Kaedah-kaedah usul penting di dalam upaÂya membaca perubahan sosial yang berpotensi melahirkan perubahan hukum, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah kaedah:
Al-hukm yaduru ma'a illatih wujudan wa 'adaman (HuÂkum mengikuti illatnya, baik mengadakan atau meniadakannya). Jika terjadi sesuatu kondisi di dalam masyarakat menuntut adanya hukum unÂtuk mengaturnya, maka di situ diperlukan adanÂya hukum. Jika kondisi itu sudah hilang maka hukum yang diadakan untuk mengaturnya juga otomatis hilang.
Menurut Imam Al-Syatibi di dalam kitab Al- Muwafaqat-nya, kaedah-kaedah ushul dalam agama bersifat definitif (
qath'iyyah), bukanÂnya hipotetis (
dzanniyyah), karena dalil-dalil tersebut didasarkan kepada semangat umum (
kulliyyÄt) syariah yang juga bersifat
qath'iyyah. Rekayasa sosial yang bersifat kebangsaan di negeri ini perlu dicarikan legitimasi ushuliyyah agar menjadi lebih efektif di dalam pikiran dan hati warga bangsa, khususnya umat Islam. Jika pendekatannya hanya melulu pendekatan huÂkum positif, tanpa mendapatkan legitimasi ushÂuliyyah dikhawatirkan tidak atau kurang legiÂtimed di dalam masyarakat.
Menarik untuk diperhatikan, agenda-agenda Muktamar dan Munas NU selalu juga digunakan untuk membahas persoalan aktual (
waqi'iyyah), terutama menyangkut masalah-masalah yang sifatnya kontroversi (
dharuriyyah). Hasil keputuÂsan Muktamar dan Munas NU terhadap persoÂalan yang muncul menenangkan hati warganÂya. Bahkan selalu dijadikan dalil bagi warganya di dalam menjalankan kehidupan sosial keÂmasyarakatan. Tidak heran jika keberadaan Muktamar dan Munas NU selalu dinanti dan diÂminati para warganya.
Kaedah ushul sesungguhnya tidak identik dengan ushul fikih, tetapi keduanya tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam penerapan hukum dari dalil-dalil yang ada mekanisme ushul fikih bekerja dan salahsatu kekuatan dan sarananÂya ialah kaedah-kaedah ushul. Para ulama, khususnya yang tergabung di dalam majlis-maÂjlis fatwa, tentu menguasai persoalan ini. Amat riskan seseorang tidak mengerti
ushul fikih diÂtanya oleh masyarakat tentang suatu persoÂalan terus memberikan jawaban dengan kesÂimpulannya sendiri setelah membaca ayat atau hadis. Penerapan ayat atau hadis tidak serta merta harus diterapkan dalam setiap kasus. Ayat atau hadis yang dilibatkan terlebih dahuÂlu harus difahami apa sabab nuzul atau sabab wurudnya, apakah ayat atau hadis itu bersifat
'am atau khash, muthlaq atau
muqayyad, ApakÂah ayat atau hadis itu tidak ada yang men-
takhÂshih-nya?
Untuk menyiapkan kaedah-kaedah ushul terÂhadap Fikih Kebhinnekaan memang sebaiknya ada semacam konsorsium di antara para ahli fikih dibantu dengan kelompok ahli dalam disiÂplin ilmu yang relevan dengan persoalan yang muncul di dalam masyarakat. Apa yang pernah diproposalkan para ulama NU dan MuhammadiÂyah, tentang perlunya fikih Islam ala Indonesia, sesungguhnya gagasan yang sudah lama diÂusulkan oleh ulama dan cendekiawan Islam InÂdonesia terkemuka padamasanya, yaitu Prof. Dr. TM. Hasbi Asshiddiq, guru besar IAIN SuÂnan kalijaga Jogyakarta yang kini sudah beralih menjadi UIN. Gagasan yang sama juga pernah dilontarkan mendiang Mantan Menteri Agama, Prof. Munawir Syazali yang lebih dikenal denÂgan Reaktualisasi Pemikiran Islam. Hanya saja gagasan-gagasan mereka belum dikonkretkan dalam secara sistematis.