, ternyata si tersangka sudah meninggal dunia karena bunuh diri, 20 tahun lalu.  

"Pelakunya adalah Stig Engstrom," kata Jaksa Penuntut Krister Petersson yang memimpin penyidikan kasus itu mulai 2017, seperti dilaporkan Reuters. 

Palme ditembak mati pada 28 Februari 1986 saat berjalan pulang dari bioskop bersama istrinya di pusat kota Stockholm. Ia ditembak dari jarak dekat tanpa pengawalan ketat, sebuah kejadian yang mengguncang Swedia dan memicu salah satu penyelidikan kriminal terbesar dalam sejarah negara itu.

Malam itu, sekitar pukul 23.21 waktu setempat, ketika pasangan itu berjalan di jalan Sveavägen, pusat kota Stockholm, seorang pria mendekat dari belakang dan menembakkan dua peluru dari jarak sangat dekat. Satu peluru menembus punggung Palme dan menewaskannya hampir seketika; peluru kedua melukai Lisbeth.

Pelaku melarikan diri ke arah terowongan di jalan Tunnelgatan dan menghilang dalam hitungan detik. Senjata pembunuhan - diduga revolver 357 Magnum - tidak pernah ditemukan.


Olof Palme: Tokoh Kontroversial di Panggung Global


Palme bukan sekadar perdana menteri biasa. Ia dikenal sebagai politikus Partai Sosial Demokrat yang vokal dalam isu internasional. Ia mengkritik keras Perang Vietnam, menentang apartheid di Afrika Selatan, serta aktif dalam gerakan pelucutan senjata nuklir.

Sikapnya membuatnya dikagumi sekaligus dibenci. Di dalam negeri, kebijakan kesejahteraannya menuai dukungan luas, tetapi juga perlawanan dari kelompok konservatif dan ekstrem kanan. Di luar negeri, kritiknya terhadap kekuatan besar membuatnya memiliki banyak musuh potensial.

Karena itu, sejak awal, pembunuhan ini langsung dipandang bukan sekadar kejahatan biasa, melainkan kemungkinan aksi politik atau terorisme.


Penyelidikan Terbesar dalam Sejarah Swedia


Penyelidikan kasus ini menjadi yang terbesar dalam sejarah kriminal Swedia. Lebih dari 10.000 orang diperiksa, ratusan pengakuan palsu muncul, dan ribuan dokumen dikumpulkan?"yang akhirnya mencapai sekitar 500.000 halaman.

Pada 1989, seorang pria bernama Christer Pettersson dihukum atas pembunuhan tersebut berdasarkan kesaksian Lisbeth Palme. Namun pada 1990, Pengadilan Banding membebaskannya karena kurangnya bukti fisik yang kuat. Tidak ada senjata, tidak ada bukti forensik yang mengikatnya secara meyakinkan.

Seiring waktu, teori konspirasi berkembang. Di antaranya; dugaan keterlibatan rezim apartheid Afrika Selatan. Tuduhan terhadap Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Keterlibatan kelompok ekstrem kanan Swedia. Operasi rahasia intelijen asing. Sampai pada teori pelaku tunggal dengan motif pribadi.

Namun tak satu pun yang terbukti di pengadilan.


Penutupan Kasus 2020: Nama Baru, Tanpa Vonis


Pada Juni 2020, jaksa Swedia mengumumkan bahwa tersangka utama mereka adalah Stig Engström, seorang desainer grafis yang bekerja di dekat lokasi kejadian dan dikenal sebagai “Skandia Man.” Engström telah meninggal pada tahun 2000, sehingga tidak bisa diadili.

Jaksa menyatakan bahwa bukti mengarah padanya, meskipun tidak ada senjata pembunuhan atau bukti DNA yang definitif. Dengan alasan tersangka sudah meninggal dan tidak ada kemungkinan proses hukum lebih lanjut, kasus resmi ditutup.

Keputusan ini menuai kritik. Banyak pihak menilai bukti terhadap Engström masih bersifat tidak langsung (circumstantial) dan belum cukup untuk menutup misteri sebesar itu.


Kritik atas Penyelidikan Awal


Beberapa komisi independen dan investigasi jurnalistik menemukan bahwa penyelidikan awal pada 1986 dilakukan dengan banyak kekurangan. Disebutkan bahwa lokasi kejadian tidak segera diamankan secara optimal. Saksi tidak diperiksa secara sistematis pada jam-jam awal. Dokumen hilang atau tidak terdokumentasi dengan baik. Sampai pada arah penyelidikan sempat terlalu fokus pada satu teori (PKK), sehingga jalur lain terabaikan.

Jurnalis investigatif Swedia, termasuk peneliti independen Gunnar Wall, menyatakan bahwa hingga kini masih banyak pertanyaan mendasar yang belum terjawab.


AI Masuk ke Arena


Kini, harapan baru muncul dari kecerdasan buatan. Tim dari podcast kriminal Swedia Spar dipimpin oleh Anton Berg mulai menggunakan sistem AI untuk menganalisis ribuan dokumen kasus yang telah dibuka untuk publik. 

Mesin ini dirancang untuk mengindeks dan menghubungkan saksi, lokasi, dan waktu. Mendeteksi inkonsistensi dalam kesaksian. Mengidentifikasi pola yang mungkin terlewat penyidik manusia, serta mengelompokkan dokumen berdasarkan relevansi dan prioritas.

Sekitar 30.000 dokumen digital dapat dianalisis dalam waktu kurang dari satu detik. Untuk membaca seluruh berkas secara manual diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Mantan kepala Pusat Forensik Nasional Swedia, Lena Klasen, menyebut AI sebagai lompatan paradigma dalam investigasi kriminal - lebih besar daripada sekadar komputerisasi arsip.


Rencana Membongkar Misteri dengan AI


Pendekatan AI terhadap kasus Palme dapat dilakukan melalui beberapa tahap strategis. 

Pertama; Rekonstruksi Digital Menyeluruh. 
Semua dokumen,laporan polisi, transkrip interogasi, bukti balistik, peta lokasi, dan arsip media, dikonversi ke dalam satu basis data terstruktur. 

AI kemudian membuat “peta hubungan” (relationship mapping) antara saksi dan posisi mereka, pergerakan tersangka potensial dan waktu kejadian hingga menit demi menit.

Kedua; Analisis Bahasa dan Pola Kesaksian. 
AI dapat mendeteksi perubahan narasi dalam kesaksian seseorang dari waktu ke Waktu, dapat mengidentifikasi kemungkinan kebohongan atau kontradiksi serta membandingkan kesaksian saksi dengan laporan forensik.

Ketiga; Simulasi Skenario Alternatif
Dengan data spasial dan temporal, AI dapat membuat simulasi bagaimana jalur pelarian paling logis, waktu tempuh berdasarkan kondisi malam itu, serta kemungkinan posisi penembak berdasarkan lintasan peluru.

Keempat; Cross-Reference Global.
AI dapat mencocokkan data dengan arsip internasional yang kini sudah terdigitalisasi, seperti arsip diplomatik era apartheid, dokumen intelijen yang telah dideklasifikasi, basis data kriminal lintas negara.

Kelima; Pembelajaran dari Kasus Serupa
Dengan melatih model pada pola pembunuhan politik lainnya, AI dapat mencari kemiripan modus operandi.


Tantangan Besar


Namun AI bukan sihir. Beberapa hambatan tetap ada. Banyak dokumen masih disensor.  Bukti fisik mungkin telah hilang.  Beberapa saksi utama telah meninggal. Serta bias data awal dapat memengaruhi hasil analisis.

Jika data yang dimasukkan salah atau tidak lengkap, AI hanya akan mempercepat kesalahan tersebut.


Harapan Baru di Peringatan 40 Tahun

Bertepatan dengan peringatan 40 tahun kematian Palme, aktivis dan keluarga korban mendorong parlemen Swedia untuk mempertimbangkan pembukaan kembali kasus jika ditemukan bukti baru yang kuat.

Bagi banyak warga Swedia, ini bukan sekadar soal menemukan penembak. Ini soal kepercayaan terhadap sistem hukum dan demokrasi. Pembunuhan seorang perdana menteri terpilih secara demokratis tidak boleh menjadi misteri abadi.

Kini pertanyaannya bukan lagi hanya “Siapa yang menembak Olof Palme?”, tetapi juga "apakah kecerdasan buatan mampu melakukan apa yang gagal dilakukan manusia selama empat dekade?"

Empat puluh tahun setelah dua tembakan di malam musim dingin Stockholm, sejarah mungkin bersiap memasuki babak baru, di mana algoritma mencoba menjawab misteri paling gelap dalam politik Swedia modern. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA
Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA