Waka MPR: Masuknya Indonesia dalam TPP Belum Final

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Kamis, 05 November 2015, 13:56 WIB
Waka MPR: Masuknya Indonesia dalam TPP Belum Final
oesman sapta/humas mpr
rmol news logo Wakil Ketua MPR Oesman Sapta berpendapat kabar Indonesia masuk dalam Trans Pacific Partnership (TPP) masih wacana dan belum menjadi keputusan final. Masih banyak hal perlu dipertimbangkan sebelum Indonesia memutuskan bergabung dalam TPP.

"Kabar Indonesia akan bergabung dalam TPP masih angan-angan. Namanya juga usaha," kata Oesman Sapta usai berbicara dalam seminar nasional Public Action 2015 bertema "Kesiapan Daerah Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN atau ASEAN Community" di Auditorium Magister Manajemen Universitas Gajah Mada, Yogjakarta, Kamis (5/11).

Dalam kunjungan ke Amerika Serikat, beberapa waktu lalu, kepada Presiden Amerika Serikat Obama,  Presiden Joko Widodo menyatakan Indonesia berniat bergabung dalam Trans Pacific Partnership (TPP).

TPP adalah kerjasama perdagangan di antara negara Asia Pacific di antaranya Amerika Serikat, Australia, Filipina, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan lain-lain. AS sudah beberapa kali merayu Indonesia untuk bergabung dalam TPP.

Namun, tawaran bergabung dalam TPP pernah ditolak pemerintahan semasa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam pertemuan di Bali beberapa waktu lalu, Hillary Clinton juga merayu kembali agar Indonesia bergabung dalam TPP. Barulah dalam pertemuan dengan Obama, Presiden Jokowi mengisyaratkan Indonesia akan bergabung dalam TPP.

"Saya tidak bisa mengatakan setuju atau tidak setuju. Sebab, ada suatu situasi ekonomi yang perlu kita pikirkan sebelum memutuskan bergabung dengan TPP," jelas Oesman.

Hal yang berbeda dalam soal MEA. Oesman menegaskan bahwa Indonesia belum siap memasuki pasar bebas ASEAN yang mulai berlaku pada akhir 2015 ini.

"Tidak berarti saya menolak pasar bebas ASEAN. Kita memang belum siap," ujarnya.

Oesman khawatir dalam MEA itu Indonesia hanya menjadi pasar bagai negara-negara ASEAN lainnya.

"Karena penduduk kita paling besar di ASEAN. Penduduk negara lain paling banyak 20 juta orang. Penduduk Indonesia 250 juta. Kenapa kita harus memikirkan pasar ASEAN," ujarnya.

Menurut Oesman, Indonesia harus menguasai pasar dalam negeri terlebih dahulu. "Kita penuhi pasar dalam negeri lebih dulu. Baru kita lempar produksi dalam negeri ke luar. Kita saja belum menguasai pasar dalam negeri," katanya.[wid]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA