Snack yang mendapat soroÂtan karena dianggap porno itu, diproduksi di sebuah rumah dua lantai. Rumah ini terletak di Gang Masjid, Jalan Muchtar Raya RT 01/08 Nomor 44, Sawangan Baru, Depok, Jawa Barat. Tepatnya di depan Masjid Arrahman yang berada di sebuah perkampungan, dekat Komplek Sawangan Permai.
Bangunan rumah itu tampak paling menonjol di antara ruÂmah-rumah lain di kampung tersebut. "Oh, rumah yang buat Mie Bikini ya? Rumahnya di depan masjid. Atapnya bisa kelihatan dari sini. Itu lho yang paling gedong sendiri di situ," kata warga tentang rumah Pertiwi Darmawanti Oktavia alias Tiwi, pembuat snack Bikini.
Rumah dua lantai itu mengusung konsep bangunan modern. Fisik bangunan sekitar 15×20 meter. Rumah tersebut dikelilingipilar besar berwarna merah bata. Dinding rumah ini berwarna kuninggading dan putih, sedangkan daun pintu dan jendela berwarna putih. Sejumlah lampu hias di bagian pilar turut memperindah rumah tersebut.
Bangunan tersebut semakin terlihat megah dengan keberadaan balkon di lantai dua. Balkon tersebut berada di bagian depan dan belakang rumah. Balkon rumah itu dikelilingi pagar besi bercat merah dengan pegangan kuning emas.
Dekat balkon yang ada di depan, terdapat tempat untuk menjemur pakaian yang sekaliÂgus menjadi atap garasi. Selain itu, sebuah antena parabola berdiri kokoh di antara celah atap rumah berlapis genteng cokelat tua ini.
Ayahanda Tiwi, Sihabudin, dikenal warga sekitar sebagai pengusaha budidaya ikan mas. Sang ayah membuka usaha budidaya ikan mas di rumah tersebut dan beberapa tempat lain. "Tempatnya saya kurang tahu," ujar Nasam, Ketua RT/RW 01/08, Kelurahan Sawangan Baru ketika berbincang dengan
Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut dia, warga tidak mengetahui kalau selama lima bulan ini Tiwi memproduksi snack Bikini di rumahnya. Padahal, sejak Maret, Tiwi sudah menjual sekitar 11.000 bungkus bihun kremes Bikini melalui jalur online.
"Kalau usaha bapaknya Tiwi, saya dan semua warga tahu. Kalau usaha Tiwi saya sama sekali tidak tahu, warga sini juga enggak. Soalnya dia tidak pernah izin akan buka usaha atau pabrik di rumahnya," kata Nasam.
Karena itu, ketika petugas BPOM Bandung bersama Polresta Depok mendatanginya untuk minta didampingi saat menggerebek rumah Tiwi, Nasam mengaku sangat terkejut. Dia tidak menyangka ada usaha ilegal di rumah tersebut.
"Saya kaget, karena dibilang ada usaha ilegal di rumah Tiwi. Saya kira usaha ayahnya, tak tahunya Tiwi yang usaha mie camilan," ucapnya.
Nasam menuturkan, dirinya mengetahui adanya peredaran mie Bikini yang dianggap mereÂsahkan, karena gambar dan kata-kata di kemasan produknya, dari berbagai media. Dia tahu snack tersebut ramai di Bandung. Tapi, dia tidak menyangka camilan tersebut diproduksi warganya.
"Saya pikir yang buat orang Bandung. Nggak nyangka ternyata yang buat warga saya, si Tiwi orangnya itu," tuturnya.
Menurut Nasam, Tiwi dikenal anak yang baik, serta cantik dan pintar. Namun, Tiwi jarang bergaul dengan warga yang ada di kampung tersebut. Pasalnya, dia tidak tinggal di rumah terseÂbut. "Saya tahunya dia kuliah di Bandung dan ngekos di sana."
Pernyataan Nasam diamini tetangga samping rumah Tiwi, Syaiful. Dia mengenal ayah Tiwi sebagai sosok yang baik. Sihabudin juga disebut memiliki tempat pemancingan tak jauh dari rumahnya. Tiwi sekeluarga juga diketahui ramah dan tidak pernah neko-neko.
"Pak S dan keluarganya saya kenal baik-baik saja. Mereka sekeluarga orang lama di sini, taÂhun 90-an sudah di sini. Mereka tidak pernah mencari masalah, kalau ketemu juga menyapa," ceritanya.
Dia mengaku tidak mengeÂtahui, Tiwi dan keluarganya memproduksi Snack Bikini di rumah mereka. Sebab, Tiwi jarang terlihat di lingkungan rumahnya, karena lebih sering berada di Bandung. Perempuan tersebut hanya sesekali terlihat pulang ke rumahnya.
"Tahunya mereka ada usaha bikini-bikini gitu dari berita. Selama ini nggak kelihatan kalau rumah itu jadi pembuat snack," tandasnya.
Ide Bikini Hasil RembukanSementara itu, Pertiwi Darmawanti Oktavia alias Tiwi menerangkan, awal terbentuknya bikini snack adalah saat mendapat tugas dari sekolah bisnis yang digelutinya. Nama project-nya adalah home bussiness, yaitu membuat produk sendiri dari hasil belanja barang, menÂgolahnya, dan mengemasnya. Tugas tersebut dikerjakan secara berkelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang.
"Pada saat berembuk, saya memberikan ide membuat bihun goreng. Ide itu saya dapat karena di dekat rumah saya ada yang menjual seperti itu, dan banyak yang suka. Setelah semua ide dicoba, semua setuju dengan ide saya karena bihun goreng lebih mudah diproduksi," terang Tiwi melalui suratnya.
Mahasiswi berusia 19 tahun ini menjelaskan, ide untuk nama Bikini tercetus begitu saja saat rembukan. Sementara untuk desainnya, gambar bikini dipilih karena untuk menyamakannya dengan nama produknya yang terpilih lebih dulu. Mereka tidak berfikir kalau gambar tersebut termasuk pornografi, karena mereka hanya berpikir bikini adalah baju renang.
"Kemudian untuk slogan 'reÂmas aku' diberikan oleh dosen mata kuliah marketing. Kata 'reÂmas aku' dimaksudkan meremas isi kemasan tersebut sebelum dimakan. Makanya, kata "remas aku" digambarkan ke arah snack yang dipegang gambar di
packÂaging," jelasnya.
Tiwi memaparkan, dirinya mengerjakan project tersebut di salah satu kosan temannya di Geger Kalong, Bandung. Saat project berlangsung, Bikini hanya terjual 2.100 bungkus. Setelah project selesai dan ternyata masih banyak yang ingin memÂbeli produknya, pihaknya sempat menjual brand tersebut kepada kakaknya sendiri.
"Setelah dibeli, belum ada produksi lagi, karena tidak ada yang mengerjakannya. Setelah saya selesai dari sekolah itu, saya membeli lagi brand terseÂbut. Kakak saya pun setuju untuk menjualnya kembali," paparnya.
Tiwi mengungkapkan, pada beberapa bulan awal, pihaknya belum memproduksi Mi Bikini tersebut. Baru pada April 2016, pihaknya memproduksi 1.000 bungkus Mi Bikini. Pada Juni, produksinya ditingkatkan menÂjadi sekitar 10.000.
Produksinya tidak sekaligus, hanya 2.000 kemasan per bulan. Sampai bulan Agustus ini, yang terjual sekitar 6.000 bungkus. "Sebelum produk ini diberitaÂkan media, saya sudah berniat untuk mengganti desain Bikini. Tapi karena jumlah packaging yang masih lumayan banyak, jadi saya berniat menggantinya setelah stock yang ada habis. Ternyata, sebelum saya sempat mengganti desain, media sudah heboh memberitakannya di tv, radio, sosmed, dan lain-lain," ucapnya.
Terkait masalah perizinan, Tiwi sudah berniat untuk mendaftarÂkan produknya. Namun karena ketidaktahuan cara mengurusÂnya, pihaknya belum melakukan itu. Label halal yang ada di produk tersebut, menurut Tiwi, hanya logo halal biasa. Hal itu dia lakukan karena banyak konsumen yang menanyakan kehalalan produk tersebut.
"Bukan label halal yang dikeluarkan MUI karena saya tahu, kalau memakai label MUI asli tidak boleh. Saya memberikan label halal karena saya berani menjamin, produk saya memang halal. Bahannya hanya bihun beras, minyak goreng, dan bumbu penyedap saja," tuturnya.
Di akhir surat, Tiwi pun meÂnyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Saat memÂproduksi camilan itu, dirinya tidak pernah berpikir sampai ke pornografi. Sebab, gambar yang ada di kemasan bihunnya meruÂpakan animasi, tidak nyata.
"Untuk semua masyarakat yang menilai produk snack ini termasuk pornografi, apalagi disebut sindikat pornografi, saya meminta maaf. Sekali lagi, sejujurnya saya tidak mengetaÂhui kalau bakal heboh seperti ini," katanya.
Setelah melakukan penggrebeÂkan pada dini hari, Penyidik Polresta Depok melakukan inÂterogasi terhadap Tiwi pada Sabtu (6/8) sore di rumahnya. Sabtu sore pukul 15.30, tiga orang penyidik dari Polresta Depok yang dipimpin Wakasat Reskrim Polresta Depok Ajun Komisaris Firdaus datang ke rumah tersebut.
Dari hasil penggeledahan kepolisian yang didampingi BPOM, diamankan 144 bungkus bihun Bikini, kemasan primer bihun Bikini 3.900 lembar, 15 bungkus bambu, 40 bungkus bihun, lima peralatan produksi, kompor dan sejumlah alat lainÂnya. Kemasan snack Bikini yang disita dari rumah Tiwi sudah dibawa pihak BBPOM Bandung untuk diteliti. ***