"Pemilu itu cuma dijadikan alat oleh caleg buat saling bunuh suara," ujar pengamat politik Charta Politika, Yunarto Wijaya, dalam diskusi 'Pemilu Bikin Pilu' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat (Sabtu, 26/4).
Aksi peserta pemilu yang demikian itu sendiri merupakan tren untuk mendapatkan suara dan memobilisasi massa.Sehingga, katanya, sangat wajar jika mereka yang dekat dengan pejabat pemerintahan daerah atau berhubungan langsung dengan penguasa dinasti, maka caleg itulah yang keluar sebagai pemenang pemilu.
Atas dasar itu, Yunarto menyimpulkan, pemilu Indonesia saat ini masih dianggap kuantitatif. Selain kuantitatif, acara politik lima tahunan itu juga disebut hanya bergerak dalam lingkaran setan. Ini bisa dilihat dari kemiripan masalah setiap pelaksanaan pemilu.
"Kita hanya akan mengulang pada perdebatan
money politics, iklan kampanye, kecurangan penggelembungan suara, itu hanya debatan sama tiap tahun," demikian Yunarto.
[ysa]
BERITA TERKAIT: