WAWANCARA

Ketika Hasil Survei Internal 02 Berbeda Dengan Lembaga Survei Lainnya

Jumat, 12 April 2019, 10:52 WIB

Foto/Net

Mendekati hari pemungutan suara, berbagai lembaga survei kembali mengeluarkan hasil survei mereka, guna memprediksi hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Seperti pada 2014, berbagai lembaga survei ini, secara garis besar, mengeluarkan dua prediksi berbeda. Ada yang mengeluarkan hasil survei dimana Joko Widodo-Ma'ruf Amin menang. Ada juga yang mengeluarkan hasil, dimana Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang menang.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto- Sandiaga Uno pun tak mau kalah. Senin lalu, mereka melontarkan hasil survei yang dilakukan kalangan internalnya, pada akhir Maret hingga awal April 2019. Menurut mereka, survei itu dilakukan di 34 provinsi, dengan jumlah respon­den mencapai 1.440 orang.

Direktur Kampanye BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Sugiono menyatakan, berdasarkan hasil survei inter­nal, elektabilitas pasangan Prabowo-Sandiaga berada di angka 62 persen. Sedangkan elektabilitas pasangan calon nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin, menurut survei BPN, hanya sebesar 38 persen. Menurut survei BPN, tidak ada responden yang tidak menjawab atau merahasiakan jawabannya.

Hasil ini pun menimbulkan kontroversi. Pasalnya, hasil tersebut sangat berbeda dengan hasil dari sejumlah lembaga survei.

Misalnya Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil survei pada Maret 2019, yang hasilnya pasangan Jokowi- Ma'ruf Amin diprediksi meraih perolehan suara sebesar 56,8-63,2 persen, sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno diprediksi mendapat perolehan suara 36,8 persen-43,2 persen. Lembaga survei yang mengunggulkan paslon nomor urut 02, seperti Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) hanya menyatakan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno unggul tipis, yakni 47,59 persen semen­tara Jokowi-Maaruf Amin 45,37 persen.

Lantas, bagaimana penjelasan BPN terkait hasil surveinya? Metodologi apa yang digunakan, dan seperti apa demografi respondennya sehingga hasilnya bisa berbeda dengan ke­banyakan lembaga survei? Bagaimana pula lembaga survei memandang hasil ini? Berikut penuturan lengkapnya.

Ardian Sopa:  Kemajuan, Sudah Percaya Hasil Survei
  Bagaimana penilaian Anda terkait hasil survei tersebut? Pertama, Alhamdulillah jika akhirnya BPN percaya lembaga survei. Karena dari kemarin, mereka meragukan survei. Dia bilang itu cuma lucu-lucuan, partisan dan sebagainya. Tapi karena sekarang BPN sudah menggunakan hasil survei, be­rarti itu sudah suatu kemajuan. Meskipun, tidak semua di BPN melihat survei sebagai sebuah rujukan.

Penilaian berikutnya?
Ini yang kedua, memang untuk kita percaya survei atau tidak, itu kan bisa dilihat dari track recordnya. Track record ini pun sekarang sangat mudah dicari ya, ting­gal ketik nama lembaganya, kemudian lihat apakah dia sudah punya track record di pemilu sebelumnya atau tidak. Jangan-jangan, dia baru muncul sekarang saja. Kalau baru muncul sekarang, ini kan juga banyak pertanyaan ya, apa kepentingannya misalnya.

Terlepas dari itu, hasil survei lembaga survei berbeda-beda...
Begini, kita bisa lihat dari waktu pelaksanaannya, sama atau tidak. Kalau waktunya berbeda, mungkin saja akan ada perbedaan hasil, karena kondisi di masyarakat itu kan selalu dinamis. Atau, kita bisa lihat dari metodologinya, sama atau tidak. Jika waktunya dan metodologinya sama, berarti tinggal kredibilitas dari lem­baga itu sendiri.

Sederhananya, bagaimana men­jalankan kredibilitas itu?
Melakukan survei itu secara ketat atau tidak. Misalnya, melalui mekan­isme cross check dan lain sebagainya, sehingga error sampling dan human error yang terjadi itu bisa ditekan. Kalau itu sudah dilakukan, hasilnya tentu akan lebih bisa dipercaya.

Tak mudah melakukan survei itu. Untuk lembaga survei yang baru, tentu butuh melewati rangkaian trial and error dulu. Jangan sampai percaya begitu saja pada hasil yang eror.

Metodologi survei BPN tidak diketahui, waktunya saja yang pasti, yaitu akhir Maret sampai awal April. Anda ingin bilang tidak akurat?
Dalam konteks ini, kami tak tahu akurat atau tidaknya. Pertama, kami tidak tahu, apakah mereka menerapkan standar yang ketat atau tidak. Kedua, jami juga tak tahu demografi sample­nya. Jangan-jangan, mereka ambil sampelnya di kalangan mereka sendiri. Makanya, hasilnya begitu, karena ini dilakukan mereka yang ada konflik kepentingannya. Beda kalau ini di­lakukan lembaga, yang selama ini rutin mengeluarkan hasil survei. Karena, itu juga mempertaruhkan reputasi mereka. Mereka akan lebih menjaga hasil sur­veinya, dari pada jika tim sukses yang mengeluarkan hasil itu.

Kenapa Prabowo-Sandi bisa din­yatakan meraih 60 persen suara?
Saya tidak tahu ya, tapi kalau 60 persen itu sudah pasti menang, karena hanya ada dua calon, jadi sisanya hanya 40 persen. Bahkan kalau dia lebih dari 60 persen, 61 persen misalnya, itu sudah menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah pilpres langsung di Indonesia.

Mungkinkah seperti itu?
Untuk bisa mencapai persentase segitu dari sekarang, yang berada di angka 40 persenan, buat kami itu perlu kerja yang sangat ekstra ya. Lagi-lagi kembali kepada kapan di­lakukannya survei itu, metodologinya seperti apa, lalu seberapa kuat mereka menekan sampling error dan human error yang bisa terjadi.

Bagaimana hasil survei terbaru LSI?

Survei kami dilakukan pasca debat ketiga, yaitu 18-25 Maret 2019. Tapi kami melakukan survei bukan hanya kemarin itu ya, dari bulan Agustus 2018. Setiap bulan itu kami melakukan survei, sampai sekarang jelang pemilihan ini. Nah, berdasarkan semua hasil survei itu, trennya itu margin kemenangannya masih mengunggulkan Pak Jokowi, dibandingkan Pak Prabowo.

Perbandingannya?
Perbandingan angkanya 10-20 persen, atau dua digit. Pada survei Maret itu, kami menggunakan range, karena saat pilpres berlangsung, tidak akan ada lagi swing voter ya. Nah, ketika swing voter itu kami hilangkan, ke­temulah persentase untuk Pak Jokowi itu di angka 56-63 persen. Sementara Pak Prabowo di angka 36-43 persen. Sehingga, dari keadaan ini, Pak Prabowo kami yakini masih tertinggal oleh Pak Jokowi.

Menurut LSI, tak mungkin Prabowo-Sandi sampai 60 persen seperti hasil survei BPN itu?
Survei kami tidak memperlihatkan hal tersebut. Begitu juga dengan lem­baga survei lain, yang memang sudah punya track record pada 2004, 2009, dan 2014. Hampir semua lembaga survei mainstream itu masih melihat Pak Jokowi yang unggul, dibandingkan Pak Prabowo.

Sugiono: Terbukti di Jakarta, Jabar, Jateng, Sumut

Berbagai lembaga survei menyata­kan, pasangan 01 yang menang...

Memang, sejumlah lembaga survei menyatakan, pasangan 02 selalu berada di bawah pasangan 01. Hal tersebut sesuatu yang menurut kami tidak tercermin dari apa yang kita lihat di lapangan dan sejumlah kampanye 02. Pasangan 02 ini se­lalu dikatakan berpacu untuk bisa mengejar ketertinggalannya.

Apakah masuk akal jika seorang petahana kesulitan memenuhi tem­pat-tempat kampanye. Saya kira ini agak bertentangan dengan logika. Karena seharusnya, jika apa yang digambarkan survei itu benar, tentu tidak sulit untuk petahana menghadirkan massa yang besar. Paling tidak memenuhi tempat kampanyenya.

Berapa persen hasil survei internal untuk pasangan 02?
Sebelumnya, penting saya sampaikan, ada beberapa lem­baga survei yang cukup objektif dan selaras dengan perjalanan kam­panye kami belakangan ini. Sebagai contoh, survei Rumah Demokrasi periode 19 Februari sampai 1 Maret 2019 mengatakan, posisi Prabowo- Sandi 45,45 persen sedangkan Jokowi-Ma’ruf 40,3 persen. Survei ini dilakukan sebelum masa kampa­nye terbuka.

Survei lainnya?

Survei New Indonesia juga meme­nangkan pasangan 02. Berikutnya Bimata Politica Indonesia periode 23-29 Maret 2019 di awal kampanye terbuka, persentase Prabowo-Sandi mencapai 55,19 persen sementara Jokowi-Ma’ruf 36 persen.

Selanjutnya?
Survei Indonesia Development Monitoring (IDM) periode 14-29 Maret 2019, Prabowo-Sandi 57,6 persen dan Jokowi-Ma’ruf 38,76 persen. Lalu, survei Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) juga di angka yang kurang lebih sama. Pun survei Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) periode 31 Maret sampai 2 April memenangkan kami.

Ini adalah beberapa lembaga survei yang tidak mainstream, namun luput dari ulasan media maupun perhatian masyarakat. Akan tetapi, mencer­minkan kenyataan yang sebenarnya terjadi dalam kampanye-kampanye Prabowo-Sandi di beberapa tempat.

Bagaimana track record mereka?
Beberapa lembaga survei tidak mainstream ini, punya track record di beberapa pilkada. Mulai dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Survei yang mereka hasilkan dalam kajiannya itu, mencerminkan hasil survei seperti ha­sil pemilihan yang sebenarnya. Yang sebenarnya terjadi itu, kami meyakini bahwa pasangan 02, sudah berada jauh di atas pasangan 01.

Tapi, sejumlah kalangan meragu­kan survei internal BPN...

Lho, keraguan itu urusan mereka ya. Itu angka kita yang kita temukan. Kenapa saya harus melayani itu kera­guan. Hal itu adalah taksiran yang kita lakukan. User kita itu adalah BPN, bukan mereka.

Tim Kampanye Nasional Jokowi- Ma'ruf juga mempertanyakan hasil survei internal Anda. Bagaimana itu?
Survei tidak ada margin of error, apalagi saya tidak pernah beber­kan itu. Terlebih saya juga sempat mengatakan, misalnya ada yang perlu, ya kita akan ambil satu momen sendiri khusus untuk itu.

Wilayah mana saja yang sudah kuat basis pasangan 02?

Saya sudah katakan, antara lain Jabar dan Sumut. Sementara Bali dan Nusa Tenggara Timur kami harus kuatkan.

Bagaimana meyakink­an masyarakat bahwa survei internal Anda terbukti kredibelitasnya apa?
Lembaga survei yang telah disebutkan, punya track record, dilihat di beberapa pemilihan kepala daerah. Kemudian, kami juga membandingkan. Kami melihat yang terjadi di lapangan. Saya kira mereka menyampaikan hal yang positif.

Namun jika pasangan 01 yang menang, bagaimana itu?

Jangan berandai-andai. Kita lihat saja nanti.

Secara mental, apakah pasangan 02 siap menerima kekalahan?

Kami tidak akan kalah. Kami punya keyakinan yang besar. Apalagi, rakyat itu animonya besar untuk pasangan 02. Jangan sampai ada kecurangan. Kalau curang akan berhadapan den­gan kekuatan rakyat.

Maksudnya?

Ya, kalau misalnya sebegitu besarnya animo masyarakat dan sebegitu besarnya keinginan masyarakat untuk perubahan, terus ada yang ingin mencurangi pemilu ini, saya yakin masyarakat juga tidak akan mau dong hak-haknya dicuri dan dibohongi.

Kolom Komentar


loading