Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Polisi Telisik Sponsor Gayus ke Luar Negeri

Meski Gayus Mengaku Hanya Jalan-jalan

Senin, 10 Januari 2011, 06:32 WIB
Polisi Telisik Sponsor Gayus ke Luar Negeri
Gayus Tambunan
RMOL. Pengakuan Gayus Tambunan yang sempat bepergian ke Bali beberapa waktu lalu, tidak diikuti kesaksian bahwa pegawai pajak itu juga sempat ngelencer ke Makau, Singapura dan Malaysia. Motivasi Gayus dan para pihak yang diduga ditemuinya ketika di Bali maupun di sejumlah negara tersebut tetap jadi misteri.

Menurut Kadivhumas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam,  sampai saat ini pihaknya masih berupaya keras menyibak apa motivasi Gayus hingga nekat menyuap petugas untuk dapat kesempatan melancong ke Bali dan luar negeri.

 Sejauh ini, menurutnya, polisi yang menangani kasus plesiran Gayus ke Bali hanya mendapat keterangan bahwa tujuan Gayus ke Bali semata untuk jalan-jalan. “Dari hasil penyelidikan ke­polisian dan pengakuan Gayus, tidak ada pihak tertentu yang secara sengaja ingin ditemuinya di sana,” ujarnya. Ia juga buru-buru menepis anggapan bahwa Gayus di Bali sempat bertemu tokoh politik dan pengusaha kakap Tanah Air.

Ia menggarisbawahi, kepoli­sian sudah melakukan penin­dakan terhadap

mereka-mereka yang diduga terlibat kasus plesiran Gayus ke Bali. Kalau memang ada oknum lain yang diduga terlibat plesiran Gayus ke luar negeri, ia berjanji  kepolisian akan kembali meng­ambil tindakan tegas. Anton sendiri emoh merinci materi pemeriksaan yang dilakukan tim gabungan terhadap Gayus.

Meski demikian, sumber di lingkungan penyidik kepolisian yang ikut memeriksa Gayus dalam kasus plesiran ke luar negeri menginformasikan, pada pemeriksaan sepanjang Kamis (6/1) malam, Gayus sempat ditanya siapa saja pihak yang diduga ikut membantu membuatkannya pas­por palsu.

Mendapat pertanyaan demi­kian, terdakwa kasus mafia pajak ini mengaku tak tahu persis identitas orang yang mem­bantunya mendapatkan paspor. “Dapat dari calo,” sitirnya me­nirukan pengakuan Gayus. “Ca­lonya siapa?” timpalnya. Gayus pun menjawab singkat, “Tidak kenal.”

Sumber penyidik ini juga mengaku kalau pada pemeriksaan terhadap Gayus, jajaran kepo­lisian meminta penjelasan terkait siapa saja pihak yang ditemui Gayus maupun pihak yang mensponsorinya plesiran ke luar negeri.

Tapi lagi-lagi, sambungnya, seperti pengakuannya pada penyidik dalam kasus plesiran ke Bali, Gayus menyebut dirinya yang berstatus tahanan Rutan Mako Brimob bepergian ke luar negeri hanya untuk jalan-jalan.

Atas pengakuan Gayus ter­sebut, tim gabungan pun diakui sumber ini juga sudah mengorek keterangan istri Gayus, Milana Anggraeni. Menurut sumber itu, istri Gayus mengetahui kiprah suaminya dan kolega-koleganya.

Menurut Anton, sejauh ini siapa pihak yang diduga ditemui Gayus serta lokasi-lokasi mana saja yang disambangi Gayus tengah diteliti oleh tim gabungan. “Belum ada informasi mengenai hal itu yang sampai kepada saya. Tim gabungan  masih fokus pada masalah pemalsuan paspor serta dugaan keterlibatan oknum Imigrasi maupun kepolisian,” ucapnya.

Ketika disinggung soal orang yang diduga menyiapkan tiket pesawat maupun akomodasi Gayus saat bepergian ke luar negeri, Anton  tak mau menyebut secara gamblang. Akan tetapi, menurutnya, tim gabungan kasus plesiran Gayus ke luar negeri sudah mendapatkan nama orang yang diprediksi berperan dalam hal ini.

Lalu menanggapi beda data seputar  hasil penelusuran jajaran Imigrasi yang disampaikan Men­kum Ham Patrialis Akbar bah­wa Gayus teridentifikasi sempat menyambangi tiga ne­gara, yakni Makau pada 24 September 2010, kembali ke Jakarta 26 September 2010 dan terbang lagi ke Kuala Lumpur 30 September 2010 lalu mampir ke Singapura, dan hasil penelusuran kepolisian yang menyebut Ga­yus berangkat ke Makau pada 24 September deng­an pesawat Mandala Airlines dan menuju ke Singapura pada 30 September dengan pesawat Air Asia, Anton menolak berpolemik.

Ia mengatakan, persoalan krusial yang paling penting saat ini bukan menyoal tentang per­bedaan pendapat tersebut.

Karena, hasil temuan masing-masing pihak nantinya akan saling dicocokkan. Justru, tam­bah dia, hal paling pokok yang menjadi catatan saat ini adalah tim tengah meng­um­pulkan  keterangan maupun petunjuk yang  nantinya bisa dijadikan buk­ti-bukti dalam menindak Gayus.

“Sampai saat ini kita sudah meminta  perwakilan Polri di negara-negara yang diduga di­datangi Gayus untuk mengecek informasi mengenai lokasi yang pernah disambangi Gayus serta pihak-pihak yang pernah ditemui Gayus saat berada di luar negeri,” ucapnya seraya menambahkan, kepolisian juga sudah berkoor­dinasi dengan PPATK dan Ke­jagung dalam menelusuri aliran dana yang dipakai Gayus plesiran ke luar negeri.

Ada Hubungan Yang Saling Menguntungkan
Ahmad Yani, Anggota Komisi III DPR

Ang­gota Komisi III DPR dari Fraksi PPP, Ahmad Yani curiga ada hubungan yang saling meng­untungkan antara Gayus Tam­bunan dengan aparat pe­negak hukum serta Ditjen Imigrasi pada Kementerian Hukum dan HAM. Jika tidak, niscaya Gayus tidak semudah itu untuk ke luar negeri.

“Saya melihat Gayus itu ada dua sisi. Pertama, Gayus se­bagai personal yang melakukan praktik melanggar hukum. Yang kedua, Gayus sebagai salah satu jaringan mafia hukum,” katanya.

Yang dimaksud Yani bahwa Gayus sebagai personal yang melakukan praktik melawan hukum, ialah Gayus meng­guna­kan uangnya untuk memper­mulus setiap keinginan yang akan dicapainya. “Misalnya, pada kasus keluarnya Gayus ke beberapa tempat, saya yakin dia meng­gunakan uangnya untuk mem­permulus usahanya itu,” ujarnya.

Sehingga, kata Yani, dengan Gayus memiliki harta yang banyak, sangat mudah bagi­nya sebagai personal atau individu untuk mewujudkan keinginan­nya itu.

“Makanya saya selalu bilang untuk membekukan harta Ga­yus Tambunan agar tidak men­jadi personal yang mem­beri suap kepada oknum lainnya,” terangnya.

Terlebih, kata Yani, saat Gayus dikabarkan dapat me­lancong bersama keluarganya ke Singapura. Hal itu, me­nunjukan begitu mudahnya Gayus menembus ketatnya sistem birokrasi di kantor Imigrasi untuk membuat paspor dengan nama palsu.

“Saya saja yang angota De­wan saat proses foto tidak boleh pakai kaca­mata. Tapi aneh, di pas­pornya Gayus kok pakai kaca­mata. Ini kan indikasi ada sesuatu di balik itu semua,” tandasnya.

Sedangkan yang dimaksud Yani bahwa Gayus sebagai jaringan mafia hukum ialah, Gayus dengan hartanya dapat mengubah suatu ketetapan hukum dengan memanfaatkan oknum-oknum tertentu. “Misal­nya, pada kasus pembocoran surat penun­tutan dirinya yang diduga ikut melibatkan pejabat kejaksaan dan bekas pengaca­ranya, Haposan Hutagalung,” imbuhnya.

Meskipun Gayus memiliki banyak harta dan dapat me­wujudkan setiap keinginannya, Yani tetap yakin bahwasanya Gayus seperti boneka mainan yang sedang dikendalikan ok­num tertentu. “Indikasinya, ha­nya Gayus dan teman-teman­nya yang ditangkap, sementara pejabat tinggi Ditjen Pajak tidak. Di kepolisian dan ke­jaksaan pun begitu, tidak ada pejabat tinggi mereka yang ikut ditahan,” tandasnya.

Beking Kakapnya Perlu Diungkap Sampai Jelas
Neta S Pane, Ketua LSM IPW

Motivasi Gayus Tambunan meninggalkan selnya masih misterius. Sejauh ini kepolisian belum mampu menemukan titik terang terkait siapa saja pihak yang ditemui Gayus selama plesiran ke Bali, Singapura, Makau maupun Malaysia.

Kritikan terhadap kinerja kepolisian ini, dikemukakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. Pada keterangannya, ia menyebutkan, sejauh ini ke­polisian tampak terpaku atau bisa dikategorikan hanya puas dengan pengakuan Gayus saja.

“Belum ada tindakan kong­kret seputar apa saja kegiatan Gayus selama berada di Bali serta siapa orang yang dit­emuinya di sana,” ujarnya.

Ia mencontohkan, keber­hasilan Gayus jalan-jalan ke Bali, tentunya tidak hanya melibatkan oknum aparat Rutan Brimob yang kini jadi tersangka kasus suap Gayus.

“Ada pihak lain yang diduga ikut terlibat dalam skenario plesiran ini. Tapi, sampai se­karang belum terungkap atau mungkin tidak pernah di­ungkap?” katanya.

Atas hal ini, ia mendesak agar kepolisian dalam menangani kasus plesiran Gayus ini benar-benar diawasi pihak lain. Ka­renanya, keterlibatan unsur Imigrasi dalam mengungkap perkara plesiran Gayus ke luar negeri ini, diharapkan mampu menyingkap apa-apa yang di­duga disembunyikan ke­polisian.

“Sepertinya ada beban psi­kologis teramat berat yang di­tanggung kepolisian dalam meng­ungkapkan kasus plesiran Gayus ini. Untuk itu, mesti didorong supaya kepolisian kali ini punya keberanian ekstra menyingkap siapa pihak yang berada di balik Gayus tersebut,” urainya.

Dengan keberanian dan in­dependensi yang disandangnya, kepolisian seharusnya tidak hanya bisa menjerat pelaku sekelas Kompol Iwan Cs. “Beking kakapnya itu yang per­lu diungkap agar kita menjadi tahu masalah plesiran Gayus ini lebih  jelas,” imbuhnya.   [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA