Pimpinan MPR: Peserta Pemilu Harus Siap Menang Dan Kalah

Sabtu, 16 Februari 2019, 07:35 WIB | Laporan: Ruslan Tambak

Wakil Ketua MPR RI Muhaimin Iskandar/Humas MPR

. Wakil Ketua MPR RI Muhaimin Iskandar menegaskan, jelang pemilu 2019 yang semakin dekat persaingan diantara kandidat dan tim sukses semakin kuat.

Salah satu buktinya adalah makin banyak bermunculan politik identitas serta simbol-simbol keislaman. Seperti  kegiatan keagamaan yang sengaja diekspos oleh kedua kandidat.

Karena itu, Muhaimin mengapresiasi dan menyambut baik diskusi-diskusi tentang keislaman yang digagas Islam Nusantara Center (INC). Dia berharap kegiatan tersebut terus berkembang menjadi pusat kajian dan pemikiran Islam.

"Saat ini, jelang pemilu April 2019, kajian seputar Islam dan NKRI, menemukan momentum yang sangat tepat. Apalagi, gerakan keislaman dan simbol-simbolnya turut terdongkrak selama tahun politik ini," kata Muhaimin menambahkan.

Pernyataan itu disampaikan Muhaimin saat mengantarkan diskusi yang diselenggarakan INC. Acara tersebut berlangsung di rumah dinasnya Komplek Widya Chandra, Jakarta, Jumat (15/2). Ikut hadir pada acara tersebut, Ketua Fraksi PKB MPR RI Jazilul Fawaid.

Dua orang narasumber ikut menyampaikan pemikirannya untuk membahas tema "Jejak Politik Santri Menyatukan Negeri". Keduanya adalah, sejarawan Zainul Milal Bizawie atau Gus Milal dan Ahmad Ginandjar Sya'ban, direktur INC.

Sayangnya menurut Muhaimin yang juga Panglima Santri, keberadaan Islam Nusantara sendiri belum sepenuhnya diterima di seluruh Indonesia. Bahkan masih ada beberapa daerah yang menolak kehadiran Islam Nusantara. Antara lain, Sumatera Barat dan Riau.

"Ini adalah tantangan bagi Islam Nusantara agar bisa mengembangkan sayap dan bisa diterima semua kelompok masyarakat dengan damai. Apalagi, perbedaan antara NU dan Muhammadiyah sudah semakin kecil," ucapnya.

Dinamika keislaman yang terjadi pada tahun politik ini kata Muhaimin masih cukup kondusif. Asalkan, tidak terjadi  pendangkalan dan kekeringan politik. Dalam hal ini tidak takut kalah dan tidak takut menang.

"Kedua belah pihak, baik yang menang atau kalah, harus mampu menahan diri agar tidak menimbulkan ancaman bagi keutuhan bangsa dan negara," tutupnya.

Sementara itu Ahmad Ginandjar Sya'ban dalam uraiannya antara lain menyatakan, jauh sebelum lahirnya Budi Utomo, para ulama, sudah mempersatukan bangsa Indonesia, melalui syiar Islam. Bahkan beberapa ulama sempat menjadi tokoh di luar daerahnya, sehingga menimbulkan ikatan kebatinan antara daerah asal dan daerah tujuan. Karena itu, saat gagasan Budi Utomo muncul, perbedaan yang ada demikian Mudha dipersatukan.

"Kalau tidak didahului oleh kiprah para ulama, tentu ada banyak perbedaan yang muncul saat berdirinya Budi utomo, dan itu akan menyebabkan kesulitan tersendiri," kata Ahmad Ginandjar menambahkan. [rus]

Kolom Komentar


loading