Informasi tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Biro Informasi Utama Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait.
Kepergian Ryamizard menjadi kehilangan besar bagi dunia militer dan panggung politik nasional. Sosok yang dikenal berkarakter keras, tegas, dan vokal dalam menjaga kedaulatan negara itu merupakan salah satu perwira tinggi paling berpengaruh dalam sejarah modern TNI Angkatan Darat.
Titisan Darah Militer
Ryamizard Ryacudu lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 21 April 1950. Ia merupakan putra dari Mayor Jenderal TNI Musannif Ryacudu, seorang tokoh militer legendaris yang sangat berpengaruh di wilayah Lampung dan merupakan orang dekat Presiden Soekarno.
Jejak sang ayah inilah yang menginspirasi Ryamizard muda untuk meniti karier di dunia kemiliteran.
Karier militernya dimulai setelah ia lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) pada tahun 1974. Sebagai perwira muda Korps Infanteri, Ryamizard langsung diterjunkan ke berbagai penugasan operasi yang menguji mental dan kemampuan tempurnya.
Pada awal kariernya, ia bertugas sebagai Komandan Peleton (Danton) di Kodam XII/Tanjungpura (1976). Rekam jejak lapangan yang gemilang membawanya menempati berbagai posisi strategis, mulai dari Komandan Kompi (Danki), staf operasi batalyon, hingga dipercaya menjadi Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 305/Tengkorak (1990-1993) di bawah jajaran Kostrad.
Ia terlibat langsung dalam operasi militer di Kalimantan serta sejumlah daerah rawan konflik lainnya.
Melesat di Era Transisi PolitikNama Ryamizard mulai dikenal luas publik nasional saat dipercaya menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya pada tahun 1999. Setahun berselang, di tengah situasi nasional yang masih bergejolak pasca-Reformasi, ia dipromosikan menjadi Panglima Kodam Jaya (2000).
Jabatan ini sangat krusial karena ia bertanggung jawab penuh atas keamanan objek vital dan stabilitas wilayah Ibu Jakarta pada masa transisi politik yang sangat sensitif.
Kariernya kian menanjak saat ditunjuk sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) periode 2000-2002. Jabatan ini merupakan salah satu posisi paling prestisius di lingkungan TNI AD karena membawahi kekuatan tempur taktis dan strategis terbesar.
Berkat kepemimpinannya yang solid di Kostrad, Ryamizard kemudian dipercaya menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, sebelum akhirnya dilantik oleh Presiden Megawati Soekarnoputri menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 4 Juni 2002.
Panglima Perang Pengawal NKRISebagai KSAD, Jenderal Ryamizard memimpin Korps Angkatan Darat hingga 18 Februari 2005. Masa kepemimpinannya diwarnai oleh eskalasi politik dan keamanan dalam negeri yang tinggi, termasuk penanganan operasi militer berskala besar di Aceh (Darurat Militer) serta pemulihan stabilitas di Papua.
Pada penghujung masa jabatannya sebagai KSAD, nama Ryamizard sempat diajukan oleh Presiden Megawati sebagai kandidat kuat Panglima TNI ke DPR RI. Namun, seiring dengan bergantinya tampuk pemerintahan ke tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), surat pencalonan tersebut ditarik kembali, dan proses estafet kepemimpinan TNI pun berubah haluan.
Karier PolitikSetelah pensiun dari dinas aktif militer pada tahun 2005, Ryamizard tidak lantas melupakan isu kebangsaan. Ia tetap aktif di ruang publik menyuarakan pandangannya mengenai pertahanan negara, bahaya laten terorisme, dan ancaman nyata terhadap ideologi Pancasila.
Panggung politik formal akhirnya menyambut kembali sang jenderal pada tahun 2014. Presiden Joko Widodo menunjuk Ryamizard Ryacudu sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) dalam Kabinet Kerja periode 2014-2019. Ia resmi dilantik pada 27 Oktober 2014, menggantikan Purnomo Yusgiantoro.
Selama lima tahun memimpin Kementerian Pertahanan, Ryamizard menggebrak dengan sejumlah kebijakan strategis:
- Modernisasi Alutsista: Mendorong percepatan peremajaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI di tiga matra secara signifikan.
- Kemandirian Industri Pertahanan: Memperkuat kapasitas BUMN pertahanan (seperti PT Pindad, PT PAL, dan PT DI) agar Indonesia tidak ketergantungan pada produk luar negeri.
- Program Bela Negara: Mencetuskan dan menggalakkan program kesadaran Bela Negara secara nasional untuk menangkal radikalisme di kalangan generasi muda.
- Diplomasi Pertahanan: Memperkuat kerja sama pertahanan multilateral, termasuk menginisiasi kerja sama patroli maritim trilateral (Indomalphi) antara Indonesia, Malaysia, dan Filipina di Laut Sulu untuk memberantas perompak dan kelompok teroris Abu Sayyaf.
Rekam jejak, dedikasi, serta pengabdian yang ditorehkan selama lebih dari tiga dekade di dunia militer dan pemerintahan ini akan tercatat dengan tinta emas sejarah pertahanan Indonesia.
Selamat jalan, Jenderal!
BERITA TERKAIT: