Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/adityo-nugroho-1'>ADITYO NUGROHO</a>
LAPORAN: ADITYO NUGROHO
  • Selasa, 23 Juni 2026, 03:55 WIB
Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia
Prof. Masduki (tengah) bersama para juara Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026. (Foto: Dokumentasi Prof. Masduki)
rmol news logo Ketika mata dunia sedang tertuju pada kemegahan pesta sepak bola dunia yang menyatukan bangsa-bangsa dalam semangat sportivitas dan persaudaraan, sebuah mimpi besar juga sedang tumbuh dari sudut Kota Bekasi. Mimpi itu lahir dari Lapangan Tenis Meja Ar-Royan Family Residence, Kompleks Masjid Ar-Royan Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi.

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 yang berlangsung selama tiga hari resmi ditutup pada Minggu malam, 21 Juni 2026 dalam suasana meriah, hangat, dan penuh nuansa kekeluargaan. 

Turnamen yang digerakkan sepenuhnya oleh semangat swadaya dan gotong royong masyarakat tersebut berhasil menghadirkan lebih dari 100 peserta dari sedikitnya 15 klub Persatuan Tenis Meja (PTM) yang berasal dari wilayah Bekasi dan Jakarta.

Ratusan warga memadati arena pertandingan untuk menyaksikan partai-partai final yang berlangsung sengit dan menghibur. Hadir pula para tokoh masyarakat, pengurus karang taruna, pecinta olahraga, serta keluarga para atlet yang memberikan dukungan tanpa henti.

Penutupan turnamen dilakukan oleh Masduki Ahmad, Rektor Universitas Islam As-Syafi'iyah (UIA) sekaligus penggagas dan pembina kegiatan olahraga tenis meja di kawasan tersebut.

Pada kesempatan itu, Prof. Masduki mengajak masyarakat untuk tidak berhenti bermimpi besar. 

Menurutnya, sejarah olahraga dunia menunjukkan bahwa atlet-atlet hebat tidak selalu lahir dari fasilitas mewah atau kota-kota besar, melainkan dari komunitas yang memiliki semangat, disiplin, dan komitmen yang kuat.

"Hari ini dunia menyaksikan bagaimana sepak bola mampu mempersatukan bangsa-bangsa melalui Piala Dunia. Kita pun harus memiliki mimpi besar. Dari lapangan tenis meja yang sederhana ini, saya berharap akan lahir atlet-atlet nasional, bahkan atlet kelas Asia dan dunia yang suatu hari mengharumkan nama Indonesia. Prestasi besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten," ujar Prof. Masduki dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Senin, 22 Juni 2026.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan tersebut tanpa mengandalkan bantuan pemerintah.

"Terima kasih kepada seluruh panitia, para donatur, peserta, dan warga yang telah menyisihkan rezekinya. Turnamen ini murni lahir dari swadaya masyarakat. Ini bukti bahwa semangat gotong royong, persaudaraan, dan kepedulian sosial masih hidup dan menjadi kekuatan besar di tengah masyarakat kita," ungkapnya.

Ketua Panitia, Sadeq Reza, menjelaskan bahwa tingginya antusiasme peserta menjadi indikator bahwa olahraga tenis meja masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Menurutnya, para atlet merasa nyaman bertanding di Lapangan Tenis Meja Ar-Royan Family Residence yang berada di lingkungan religius, asri, dan kondusif untuk pembinaan olahraga.

"Kami ingin menjadikan tempat ini bukan hanya arena pertandingan, tetapi juga pusat pembinaan atlet usia muda dan ruang silaturahmi masyarakat dan mahasiswa UIA,” ujarnya.

Kemeriahan semakin terasa saat digelarnya pertandingan eksibisi final yang mempertemukan para pemain terbaik. Sorak sorai penonton pecah setiap kali terjadi reli panjang yang memukau, menciptakan atmosfer yang tidak kalah semarak dari pertandingan olahraga profesional.

Pada kesempatan tersebut, gelar Juara 1 Tunggal Putra berhasil diraih oleh Awenk (PTM Olland) setelah menaklukkan Riva (PLI) dalam partai final yang berlangsung ketat dan penuh sportivitas. Para pemenang menerima piala, piagam penghargaan, dan hadiah yang diserahkan langsung oleh Prof. Masduki.

Namun lebih dari sekadar perebutan gelar juara, turnamen ini meninggalkan pesan yang lebih besar: olahraga mampu menyatukan masyarakat, membangun karakter, serta membuka jalan lahirnya generasi atlet masa depan.

Masduki Cup 2026 telah berakhir, tetapi semangat yang ditinggalkannya justru baru dimulai. Dari sebuah lapangan tenis meja yang berdiri berdampingan dengan Masjid Ar-Royan, tumbuh harapan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi penonton prestasi olahraga dunia, tetapi juga mampu melahirkan atlet-atlet yang kelak berdiri di podium Asia dan dunia, membawa Merah Putih berkibar dengan bangga.

"Mimpi besar selalu dimulai dari komunitas yang percaya bahwa mereka mampu menciptakan sejarah," pungkas Prof. Masduki. rmol news logo article


FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA