Warga Kalijodo Mengais Rezeki Sisa Penggusuran

Bekas Kafe-kafe Sudah Rata Tanah

Kamis, 03 Maret 2016, 09:25 WIB
Warga Kalijodo Mengais Rezeki Sisa Penggusuran
foto:net
rmol news logo Kawasan Kalijodo, Jakarta Utara telah rata tanah. Ratusan bangunan yang berada persis di pinggir kali, sekarang hanya menyisakan puing-puing setelah dibongkar menggunakan alat berat. Kondisi ini dimanfaatkan puluhan warga yang mengais barang-barang bekas masih layak jual.

Panas terik memanggang kawasan Kalijodo, Selasa siang (1/3). Robi asyik memotong besi yang tertumpuk di antara puing-puing bangunan. Sengatan matahari tidak terlalu dipeduli­kannya. Usai memotong, warga Kalijodo ini lantas mengumpul­kan besi yang berukuran kecil ke dalam karung berukuran besar.

"Lumayan tambah pendapa­tan," ujar Robi.

Robi tidak sendirian. Ada puluhan warga dan pemulung yang mengais barang-barang masih layak jual. Mereka asyik memungut besi berukuran kecil dan memasukkannya ke dalam kantong goni berukuran besar.

Kendati seluruh kawasan telah dipasang garis polisi, pemulung nekat menyerebot dan beradu cepat dengan belasan unit beko yang meratakan puing-puing bangunan. Petugas Satpol PP DKI yang berjaga, hanya diam saja melihat puluhan warga mengais-ngais puing bangunan.

Semakin siang, jumlah pemu­lung dan warga semakin berjibun di areal puing-puing bangunan. Tak lama kemudian muncul petugas kepolisian, mengusir mereka untuk berada di tempat aman. Langkah tersebut dilaku­kan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Robi mengaku bersyukur telah mendapatkan 20 kg besi dan 6 kg aluminium sebelum akhirnya diusir petugas. "Saya dari jam 7 pagi sudah di sini. Jadi, masih untung karena sudah mendapat barang lumayan banyak," kata pria yang mengenakan topi ini.

Besi dan aluminium bekas yang berhasil dikumpulkannya akan dijual ke pengepul barang bekas. Pengepul itu sudah stand by tak jauh dari tempat ini.

"Besi dihargai Rp 2 ribu setiap kilogram. Kalau aluminium Rp 10 ribu per kilogram," sebut dia.

Robi menambahkan, barang bekas layak jual yang bisa di­ambilnya hanya berukuran kecil. "Kalau besi dan aluminium beru­kuran besar sudah dikuasai anak buah Daeng Azis," sebut dia.

Sebab, katanya, bangunan pal­ing besar dan paling banyak ba­rang bekas layak jualnya adalah bekas Kafe Intan milik Daeng Azis. "Anak buahnya juga mau jual puing-puing itu sekadar untuk uang makan setelah peng­gusuran," kata pria yang bekerja serabutan ini.

Sebetulnya, Robi mengaku lebih suka mengumpulkan ka­bel listrik karena lebih berharga dibandingkan barang-barang yang lain. Tapi, untuk mendap­atkannya tidak semudah mem­peroleh besi-besi yang sudah tidak terpakai.

"Mending ngambil kabel, bisa dihargai Rp 35 ribu per kilogram. Besi cuma Rp 2 ribu per kilogram. Belum lagi kalau bawa besi repot, mesti dipotong dulu," ucapnya.

Dia berharap, pemerintah bisa secepatnya membangun kawasan ini menjadi lahan ter­buka hijau agar dirinya bisa berjualan. "Kalau sudah jadi taman, mungkin saya bisa jual kopi untuk menambah penghasi­lan," harapnya.

Sedikit kurang beruntung dialami Oci. Wanita setengah baya ini baru mendapat 5 kg besi bekas. "Saya datangnya telat. Keburu diusir petugas," keluh Oci.

Wanita ini mengaku kedatangannya ke kawasan Kalijodo awalnya hanya untuk melihat-lihat proses pembongkaran bangunan. "Setelah melihat banyak warga mengais barang bekas, saya jadi ikut-ikutan," ucapnya.

Barang yang berhasil dikumpulkannya akan dijual ke pengepul barang bekas. "Lumayan, besi dihargai Rp 2 ribu per kilogram. Kalau aluminium saya tak dapat, karena keburu diusir petugas," keluhnya.

Selain itu, wanita yang men­genakan daster ini, mengaku bin­gung membawa potongan besi yang telah dimasukkan ke dalam karung. Pasalnya, petugas akan menyitanya bila ketahuan mem­bawa barang-barang bekas.

"Paling saya cari jalan pintas agar tidak diketahui petugas," katanya.

Wakil Kepala Satpol PP DKI Jakarta Yani Wahyu Purwoko mengatakan, kawasan Kalijodo akan terus dipasang garis poli­si usai pembongkaran, Senin (29/2). Pemasangan garis polisi menandakan bahwa warga di­larang memasuki area tersebut untuk tujuan apa pun.

"Untuk pengamanan. Kan banyak besi menempel, kalau mereka tertusuk gimana? Siapa yang disalahkan? Kan kita," ujar Yani di Kalijodo, kemarin.

Pemasangan garis polisi, lan­jut Yani, juga dilakukan saat malam hari. Alasannya, untuk menjamin keamanan alat berat yang terparkir di sana.

"Kalau malam kami pasang police line untuk menjaga ekskavator," ujarnya.

Terkait adanya sejumlah orang yang memungut barang, Yani mengaku aparatnya sudah men­ertibkan orang-orang tersebut. Ia juga tidak berani berasumsi mereka adalah pemulung, kar­ena masih ada sejumlah warga setempat yang kerap datang ke kawasan tersebut.

"Masih ada warga yang biasa datang untuk ambil-ambil barang di bekas rumahnya," tuturnya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA