Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Koes Plus dan Genjer-Genjer

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/jaya-suprana-5'>JAYA SUPRANA</a>
OLEH: JAYA SUPRANA
  • Minggu, 29 Maret 2026, 22:11 WIB
Koes Plus dan Genjer-Genjer
Budayawan Jaya Suprana. (Foto: Dok. Pribadi)
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emake thulik, teka-teka mbubuti genjer
Ulih sak tenong, mungkur sedhot sing tulih-tulih
Genjer-genjer saiki wis digawa mulih
Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
Dijejer-jejer, diuntingi padha didhasar
Emake jebeng, padha tuku nggawa welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah


PADA masa kanak-kanak di Semarang, saya mendirikan sebuah band-bocah bersama teman-teman sebaya. Satu di antara sekian banyak lagu yang kerap kami dendangkan adalah Genjer-Genjer tanpa benar-benar paham makna liriknya karena ditulis dalam dialek Jawa Timuran.

Dan juga tanpa sadar bahwa kemudian lagu merakyat itu dilarang oleh rezim Orba akibat lagu Genjer-Genjer dianggap subversif membahayakan kepentingan nasional.

Bahkan ketika berkunjung ke Phnom-Penh, Kamboja, Presiden Soeharto resmi disambut paduan suara anak-anak Kamboja dengan lagu “Genjer-Genjer” yang bikin Dubes Indonesia untuk Kamboja panik dan minta maaf kepada Pak Harto.

Seperti biasa, pak Harto sebagai The Smiling General hanya tersenyum dan tidak memperpanjang masalah.

Lagu Genjer-Genjer adalah lagu rakyat yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, diciptakan oleh Muhammad Arief pada tahun 1942. Berarti 3 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Lagu ini awalnya merupakan kritik sosial terhadap penjajahan Jepang, menggambarkan kesulitan hidup masyarakat Jawa, terutama petani, yang terpaksa mengonsumsi genjer (Limnocharis flava) sebagai makanan pokok karena kelaparan. Setelah kemerdekaan, lagu ini menjadi populer di kalangan masyarakat dan digunakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai alat propaganda visi dan misi komunisme.

Mujur tak teraih nahas tak tertolak, hal ini membuat lagu Genjer-Genjer seperti Internasionale dikaitkan dengan PKI maka dilarang oleh pemerintah Orde Baru setelah tragedi G30S 1965.

Lirik lagu Genjer-Genjer menceritakan tentang genjer, tanaman yang tumbuh di rawa-rawa dan sawah, yang menjadi makanan rakyat miskin. Lagu ini memiliki makna yang lebih dalam bersuasana kritik kemanusiaan, menggambarkan perjuangan rakyat kecil melawan kesulitan hidup.

Setelah reformasi 1998, larangan terhadap lagu Genjer-Genjer dicabut, dan  mulai dibawakan kembali oleh musisi Indonesia maupun mancanegara, antara lain:
  • Dengue Fever. Grup musik rock Amerika ini mendaur ulang lagu Genjer-Genjer pada tahun 2010 dengan lirik dalam bahasa Khmer.
  • Mesin Sampink. Grup musik reggae dari Mojokerto membawakan lagu Genjer-Genjer pada tahun 2016, sempat ditangkap polisi karena dianggap menyebarkan komunisme. Sebenarnya sebelum G30S 1965, beberapa musisi ternama semisal Bing Slamet dan Lilis Suryani sudah bersemangat mempopulerkan lagu Genjer-Genjer.
Lagu Genjer-Genjer kini bisa didengar dan dinyanyikan secara bebas, meski stigma lagu tersebut masih melekat pada PKI. Riwayat politisasi lagu Genjer-Genjer oleh Orba setara riwayat Koes Plus dipolitisasi sehingga dipenjara Orla atas tuduhan menyebar “musik ngak-ngik-ngok”.

Kedua peristiwa tragis itu merupakan bukti bahwa pada hakikatnya setiap lagu bebas nilai. Yang memberi nilai adalah oleh siapa dan untuk tujuan apa lagu tersebut dinyanyikan dan atas pertimbangan apa penilaian diberikan. rmol news logo article

Penulis adalah Budayawan dan Pendiri Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI)
EDITOR: DIKI TRIANTO

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA