Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Sugeng Kondur, Lord! (2)

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/ak-supriyanto-5'>AK SUPRIYANTO</a>
OLEH: AK SUPRIYANTO
  • Kamis, 07 Mei 2020, 00:06 WIB
Sugeng Kondur, Lord! (2)
Didi Kempot/Net
DIDIK. Saya lebih suka menulisnya demikian ketimbang Didi. Ada bunyi konsonan mati di akhir nama, sesuai yang saya dengar dari Mamiek maupun Mbah Ranto. Juga lebih pas dengan kebiasaan lidah Jawa saya dalam mengeja nama seperti itu.

Kesan pertama saya, Didik adalah seorang seniman yang punctual, tepat waktu, menghargai janji. Ia sudah ada di rumah Mbah Ranto sebelum saya datang. Penampilannya juga teramat trendy.

‘Prejengan’ Didik kala itu lebih mirip sebagai aktor martial art atau awak band rock melayu, ketimbang sebagai bintang pop Jawa. Pemuda berbadan gelap yang mengendarai moge dengan setelan dan asesoris pas: rompi gelap, celana jeans, dan kalung metal. Rambutnya yang panjang berombak dikucir rapi ala Steven Seagal atau Lorenzo Lamas pemeran serial Renegade.

Setelah melihatnya, saya kemudian menebak-nebak kenapa kulit Didik jauh lebih gelap dibandingkan Mamiek, Sentot, atau Mbah Ranto. Seperti yang kemudian dikisahkannya, ia bertahun-tahun menjalani karir sebagai pengamen jalanan di belantara beton Jakarta.

Didik mengakrabi terik matahari, sengatan aspal dan trotoar di siang hari, dengan segala debu dan kotoran yang melayang-layang lalu menyergap tubuh jadi daki tebal.

Kami kemudian berkenalan dan berbincang santai. Didik besar di jalan dan melalui sebagian hidupnya dalam fase yang penuh keprihatinan. Kami cepat akrab karena dia pandai menyambut pertanyaan-pertanyaan ringan saya. Didik bicara rileks dan kisahnya mengalir lancar. Ia bukan tipe orang yang banyak basa-basi. Sejarah karirnya, dari A sampai Z, diceritakan sambil sesekali menyeka mukanya yang basah oleh keringat.

Udara Solo memang panas walau resminya belum masuk musim kemarau.

Pada mulanya adalah mengamen. Ya, Didik mengawali sejarah kesenimannya dari mengamen. Kenapa mengamen? Karena ia sudah sejak kecil berkenalan dengan seni, termasuk musik, baik tradisi dan pop, dari Mbah Ranto. Sejak kelas 3 SMP ia mengamen sehingga minat meneruskan sekolah pupus dengan sendirinya.

Menurut Mbah Ranto, seniman tak memerlukan sekolah tinggi-tinggi. Seniman harus belajar dari masyarakat langsung dan berproses bersamanya. Dengan teman-teman remajanya, Didik mengamen di jalanan kota Solo.

Stasiun kereta api Balapan, adalah salah satu lokasi favoritnya untuk genjrang-genjreng, hingga kemudian mengilhaminya untuk menciptakan sebuah lagu berlirik Jawa yang tergolong everlasting: Stasiun Balapan.

Dari Solo, ia bertaruh hidup di Jakarta. Sempat ngekos di Kemanggisan beramai-ramai dengan rombongan migran pengamen asal Solo, dengan episentrum kegiatan mengamen di Slipi dan sekitarnya. Ia mengenang derita tidur di bawah jembatan layang Slipi kala sedang tak memiliki tempat tinggal. Tubuh yang kurus kala itu harus mampu rebah bersandar tembok beton atau beralas konblok.

Di bawah kerasnya kehidupan di bawah jembatan layang itu pula, dia akhir 80-an itu, Ia dan teman-temannya memberi nama kumpulan mereka sebagai Kelompok Penyanyi Trotoar atau disingkat Kempot. Singkatan itulah yang kemudian dicomot jadi bagian dari nama panggung Didik hingga ia meninggal.

Suatu kali, Didik mengamen di sebuah rumah makan yang ramai. Di situ, ia kaget ternyata ada pengunjung yang memberikan uang lebih banyak. Rupanya ada Mamiek bersama teman-teman entertainer ibukota sedang makan di sana. Dalam hati, Mamiek yang sudah lama tak bertemu adiknya merasa sedih dan menangis menyaksikan Didik mengamen. Meskipun demikian, ia belum sempat berkata-kata banyak dengan sang adik.

Pada kesempatan lain, ketika mengamen di sebuah rumah, Didik tak tahu bahwa di dalam kaca ruang tamu yang gelap itu ada Mamiek yang memendam gejolak hati sambil menunggunya bernyanyi hingga usai. Lalu, meledaklah tangis. Mamiek menghambur keluar rumah dan memeluk adiknya yang makin hitam, kurus, dekil, dan gondrong. Dalam sesunggukan ia merayu Didik untuk pulang ke Solo.

“Ayo Dik, bali wae.”

Didik, juga dalam tangis, bergeming pada ajakan sang kakak.

“Ora. Aku isih berjuang.”

Dalam masa lara lapa itu, Didik pernah jatuh cinta dan pernah gagal. Lirik-lirik lagu cintanya yang puitis, sedikit banyak diilhami pengalaman jatuh bangun mengejar asmara. Tapi akhirnya ia bertemu juga dengan perempuan yang menjadi tambatan hati. Seorang gadis pekerja asal sebuah desa di Ngawi, tak jauh dari kampung asal ibunya, yang ia cintai dengan tulus dan kelak ia dinikahi.

Seperti ketekunannya berjuang agar karya-karya seninya diakui, seperti itu pula ketekunan Didik merawat cinta. Ia merasa bahwa Saputri adalah kekuatan spiritualnya. Sang pujaan hati konon adalah muslimah yang saleh dan penyabar yang rajin berdoa.

Melihat ketekunan Didik, akhirnya Mamiek berinisiatif mengenalkan Didik pada Pompi, seorang komposer dan produser musik kenamaan para kurun 80-90-an. Mamiek telah malang melintang dalam jagad hiburan tanah air sebagai pelawak. Ia punya koneksi personal ke awak-awak dapur rekaman, salah satunya Pompi.

Melalui jalur Pompi inilah, jalan Didik untuk merekam lagu-lagunya mulai terbuka. Ia awalnya mendapat kesempatan untuk merekam sebuah album pop Jawa, tapi tak terangkat ke permukaan. Ada pula album keroyokan dengan artis-artis dangdut yang lebih mapan di awal 90-an, tapi juga kurang mengerek namanya. Pun juga sebuah album duet dengan pelawak Yati Pesek asal Jogjakarta yang oleh MSC diedarkan sekitar tahun 96: kurang direken oleh pasar.  

Musik dangdut maupun pop di tanah air saat itu berkembang pesat, dan Didik sudah bertempur untuk menancapkan eksistensinya. Sayang, segenap upaya yang dilakukannya belum mampu menyurungkan namanya ke deretan elite musisi Indonesia.

Barangkali, sejarah kesuksesan seorang memang harus berputar dulu, melalui migrasi ke tempat yang tak terduga sebelumnya. Kebetulan, pada saat itu, ada seorang pebisnis dan produser keturunan Jawa yang hidupnya di antara Suriname dan Belanda bernama Pat Amat Marwan sedang mencari penyanyi Jawa untuk diorbitkan di negerinya. Di Jakarta, ia mendapatkan satu orang yang menurutnya cocok bagi kebutuhannya: Didik.

Komunitas Jawa cukup besar di Suriname, dan mereka sedang rindu-rindunya dengan aneka produk seni budaya dari tanah lelulur. Hidup bergenerasi yang jauh dari kampung moyang tak membuat akar kejawaan mereka tercerabut. Mr. Amat jeli mengamati hal tersebut. Baginya, kehadiran seorang penyanyi yang memiliki ketrampilan menulis lagu dan lirik sederhana nan mengena bakal menjadi oase bagi dahaga seni dan romantisme Jawa di Suriname.

Walhasil, Didik akhirnya diajak melalangbuana ke Belanda dan Suriname, rekaman, dan menelurkan beberapa album dalam bentuk CD dan VCD musik. Sesuai prediksi Mr. Amat, lagu dan album Didik kemudian booming: disambut sangat antusias. Konser-konser pun digelar dan selalu ramai. Ia dielu-elukan bak ‘Michael Jackson Jawa’.

Di hadapan saya, Didik lalu mendendangkan sebuah lagu yang paling hit dari album-albumnya era Suriname: “Angin Paramaribo”. Lagu pop mendayu dengan sedikit sentuhan rock yang berkisah tentang kerinduan seorang pria kepada gadis pujaannya. Saya kemudian diberikan sebuah CD dan sebuah VCD musik yang saya ingat bersampul merah untuk saya bawa pulang sebagai bahan apresiasi.

“Angin Paramaribo, tansah ngelingake, aku ora bakal, lali karo kowe….. Aku kangen kowe, tak enteni saktekane…”

Paramaribo adalah ibukota negara Suriname. Sebuah kota kosmopolit yang didiami beragam suku bangsa: Jawa, Kreol, Afro, keturunan India, hingga kulit putih. Tak heran jika model yang digunakan dalam video klip itu adalah seorang gadis kulit putih berambut blonde nan tinggi semampai. Sebuah perasaan rindu yang diekspresikan secara Jawa, namun melintas batas-batas kejawaan. (Bersambung)rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA