Asean Korea Coopertion Onwards
ASEAN-KOREA Cooperation Upgrade
Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Lubang Buaya Cemetuk Banyuwangi

Oleh: Ahmad Hafiluddin*

Minggu, 10 Oktober 2021, 07:25 WIB
rmol news logo Peristiwa berdarah dengan banyak korban terjadi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada 56 tahun yang lalu. Tepatnya pada tanggal 18 September 1965.

Kala itu, sebanyak 62 orang yang tergabung dalam Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Muncar disebut menjadi korban pembantaian pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI).

Untuk mengenang peristiwa itu, di Dusun Cemetuk RT 03 RW 03, Desa Cluring berdiri sebuah bangunan yang dinamai Lubang Buaya Cemetuk, Banyuwangi. Tempat itu juga dikenal dengan sebutan Monumen Garuda Jaya.

Di Lubang Buaya Cemetuk itu, puluhan Pemuda Ansor dari Kecamatan Muncar disemayamkan di tiga (3) lubang. Satu lubang yang ukurannya sekitar 2x7 meter menampung 42 jenazah. Sementara dua lubang lainnya dengan ukuran sekitar 2x3 meter masing-masing berisi 10 jasad, sehingga berjumlah 62 orang.

Dari Kantor Kecamatan Cluring, lokasi Lubang Buaya Cemetuk berada di sebelah barat melewati pertigaan Patung Minak Jinggo dan berjarak sekitar 3,4 kilometer.

Mayoritas warga Desa Cluring mengetahui arah menuju lokasi Lubang Buaya Cemetuk tersebut, sehingga dapat memudahkan warga dari daerah lain mengunjungi lokasi itu.

"Monumen Lubang Buaya itu dibangun di atas tanah milik embah saya, Wono Karyo. Tapi sudah diwakafkan ke desa oleh embah Jami cucu dari embah Wono," ujar Suyoto cucu lainnya dari Wono Karyo dengan Rasinem saat ditemui Kantor Berita RMOL Jatim di rumahnya, Jumat (8/10).

Waktu kejadian berdarah pada 18 September 1975 itu, Suyoto alias Pak Otok mengaku telah menginjak remaja, antara 14 atau 15 tahun.

Dengan menggunakan bahasa Jawa, dia bercerita bahwa peristiwa berdarah itu tidak terjadi sepenuhnya di Dusun Cemetuk. Melainkan, awalnya terjadi di Dusun Karangasem, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran.

Sembari menyulut rokok kretek, Pak Otok mulai membuka cerita usai melakukan investigasi kecil tentang penulis. Maksud kedatangan hingga tempat tinggal penulis. Selain beberapa pertanyaan lain yang bersifat pribadi, Jumat itu, antara pukul 12.45 hingga 14.16 WIB.

Waktu itu, kata dia, perkelahian antara puluhan warga Muncar yang tergabung dalam organisasi Ansor terjadi di bilangan Dusun Karangasem, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran. Dusun Karangasem sendiri dengan Dusun Cemetuk secara teritorial berbatasan langsung.

"Di lokasi monumen juga ada makam embah Wono Karyo dan embah Rasinem serta cucunya. Makam itu sudah ada sebelum peristiwa pertumpahan darah," katanya bercerita.

Markas PKI Tekek Meleng dan Jatuhnya Korban


Nah, puluhan Ansor dari Muncar (diperkirakan waktu itu jumlahnya lebih dari 62 orang) berniat menyerbu warga Karangasem, yang saat itu terdapat markas PKI. Yang dituju adalah tempat salah satu preman atau tokoh PKI yang dikenal dengan nama Tekek Meleng.

Konon, pada 18 September 1965, di Karangasem tengah terjadi sebuah pertemuan pengikut Partai Komunis Indonesia.

Ketua RT 03 RW 03 Dusun Cemetuk, Wiwit Wijiantoro (61) menambahkan, berdasarkan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat Cemetuk, puluhan warga Ansor saat itu menggunakan kendaraan truk untuk menuju Karangasem.

Menurut cerita, mereka membawa senjata seperti pedang, celurit, parang, dan beberapa senjata tajam yang populer di masa itu.

Perkelahian yang mengakibatkan pertumpahan darah itu, terjadi sekitar waktu sore hingga malam hari di sekitar perbatasan dua dusun hingga di Dusun Cemetuk sendiri.

"Kemungkinan besar, orang yang dari Ansor Muncar mungkin kalah jumlah dan senjata. Sedangkan orang Karangasem mungkin persiapan senjatanya komplit karena di markasnya, saat terjadi pertumpahan darah," kata Wiji.

Karena kalah jumlah, anggota Ansor Muncar berniat menyelamatkan diri dan lari ke arah timut ke Dusun Cemetuk.

Masih berdasarkan cerita masyarakat yang dikumpulkannya, anggota Ansor Muncar yang masuk ke wilayah Dusun Cemetuk akhirnya juga dibunuh oleh algojo dan anggota PKI setempat.

"Ada yang mati di sawah, di sungai, di kebun. Tidak tahu kenapa dibawa ke sini. Di sini dulu hanya lubang biasa ada satu. Mungkin karena terlalu banyak jadi ada dua lubang lagi," kisah dia yang berasal dari Desa Yosomulyo.

Korban-korban yang dibunuh waktu itu, tidak terjadi sekaligus, tapi masih dalam satu hari itu. Datangnya jasad-jasad korban dalam pertumpahan darah itu ada yang 5, 3, 2 dan seterusnya lalu dibawa ke lokasi.

Hingga saat ini, kata Wiji menambahkan, tidak ada warga yang mengetahui nama-nama atau identitas dari korban yang berjumlah 62 orang tersebut. Termasuk dari pihak keluarga, juga tidak ada yang mencari ataupun menelusuri.

Lahan yang dibangun Monumen Lubang Buaya itu, memiliki luas sekitar 500 meter persegi. Dengan lebar sekitar 10 meter dan panjang 50 meter. Di sisi kiri dan depan bangunan itu terdapat sungai kecil, tepat di pertigaan kampung.

Tampak dari depan akan terlihat patung Garuda yang membentang tepat di tengah-tengah. Disusul dua patung Minak Jinggo yang terdapat tulisan aksara Jawa dibelakang garuda.

Setelah melewati patung garuda dan Minak Jinggo itu, barulah terlihat tiga Lubang Buaya. Satu lubang di depan dan dua lainnya di sisi belakang. Selain itu juga ada tembok relief di sisi kiri, sehingga menutupi keberadaan tiga Lubang Buaya tersebut dari jalan.

"Monumen itu diperbarui sekitar tahun 1997, untuk bulannya saya tidak ingat, waktu itu juga tidak diberi keterangan waktu," ujar bapak yang menjadi warga Cemetuk sejak tahun 1980-an itu.

Siswa SD di Monumen Lubang Buaya Cemetuk: Itu Kepalanya Kok Dipukul Sampai Berdarah


Setiap tanggal 29 September hingga 1 Oktober Hari Kesaktian Pancasila, Monumen Lubang Buaya setiap tahunnya rutin dikunjungi masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk dari Ansor.

Selain itu, juga oleh para siswa SMP dan SMA/SMK, baik dari wilayah Kecamatan Cluring ataupun dari daerah lain, secara bergantian mengunjungi Monumen Lubang Buaya. Termasuk siswa tingkat TK dan SD.

Suatu waktu, sebelum Covid-19 mewabah, Wiji mengaku, sempat kebingungan memilih kata-kata untuk menjawab pertanyaan dari siswa SD.

Kalau pertanyaan dari pelajar usai SMP sampai SMA, kata dia, masih mudah untuk menjelaskan. Itu lantaran tentang kejadiannya, berapa jumlah korban yang meninggal dan beberapa pertanyaan seputar peristiwa tersebut.

"Nah, ada anak masih SD tanyanya mudah sebenarnya tapi bagi saya sulit menjelaskan. Dia tanya, kenapa kepalanya kok dipukul sampai ada darah-darahnya, saya bingung menjawab, takut disalah artikan nanti. Untungnya waktu itu guru pendampingnya ikut menjelaskan. Sebenarnya mudah kalau yang tanya anak SMP atau SMA, lah ini masih SD," ulasnya sambil tertawa kecil.

Memang, di beberapa relief yang ada di bawah patung Garuda samping kiri dan kanan serta tembok monumen terdapat gambar yang menyiratkan kekerasan.

Namun demikian, setiap harinya di kawasan monumen itu ada petugas yang setiap hari menjaga, membersihkan hingga menyambut pengunjung yang datang. Dialah Supingi (63) yang rumahnya bersebelahan dengan Monumen Lubang Buaya.

"D Kalau yang berkunjung ke tempat ini, itu ada dari sekolah MAN Genteng, TK daerah sini, Ansor, Lazisnu, TK Bhayangkari Jajag, dari Surabaya juga ada," ujarnya.

"Biasanya ya antara tanggal 29, 30, tanggal 1 Oktober pas Hari Kesaktian Pancasila itu," imbuhnya.

Semenjak tahun 1994, Supingi mengaku juga mendapatkan insentif dari merawat monumen.

"Ya kadang-kadang ada tapi tidak tentu. Kadang dari pengunjung yang ke tempat ini. Kadang juga gak ada sama sekali," sebutnya yang memilih tidak banyak bercerita.

Sementara, salah satu pengunjung Yanti dari Jakarta Timur saat itu juga datang ke Monumen Lubang Buaya Cemetuk bersama suami dan anak-anak serta cucunya.

"Ya kita pengen tahu aja ada Monumen Pancasila di sini, kan cuma ada dua ya, 1 di Banyuwangi satu di Jakarta," kata Yanti didampingi suaminya.

Menurut mereka, cerita mengenai jejak adanya Partai Komunis Indonesia dinilai perlu untuk diberitahukan kepada anak dan cucunya, sehingga dapat dijadikan sebagai wawasan.

"Tahu sendiri kan kalau anak-anak milenial itu ngomongnya cuma katanya-katanya. Makanya kita ke sini agar mereka tahu langsung," ujar dia yang mengaku tinggal tidak jauh dari Taman Mini Indonesia Indah. rmol news logo article

*Penulis adalah Wartawan Kantor Berita RMOL Jatim

ARTIKEL LAINNYA