Pertemuan di Rengas Dengklok itu memiliki tujuan tunggal, mendukung dan meminta kesediaan Megawati Soekarnoputri bersedia dicalonkan sebagai presiden dalam pemilihan presiden mendatang.
Sejumlah pengurus PDI Perjuangan dan anggota DPR RI dari partai itu disebutkan akan hadir. Namun sejauh ini belum diperoleh informasi lebih detil mengenai siapa saja pengurus PDIP dan anggota DPR RI dari PDIP yang akan hadir pada kegiatan itu.
Informasi yang diperoleh juga menyebutkan selain orasi politik dan membacakan deklarasi "Megawati for President", peserta pertemuan juga akan membubuhkan cap jempol darah sebagai tanda dukungan dan kesetiaan.
Gerakan mendukung Megawati sebagai presiden di internal PDIP semakin menguat belakangan ini menyusul popularitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang tak terbendung.
Rengas Dengklok sengaja dipilih, karena tempat ini memiliki arti yang cukup sakral dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Dinihari 16 Agustus 1945, kelompok pemuda yang dipimpin Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh, membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke rumah Djiaw Kie Siong di Rengas Dengklok. Di tempat itu Bung Karno dan Bung Hatta dipaksa untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia secepatnya.
Bung Karno dan Bung Hatta seperti beberapa tokoh senior lain telah merencanakan pembacaan pernyataan kemerdekaan dalam sebuah sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dianggap oleh kelompok pemuda sebagai badan buatan Jepang.
Penculikan berlangsung kurang dari 24 jam. Malam hari, Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta. Proklamasi kemerdekaan Indonesia pun dibacakan keesokan harinya di kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur, Jakarta.
[dem]
BERITA TERKAIT: