Acara kerja sama antara Perpustakaan MPR dengan Penerbit Kakilangit Kencana itu dihadiri banyak pihak.
Mulai dari anggota MPR dari Fraksi Partai Gerindra Muhammad Syafii, anggota MPR dari Fraksi Nasdem Akbar Faizal, dan penulis Noorca M. Massardi, Rayni N. Massardi, dan Jodhi Yudhono.
Buku ketiga penulis yang berjudul: "Hai Aku", "Daun Itu Mati", serta "Paijo dan Paijah", juga ikut dibedah.
Kepala Biro Humas MPR Siti Fauziah dalam sambutan mengatakan, salah satu tugas MPR adalah melakukan sosialisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
"Metoda sosialisasi itu disebut beragam dan acara yang rutin dilakukan di Perpustakaan MPR itu adalah salah satu bentuk sosialisasi. Sosialisasi Empat Pilar MPR bisa juga lewat puisi seperti acara pada hari ini,†ujarnya.
Siti menjelaskan, mengatakan Perpustakaan MPR terbuka untuk umum. Dia juga berharap semua kegiatan yang digelar di perpustakaan bisa memberi manfaat kepada masyarakat.
Sementara itu, Politisi Nasdem, Akbar Faizal mengatakan, acara seperti diharapkan lebih sering digelar.
Menurutnya di gedung parlemen harus diisi dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan. Ia membandingkan gedung parlemen di Inggris dijaga seperti dahulu sehingga anggota parlemen di sana dalam bertutur kata menjujung tinggi kebudayaan.
"Untuk itu sering bikin acara, kalau perlu ada teater terbuka,†paparnya.
Kehadiran dua anggota MPR dalam acara itu untuk membacakan puisi. Sebelum membaca puisi, Muhammad Syafii mengatakan dirinya biasa membaca doa.
"Sekarang disuruh membaca puisi. Jadi harap maklum bila puisi saya nanti seperti membaca doa,†tuturnya dengan tersenyum.
Dalam bedah buku dikupas, "Daun Itu Mati" karya Rayni N. Massardi merupakan "graphic short stories" mengisahkan 7 cerita pendek dan 20 puisi, di mana seluruh kisahnya memiliki benang merah perihal perjuangan manusia mengatasi ketakberdayaannya di tengah gempuran kekerasan hidup yang datang bergelombang.
Hampir semua cerpen bernada gelap, menuturkan renungan terdalam batin manusia yang terpinggirkan. Buku ini dimaknai gambar-gambar atau ilustrasi karya Christyan A.S.
Sedang "Paijo dan Paijah" mengisahkan tentang keluarga urban yang datang dari Surabaya dan mencari penghidupan yang lebih baik di Jakarta. Pergumulan pantang menyerah dari sebuah keluarga kecil: bapak, ibu, dan anak semata wayang mereka.
"Hai Aku" merupakan karya kedua Noorca M. Massardi. Hadir dalam puisi ini adalah waktu yang bersandar pada Senin hingga Minggu.
Pilihan hari sebagai penanda "Hai Aku" tidak semata merujuk pada momen puisi alit itu diciptakan, melainkan juga menggambarkan pengalaman sang aku, lirik terkait peristiwa keseharian yang dialami sekaligus mengajak pembaca membangun asosiasi, segugusan citraan, cermin penghayatan sang creator pada kejadian terpilih.
[sam]
BERITA TERKAIT: