Saya memang yang dari dulu sok pintar padahal goblok, spontan angkat tangan untuk tegas menjawab sama dengan dua puluh, sementara seorang teman sekelas saya yang memang benar-benar pintar menghitung bilang bahwa hasil 2 + 3 X 4 = 14.
Pada saat itu saya yakin bahwa hitungan saya pasti benar namun ternyata menurut ibu guru jawaban yang benar adalah teman saya, yaitu bukan dua puluh tetapi empat belas!
Berhubung saya yakin saya benar, maka saya protes sambil bertanya kenapa 2+3x4 bukan 20 tetapi 14. Ibu guru menjawab bahwa perkalian harus didahulukan ketimbang penambahan.
Saya makin protes sembari berani nekat lanjut bertanya kenapa harus begitu itu. Ibu guru masih sabar menjawab bahwa aturan yang telah disepakati oleh para pakar dan otorita ilmu berhitung di planet bumi sementara itu memang begitu itu.
Saya yang sudah kehabisan perbendaharaan kata untuk bertanya apalagi protes cuma bisa bertanya “Kenapa?!” sambil menggunakan tanda seru di belakang tanda tanya.
Di situ ambang batas kesabaran ibu guru sudah terlanggar di samping beliau juga tidak terlatih menjawab pertanyaan kurang ajar dari seorang murid yang memang kurang ajar sekurang-ajar saya.
Maka ibu guru menghukum saya dengan hukuman harus menulis seratus kali di papan tulis disaksikan seluruh kelas bahwa 2 + 3 X 4 = 14 agar saya kapok membantah aturan matematika yang dogmatis berlaku sebab tidak boleh dibantah. Akibat kalah kewibawaan maupun kalah kekuasaan, pada saat itu saya menyerah kalah maka 100 kali menulis 2 + 3 X 4 = 14 di papan tulis yang sebenarnya sama sekali tidak berdosa di dalam kemelut polemik aritmatikal saya versus ibu guru.
Sejak peristiwa drama kalah debat lawan ibu guru itu sampai masa kini, di lubuk sanubari saya masih dihantui dendam kesumat akibat merasa yakin bahwa saya memang berada di pihak yang benar dengan jawaban 20 ketimbang 14 sebab dua ditambah tiga sama dengan lima sementara lima dikali empat sama dengan memang tidak bisa tidak, suka tidak suka, menurut keyakinan saya adalah dua puluh.
Juga
de facto penambahan berada di depan pengalian lalu kenapa yang berada di belakang justru didahulukan. Seharusnya menurut runutan logika konsisten maupun para konsisten tata krama antri yang berada di depan hukumnya wajib didahulukan. Bukan sebaliknya!
Sebab rumput bergoyang maupun tidak bergoyang juga tidak berkenan memberikan jawaban maka saya hanya bisa mengikhlaskan diri untuk menerima nasib mujur tak teraih, nahas tak tertolak belaka.
Penulis adalah Budayawan dan Pendiri Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI)
BERITA TERKAIT: