Tempat Akhir Menutup Mata

Jaya Suprana/Net

PAGEBLUG Corona memberi kesempatan saya untuk merenung berbagai ihwal kehidupan termasuk tentang siapa sebenarnya diri saya sendiri ini.

Sebenarnya saya sudah meyakini bahwa diri saya adalah seorang warga Indonesia titik. Namun akibat ada saja yang menyebut diri saya China maka saya sempat bimbang tentang siapa sebenarnya saya ini.

Anggapan

Saya bertanya kepada ibu saya. Alih-alih menjawab, beliau malah ikut bingung mengenai siapa sebenarnya saya ini. Maka saya bertanya kepada ayah saya. Sambil tersenyum, beliau berusaha menenteramkan sanubari saya dengan penjelasan bahwa memang benar bahwa kakek-nenek-moyang keluarga kami konon berasal dari negeri China.

Maka wajar bahwa ada yang menyebut saya China. Namun ayah menambahkan bahwa pada kenyataan kami sekeluarga adalah warga Indonesia maka beliau setuju keyakinan bahwa diri saya adalah warga Indonesia titik.

Ayah saya meyakini bahwa apa yang namanya anggapan terhadap diri sendiri pada hakikatnya merupakan satu di antara sekian banyak hak asasi setiap insan manusia. Sejauh anggapan terhadap diri sendiri itu tidak merugikan orang lain.

Kenyataan

Fakta membuktikan anggapan bahwa diri saya sebagai warga Indonesia titik sebenarnya tidak terlalu keliru sebab terbukti saya tidak bisa berbahasa China. Meski saya mengagumi Kong Hucu, Lao Tse, Wen Zhengming, Lu Hsun, Sun Yat Sen, Chow En Lay, Chow Yun Fat, Stephen Chow  namun sebagai warga Indonesia titik.

Saya lebih menghormati Bung Karno, Bung Hatta, Pak Dirman, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Jokowi, Kwik Kian Gie, Ki Ageng Suryomentaram, Rendra, Taufik Ismail, Gesang, Ismail Marzuki, Eros Djarot, Christine Hakim, Titiek Puspa, Melly Guslaw,  Rano Karno, GM Sudarta, Pramono, Dwi Kun dll.

Saya lebih berupaya mempelajari kisah Wayang Purwa ketimbang Sam Kok. Saya lebih berupaya menghayati Ojo Dumeh ketimbang Tao Te Ching. Saya lebih menakjubi kesaktian Anoman ketimbang Sun Go Kong.

Sukma saya lebih tergetar ketika menyaksikan kedahyatan Borobudur ketimbang Wanli Changcheng. Lidah saya lebih tergiur rendang ketimbang dim sum.

Saya lebih menggemari pergelaran Wayang Orang ketimbang Opera Beijing. Saya lebih ngefan Didi Kempot ketimbang Jay Chou. Saya lebih mengagumi Susi Susanti ketimbang Zhang Ning.

Sanubari saya lebih terharu ketika mendengar kumandang Indonesia Raya ketimbang Yìyǒngjūn Jìnxíngqǔ.

Tanah Kelahiran

Insya Allah, sebagai warga Indonesia saya diizinkan meninggalkan dunia fana ini bukan di Tanah Leluhur saya namun di Tanah Air Udara saya sebagai Tanah Kelahiran saya yaitu Indonesia.

Pada hakikatnya, harapan saya tidak muluk-muluk namun sekadar sederhana sesuai syair lagu Indonesia Pusaka mahakarya Ismail Marzuki:  Di sana tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua. Tempat akhir menutup mata.

Penulis adalah warga Indonesia cinta Indonesia

Kolom Komentar


Video

Jokowi: Saya Tidak Tahu Sebabnya Apa, Minggu-minggu Terakhir Ini Masyarakat Khawatir Covid-19

Senin, 03 Agustus 2020
Video

FRONT PAGE | CATATAN KAMI, Dr Ahmad Yani

Jumat, 07 Agustus 2020

Artikel Lainnya

Angkamologi Dua
Jaya Suprana

Angkamologi Dua

07 Agustus 2020 22:49
Kemesraan Jerman Dengan China
Jaya Suprana

Kemesraan Jerman Dengan Chin..

06 Agustus 2020 18:32
Mengejawantahkan Empan Papan Secara Empan Papan
Jaya Suprana

Mengejawantahkan Empan Papan..

06 Agustus 2020 09:08
Teka-teki Perbankan Punakawan
Jaya Suprana

Teka-teki Perbankan Punakawa..

05 Agustus 2020 07:37
Angkamologi Satu
Jaya Suprana

Angkamologi Satu

04 Agustus 2020 09:07
Menerawang Oligarki
Jaya Suprana

Menerawang Oligarki

03 Agustus 2020 08:24
Bahasa Angka
Jaya Suprana

Bahasa Angka

01 Agustus 2020 07:54
Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah
Jaya Suprana

Selamat Hari Raya Idul Adha ..

31 Juli 2020 08:38