WAWANCARA

Ma’ruf Amin: Budha Di Sini Tetap Aman, Rohingya Tak Terkait Agama

Rabu, 08 Agustus 2012, 11:00 WIB
Ma’ruf Amin: Budha Di Sini Tetap Aman, Rohingya Tak Terkait Agama
Ma’ruf Amin

rmol news logo Majelis Ulama Indonesia (MUI) memastikan pembantaian umat muslim Rohingya, Myanmar, tidak terkait dengan persoalan agama.

”Ini bukan persoalan agama, se­hingga agama Budha di sini tetap aman, tidak bakal kena im­bas­­nya,’’ kata Ketua MUI, Ma’ruf Amin, kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, kaum mu­slim Rohingya di negara bagian Rakhine (Arakan), Myanmar dibantai kelompok yang diduga dilakukan oleh etnis yang didu­kung oleh pasukan gabungan keamanan Rakhine.

Akibat pembantaian itu, jum­lah kematian muslim di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 6.000 jiwa. Selain dibunuh, juga terjadi pembakaran, penjarahan, pemerkosaan, serta penangkapan muslim Rohingya di Rakhine.

Menanggapi hal itu, pemuka agama Buddha, Bikkhu Dham­makaro Thera mengatakan, pi­hak­nya meminta agar kasus ter­sebut dijauhkan dari unsur agama.

“Secara khusus kami mende­sak agar  ketegangan yang terjadi segera dipulihkan dan dijauhkan dari unsur agama,” ujar Bikkhu Dham­makaro Thera kemarin.

Ma’ruf Amin selanjutnya me­nga­takan, dirinya sangat me­nye­salkan kejadian yang terjadi di Myanmar. MUI meminta pe­merintah Myanmar segera meng­hentikan tindakan-tindakan yang mencederai kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (HAM).

“Itu etnis Rohingya yang ke­betulan mereka umat Islam yang diperlakukan tidak adil dan dia­niaya serta diperlakukan secara bia­dab oleh militer Myanmar,” katanya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Apa solusinya?

Kami meminta teman-teman dari Budha sebagai agama mayo­ritas di Myanmar untuk bisa  men­damaikan masalah ini.


Upaya pemerintah Indonesia bagaimana?

Kami berharap pemerintah Indonesia jangan hanya diam saja atas adanya pembantaian umat muslim Rohingya, Myanmar. Seharusnya pemerintah Indone­sia berperan aktif untuk melin­dungi umat muslim Rohingya.

Apa saja yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia?

Kami berpandangan, pemerin­tah Indonesia dapat melakukan langkah-langkah kongkrit dalam melakukan diplomasi, baik di tingkat global maupun regional bagi penyelesaian krisi kemanu­siaan tersebut.

Sebagai negara yang berpen­duduk mayoritas muslim, tentu­nya bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada negara-negara lain.


Presiden Myanmar Thein Sein menganggap etnis Ro­hingya bukan orang asli Myan­mar, tanggapan Anda?

Hal itu tentunya sangat berten­tangan dengan sejarah karena muslim Rohingya sudah tinggal di Arakan. Bahkan sebelum Bur­ma yang sekarang menjadi Myan­mar merdeka dari Inggris pada 1948.

Tindakan diskriminatif ini tidak bisa dibiarkan terus ber­langsung. Penganiayaan yang dila­kukan dengan cara-cara mili­ter kepada warga sipil harus di­hen­tikan.


Apa yang dilakukan MUI?

MUI sudah bertemu langsung de­ngan Menteri Luar Negeri  Marty Natalegawa untuk menya­rankan agar pemerintah Indo­ne­sia harus melakukan langkah-langkah kongkrit.

Dalam pertemuan itu kami me­nyepakati bahwa MUI dan Menlu agar terus meningkatkan upaya-upaya diplomatik untuk me­nye­lesaikan masalah-masalah yang di­alami warga muslim di Rohingya.


Apa itu saja dilakukan MUI?

Kami meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bisa me­nyelesaikan masalah ini. MUI juga meminta pemerintah Myan­mar mengakui warga Rohingya se­bagai warga negara yang sah.

    

Apakah MUI sudah bertemu langsung dengan pemerintah Myanmar dan PBB?

Yang sifatnya diplomatik atau bilateral akan dilakukan oleh pe­merintah kita. Saya sudah me­minta Menlu untuk segera bertin­dak.

Kalau pun ada bantuan-ban­tuan yang akan diberikan ke Ro­hing­ya, akan dikoordinasikan. MUI sudah ada kesepakatan ber­sama dengan pemerintah untuk ber­­sama-sama menyelesaikan kisruh di sana.


Apa Langkah konkretnya?

Kami meminta kepada peme­rintah kita utnuk mengambil lang­­kah-langkah yang lebih kon­kret untuk menyelsaikan masalah di Rohingya. Kami juga meminta kepada PBB, OKI (Organisasi Kerja sama Islam), ASEAN un­tuk lebih intensif mencari pe­nye­lesaiannya.

   

Anda menilai PBB terlihat diam saja?

Sikap PBB kurang responsif. Kurang apa sih PBB itu. Ma­kanya kami mendesak PBB untuk segera menyelesaikan masalah itu. Pemerintah Indonesia pun harus punya langkah kongkrit bersama-sama dengan negara-negara lain untuk lebih me­ning­katkan upaya penyelesaiannya.

Kami minta pemerintah In­do­nesia sebagai negara senior di ASEAN patut turun tangan. Ke­be­tulan Myanmar sebagai negara ASEAN. Seharusnya mengakui war­­ga negara Rohingya dengan baik.

   

Anda menyesalkan PBB?

MUI tentunya menyesalkan si­kap PBB yang tidak proaktif da­lam mengatasi masalah pem­ban­taian etnis terhadap kaum muslim di Rohingya.

Tidak hanya PBB, kami juga mendesak lembaga-lembaga in­ter­­nasional lain segera me­la­ku­kan langkah kongkrit dalam men­cegah berlanjutnya krisi ke­ma­nusiaan di Myanmar. PBB jangan diam saja dong.

Kami juga mendesak untuk melaporkan pemerintah Myan­mar ke Dewan Keamanan PBB dan meminta Dewan Keamanan PBB segera mengirimkan pa­suk­an perdamaian dalam melin­dungi umat muslim Rohingya yang tidak berdosa.


Apa penyebab pembantaian itu?

Kami tidak tahu betul. Tetapi kami menduga ini berkaitan de­ngan etnis dan agama. Kami sa­ngat menyesalkan pemerintah Myan­mar yang membiarkan ter­ja­dinya pembantaian itu. [Harian Rakyat Merdeka]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA