Rocky Apris Dianto kabur dari Rumah Tahanan (Rutan) Narkoba Polda Metro Jaya. Pelaku teror yang telah divonis enam tahun penjara itu melarikan diri dengan menyamar jadi perempuan bercadar.
Gara-gara peristiwa ini, tiga belas petugas jaga maupun pengÂhuni rutan diperiksa. Polisi juga tim khusus untuk menangkap kembali Roki yang diduga belum kabur jauh.
Bagaimana kondisi Rutan Narkoba itu? Mengapa penghuni rutan bisa mudah kabur? Rakyat Merdeka pun berkunjung ke rutan yang berada di kompleks Markas KÂepolisian Daerah (Mapolda) MetÂro Jaya di Jalan Jenderal SuÂdirÂman Kavling 55, Jakarta Selatan.
Rutan Narkoba terletak di baÂgian belakang. Bersebelahan deÂngan kantor Direktorat NaÂrÂkoÂtiÂka. Bangunannya berlantai emÂpat. Dindingnya dicat perpaduan warna kuning, merah jambu dan merah hati.
Lantai di rutan ini dibagi menÂjadi blok-blok. Blok A berada di lantai dasar. Lantai ini dijadikan tempat penghuni rutan bertemu dengan pembesuknya. Lantai dua atau Blok B tempat tahanan wanita. Blok C yang terletak di lantai tiga untuk tahanan kasus narkoba. Sementara Blok D di lantai empat dipakai untuk tempat tahanan kasus terorisme. InforÂmasi yang diperoleh, di setiap lantai atau blok ada tujuh kamar sel. Setiap sel dapat dihuni samÂpai tujuh tahanan.
Pagar besi hitam setinggi tiga meter dibangun mengelilingi ruÂtan ini. Pintu masuk ke dalam ruÂtan ada di bagian tengah pagar. Pintu ini dibuka dengan cara diÂgeser ke samping.
Setelah melewati pintu pagar besi ini menaiki tiga undakan anak tangga untuk mencapai teras rutan. Di teras ini diletakkan meja kayu. Inilah pos pemeriksaan perÂtama untuk masuk ke rutan.
Saat Rakyat Merdeka berkunÂjung Kamis lalu, meja ini terlihat ditunggui seorang polisi. Sambil menikmati asap tembakau, dia memperhatikan orang yang keluar-masuk rutan.
Dua perempuan muda berjalan santai melewati celah di pintu gerbang rutan. Sehari-hari pintu ini tak pernah dibuka lebar. Hanya dibuka sebatas orang bisa melaluinya.
Mengetahui ada dua peremÂpuan menuju rutan, petugas jaga berkepala plontos itu langsung melempar pertanyaan. “Mau ke mana mbak?†tanyanya.
Kedua perempuan menjawab hendak membesuk penghuni ruÂtan. Petugas itu pun memÂperÂsiÂlaÂkan mereka masuk ke dalam. UnÂtuk masuk ke rutan melalui pintu dari kaca berwarna gelap. Pintu dibuka dengan cara ditarik ke luar.
Sebelah masuk ke dalam, salah satu perempuan pengunjung ini sempat melirik ke selembar kerÂtas yang ditempel di pintu kaca.
Dari gerak-gerik dan caranya menjawab pertanyaan petugas jaga, kedua perempuan tamÂpakÂnya sudah sering berkunjung ke rutan ini. Setelah masuk keÂduaÂnya menuju ke kiri. Tujuannya ruaÂngan yang disekat dengan meja kayu setinggi satu meter.
Di atas meja ini diletakkan dua buku besar. Pengunjung rutan diÂminta mengisi data diri di buku. Fungsi meja ini mirip resepsionis di perkantoran.
Di dinding meja ini terdapat rak besar berisi loker-loker untuk menemÂpatÂkan barang-barang bawaan peÂngunjung sebelum bertemu deÂngan penghuni rutan.
Benda-benda yang dilarang maÂsuk ke rutan dititipkan ke petuÂgas dan disimpan di dalam loker. SeÂmua alat elektronik maupun hanÂdphone harus dititipkan. PeÂngunjung juga tidak diperÂkeÂnanÂkan membawa tas ke dalam rutan. BaÂrang bawaan yang boleh dibaÂwa masuk hanya makanan mauÂpun paÂkaian ganti untuk penghuni rutan.
Di ruang yang lantainya dilaÂpisi keramik warna putih ini maÂsih dibagi-bagi untuk tempat peÂmeriksaan pengunjung maupun tempat tunggu. Ruangannya berÂhadap-hadapan dengan pintu maÂsuk. Tak ada sekat antara ruang pemeriksaan dengan ruang tunggu pengunjung. Di sini ada meja kayu cokelat yang ditunggui dua polisi.
Tepat di belakang meja kayu ini ada pintu jeruji untuk masuk ke dalam rutan. Pintu ini satu-saÂtuÂnya akses keluar-masuk peÂngunjung yang ingin bertemu penghuni rutan. Dari meja jaga ini tampak tangga untuk naik ke lantai atas.
Di dalam pintu jeruji ini ada kaÂmar-kamar untuk tempat bertemu pengunjung dengan penghuni rutan. Kamar-kamar ini berada di sisi kanan dan kiri. Jika tahanan meÂnerima kunjungan, dia dijemÂput dari selnya lalu dibawa ke saÂlah satu kamar ini untuk bertemu pembesuknya.
Proses menemui tahanan di Rutan Narkoba Polda Metro Jaya ini tak sesulit seperti di Rutan CiÂpiÂnang maupun Rutan Salemba. Dua perempuan muda tadi miÂsalÂnya. Setelah mengisi data diri dan menyebutkan tahanan yang akan dikunjungi, mereka hanya diminÂta meninggalkan KTP.
Petugas tak melakukan pengÂgeÂledahan kepada kedua peremÂpuan itu. Setelah diizinkan berÂtemu tahanan, petugas meminta keduanya menunggu. Petugas jaga itu lalu memerintahkan reÂkannya untuk memanggil tahaÂnan yang akan dibesuk.
Kerap kali petugas meminta toÂlong tamping memanggil taÂhaÂnan yang hendak dikunjungi. Tamping adalah tahanan yang diberdayakan untuk membantu-bantu di dalam ruÂtan. Biasanya, tahanan yang diÂanggap berkeÂlakuan baik.
Setelah waktu kunjungan berÂakhir, pembesuk diminta kembali ke ruang jaga untuk didata lagi. PeÂtugas juga akan mengemÂbaÂliÂkan KTP maupun barang-barang bawaan yang tadi dititipkan.
“Tadi kami membesuk teman yang sudah ditahan beberapa buÂlan di sini karena kasus narkoba,†jelas salah satu pembesuk peÂremÂpuan yang ditemui Rakyat MerÂdeka setelah setengah jam berada di dalam rutan.
Roki Kabur, Anak Buah Baasyir Heran
Kabar kaburnya seorang taÂhÂaÂnan kasus terorisme dari Rutan Narkoba cukup mengejutkan. PaÂsalnya, selama ini penjagaan taÂhanan kasus ini sangat ketat.
Ini diakui Sonhadi dari Jamaah Asharut Tauhid (JAT). JAT diÂdiriÂkan Abu Bakar Baasyir. Polisi meÂnangkap pengasuh Pondok PeÂsantren Ngruki, Solo, Jawa Tengah dengan berbagai tuduhan. Baasyir lalu dititipkan di Rutan Narkoba Polda Metro Jaya.
“Agak aneh dan janggal kalau seorang tahanan bisa kabur dari markasnya polisi,†kata Sonhadi. Ia lalu menceritakan penÂgaÂlaÂmanÂnya ketika hendak menjeÂnguk Baasyir yang ditahan di RuÂtan Narkoba Polda Metro Jaya. Pengamanannya super ketat dan berlapis-lapis.
Setiap pengunjung menjalani peÂmeriksaan sebelum diÂperboÂlehÂkan bertemu dengan tahanan. Saat berkunjung, pembesuk pun tak bisa leluasa berkeliaran di rutan.
“Makanya jadi aneh kalau taÂhaÂnan bisa kabur. Apalagi, tahaÂnan tadi (Roki) bukan orang JaÂkarta yang mengenal seluk-beluk Polda Metro,†tuturnya. Roki diÂtangkap di Klaten karena diÂangÂgap jaringan pelaku teror di Solo.
“Bisa jadi sangat mungkin ada unsur rekayasanya,†ujar SonÂhaÂdi. Rekayasa apa? Ia pun melÂemÂpar persoalan ini ke polisi. “HaÂnya mereka yang bisa meÂnÂjeÂlasÂkan dan tahu soal ini.â€
Sebar Foto Dan Dekati Keluarga
Tim Khusus Buru Roki
Kepolisian membentuk tim khusus untuk memburu Roki Apris Dianto yang kabur dari RuÂtan Narkoba Polda Metro Selasa lalu. Roki, narapidana yang divonis enam tahun dalam kasus terorisme ini diduga masih berada di wilayah ibu kota.
Sejak mengetahui Roki kabur, kepolisian segera memperketat penjagaan di daerah-daerah perÂbatasan Jakarta dengan Jawa Barat dan Banten.
Daerah mana saja? Kepala Penerangan Umum Polri Kombes Agus Rianto tak mau meÂngungÂkapkanya. Di daerah yang diduga menjadi jalur pelarian ke luar Jakarta, polisi menyebar foto Roki. “Kami masih terus meÂngeÂjarÂnya,†kata dia.
Menurut Kepala Penerangan MaÂsyarakat Polri Brigjen Boy Rafli Amar, tim sudah menyebar ke seÂjumlah wilayah yang diduga menÂjadi tempat persembunyian Roki.
Selain melakukan pengejaran, polisi juga mendekati keluarga Roki. Keluarga diminta bekerja sama dan mau melapor jika meÂngetahui keberadaan Roki.
Boy mengatakan polisi sudah mengantongi identitas para pemÂbesuk Roki di hari dia kabur. MeÂreka tengah dimintai keterangan seputar pelarian Roki.
Tahanan Terorisme Cuma Boleh Dijenguk Sekali Seminggu
Bila melihat namanya, Rutan Narkoba Polda Metro Jaya seÂdianya hanya untuk meÂnamÂpung tahanan kasus narkoba. Tapi nyatanya banyak tahanan kasus lain yang dititipkan di rutan ini.
Rutan ini menampung 70 taÂhaÂnan kasus terorisme titipan MaÂbes Polri maupun kejakÂsaan. Rutan ini pun menyeÂdiaÂkan blok khusus untuk dihuni tahaÂnan kaÂsus terorisme. LÂeÂtakÂnya di Blok D yang berada di lantai empat.
Para tahanan kasus terorisme yang ditempatkan di blok ini diperlakukan khusus. PeÂngaÂwaÂsan terhadap mereka ditangani Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror.
Berbeda dengan tahanan kaÂsus narkoba yang bisa dikunÂjuÂngi dari Senin hingga Jumat, para tahanan kasus terorisme hanya boleh dibesuk satu kali daÂlam seminggu. Tapi waktu kunjungan sama seperti tahanan kasus lain. Yakni mulai pukul 10 pagi sampai tiga sore.
Kepala Humas Polri Irjen SuÂharÂdi Alius membenarkan peÂngawasan tahana kasus terÂoÂrisÂme di bawah kendali Densus 88. Setiap hari ada tiga anggota DenÂsus yang ditempatkan di Rutan Narkoba Polda Metro Jaya untuk menjaga para tahaÂnan kasus terorisme.
Setelah seorang tahanan kaÂsus terorisme kabur Selasa lalu, polisi pun akan mengevaluasi penjagaan di blok khusus kasus terorisme. “Mungkin karena baÂnyak (pembesuk), kita evaÂluasi dan kita tambah pengaÂmaÂnanÂnya,†kata Suhardi.
Selain menambah petugas jaga, polisi juga akan memÂperÂbaiki mekanisme kunjungan taÂhanan kasus terorisme. Polisi wanita (polwan) turut menjaga taÂhanan di rutan ini.
“Polwan juga akan dilibatkan. Jadi yang menggunakan cadar bisa dipeÂrikÂsa oleh Polwan. MeÂreka kan sesama wanita,†ujarnya.
Jejak Sang “Amir†Ditangkap Di Klaten, Disidang Di Jakarta
Siapa Roki Apris Dianto (29), narapidana kasus terorisme yang kabur dari Rutan Narkoba Polda Metro? “Dia merupakan otak jaringan Solo,†beber KeÂpala Humas Polri Irjen Suhardi Alius.
Roki alias Atok Prabowo diÂtangkap Januari 2011 lalu di Klaten oleh Detasemen Khusus 88 Anti Teror. Pada akhir 2011 dia bersama lima anggotanya jaringannya divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena terlibat beberapa aksi teror.
Roki divonis enam tahun penÂjara karena dianggap otakÂnya. Sedangkan rekannya haÂnya dijatuhi hukuman lima taÂhun penjara.
Roki mulai terlibat dalam aksi teror pada 2008. Ia lalu meÂrekrut lima orang yakni Agung Jati Santoso, Tri Budi Santoso, Nugroho Budi Santoso, Yuda Anggoro, dan Joko Lelono.
Kelimanya didoktrin boleh menyerang orang yang diÂangÂgap kafir dan tunduk kepada huÂkum negara RI. Roki lalu menÂdaulat dirinya sebagai amir dan membentuk struktur orÂganisasi.
Ia mulai melakukan pelatihan fisik kepada anggota-angÂgoÂtaÂnya. Anggota-anggotanya juga mendapat pelatihan cara meraÂkit bom dari Irfan. Irfan adalah murid Neril alias Soghir, murid langsung Dr Azahari.
Gerakan Roki dan kawan-kawan diduga mendapat sokoÂngan dana dari sekelompok orang. Dana itu membeli poÂtaÂsium nitrat, bahan untuk memÂbuat bom berdaya ledak rendah.
Bom buatan kelompok ini diledakkan di sejumlah tempat di Solo. Di antaranya, di Pos PoÂlisi Dukuh Kerun Waru dan Pos Lalu Lintas di pertigaan DeÂlanggu. [Harian Rakyat Merdeka]
BERIKUTNYA >