Transparancy International yang berkantor pusat di Berlin, JerÂman menggelar konferensi anti korupsi atau International Anti-Corruption Conference yang ke-14 di Bangkok, Thailand pada 9-13 November 2010.
Konferensi itu akan memperteÂmukan aktivis, peneliti serta pengÂÂambil kebijakan hingga sekÂtor swasta dari berbagai penjuru dunia untuk membangun gerakan anti korupsi internasional. Acara itu sendiri akan mengusung tema
“Restoring Trust: Global Action For Transparency†atau yang bisa disebut dengan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Indonesia akan diwakili pegiat anti korupsi dari Transparancy International Indonesia (TII), Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gajah Mada (PUKAT UGM). Perwakilan KoÂmisi Pemberantasan Korupsi juga akan menghadiri acara tersebut.
Isu utama yang akan diangkat dalam konferensi itu adalah upaya pelemahan terhadap Komisi PemÂberantasan Korupsi. “Karena KPK saat ini sedang habis dihajar kanan kiri. Sehingga, berimbas pada indeks persepsi korupsi Indonesia yang pada 2010 tidak beranjak pada skor 2,8,†kata Deputi Koordinator Badan PeÂkerja ICW, Adnan Topan Husodo, di kantor TII, Jakarta.
Menurut Adnan, upaya peÂleÂmahan KPK, antara lain, menyaÂngkut ketidakjelasan status dua pemimpin KPK, yaitu Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto. “KPK yang telah menunjukkan arah yang positif dalam pembeÂrantasan korupsi justru menghaÂdapi resistensi politik. Dukungan politik terhadap KPK sangat lemah, termasuk dukungan peÂmeÂrintah,†katanya.
Menurut Adnan, realitas peleÂmaÂhan KPK merupakan sebuah fakta yang ironis. Pasalnya, daÂlam konteks global, komisi indeÂpenden merupakan jawaban atas mandulnya penegakan huÂkum dalam penuntasan kasus korupsi. SehiÂngga, lanjut dia, rekoÂmenÂdasi konferensi negara peserta UNCAC 2003 lalu menitikÂberatÂkan pada peningÂkatan tanggung jaÂwab negara peserta untuk menÂjaga, memeÂlihara dan memperÂkuat lembaga independen anti korupsi.
“Tapi anehnya, yang kita lihat justru ketika KPK mulai menunÂjukÂÂkan kinerjanya, justru dileÂmahÂkan secara politik. LingkuÂngan poliÂtik tidak mendukung sama sekaÂli keberlanjutan KPK,†tegasnya.
Oleh karena itu, lanjut Adnan, jangan heran apabila indeks perÂsepsi korupsi di Indonesia masih sama dengan tahun sebeÂlumÂnya, yaitu berkisar pada level 2,8. “TiÂdak menunjukkan perÂkemÂbangan yang berarti. Kami merasa perlu ada yang dibenahi,†imbuhnya.
Wakil Kapala Divisi Humas MaÂbes Polri, Brigjen Ketut UnÂtung Yoga menegaskan, upaya peleÂmahan terhadap KPK oleh lembaga penegak hukum itu hanya isu yang tidak ada buktiÂnya. “Yang ada justru selama ini saling bantu,†bantahnya.
Ketut justru mempertanyakan, bukti apa yang bisa menguatkan jika KPK telah dilemahkan saat ini. “Itu baru katanya, saya senÂdiri belum melihat bukti itu dengan nyata,†ujarnya.
Sedangkan Jaksa Agung Muda Pengawasan Marwan Effendy enggan memberikan komentar terhadap masalah tersebut. “Saya tidak bisa memberikan komentar apa-apa, itu bukan kewenangan saya,†katanya.
Kepala Humas KPK Johan Budi Sapto Prabowo mengÂapresiasi jalannya acara tersebut. MeÂnurut Johan, acara itu meruÂpakan salah satu sarana untuk bertukar pikiran dan memÂbuka wawasan tentang fenomena pemÂberantasan korupsi yang terjadi di berbagai negara. “Acara ini sangat bagus untuk mengÂetahui sampai sejauh mana pemÂberanÂtasan korupsi di tingkat duÂnia teÂlah dilakukan, dan apa saja kenÂdala yang dihadapi oleh lemÂbaga serta penggiat anti korupsi serta bagaimana mencari solusi yang tepat untuk menyeleÂsaikannya,†ujarnya.
Menurut Johan, acara tersebut akan dihadiri pula oleh Wakil Ketua KPK Mochammad Jasin. SehiÂngga, lanjut dia, acara terÂsebut bukan hanya sebagai ajang untuk para aktivis, tapi juga untuk lembaga independen pemberanÂtas korupsi. “Pak Jasin besok akan menghadiri acara tersebut. Acara itu juga untuk menjalin kerjaÂsama dengan KPK dari luar negeri. Sehingga pertukaran inforÂmasi akan sangat mudah tercapai. Saat ini KPK Indonesia juga telah bekerjasama dengan beberapa KPK dari luar negeri,†ucapnya.
Mengenai isu pelemahan terhaÂdap KPK yang akan dibawa ke konÂferensi tersebut, Johan meÂnamÂbahkan, hal itu sah-sah saja selama ada bukti yang konkrit. “Silakan saja, tetapi perlu diduÂkung dengan data,†katanya.
Ada Sesuatu yang JanggalIlham Saenong, Manager Anti Corruption Information Center TII International Anti CorÂruption Conference ke-14 di BangÂkok, Thailand merupakan konferensi anti korupsi yang mempertemukan seluruh aktiÂvis, peneliti serta lembaga indeÂpenden pemberantasan korupsi. Acara itu akan mengusung tema
“Restoring Trust: Global Action For Transparency†atau yang bisa disebut dengan keperÂcayaan publik terhadap pemeÂrintah.
“Di era transparansi ini, mengÂÂembalikan kepercayaan pubÂlik bukanlah hal yang muÂdah. Hal itu membutuhkan tinÂdaÂkan nyata dari semua elemen, terÂutama pemerintah,†kata MaÂnager Anti Corruption InformaÂtion Center TII, Ilham Saenong di kantor TII, Jakarta.
Menurut Ilham, isu yang akan diangkat dalam konfrensi itu antara lain pelemahan terhaÂdap KPK. Ilham menuturkan, KPK yang merupakan lembaga independen saat ini sedang mengalami distorsi akibat tekaÂnan dari kanan kiri. “Kita prihaÂtin, indeks pemberantasan koÂrupÂsi kita di mata dunia, poinÂnya hanya 2,8, masih sama seperÂti tahun sebelumnya dan tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan, berarti ada seÂsuatu yang janggal di sini,†katanya.
Menurut Ilham, Indonesia saat ini sedang menghadapi berbagai macam bentuk hamÂbatan dalam menangani pembeÂrantasan korupsi. “Beberapa kasus korupsi tidak ditangani secara tuntas,†imbuhnya.
Oleh karena itu, lanjut Ilham, konferensi yang diadakan setiap dua sampai empat tahun sekali itu, diharapkan menjadi masuÂkan bagi pemerintah untuk meninÂdaklanjuti penyelesaian kasus korupsi di Indonesia. “Kita tidak mau Indonesia menjadi negara yang dipenuhi tangan-tangan koruptor, selain itu kita juga meminta ketegasan pemerintah untuk mengapreÂsiasi penyelesaian kasus korupÂsi sampai tuntas,†tandasnya.
Ilham menambahkan, masyaÂraÂkat juga perlu mengawasi jalannya pemerintahan. SoalÂnya, dengan dilakukan pengÂawaÂsan oleh publik, maka perÂwujuÂdan
good government di Indonesia akan mudah dicapai.
KPK Masih Lemah Lakukan Pencegahan Korupsi ke Pejabat Yahdil Harahap, Anggota Komisi III DPRKonferensi internasional anti korupsi ke-14 di Bangkok direspons positif oleh anggota Komisi III DPR. Pasalnya, acaÂra tersebut bisa menjadi ajang untuk mengetahui dan juga pertukaran informasi mengenai strategi pemberantaÂsan korupsi.
“Saya sangat apresiasi acara seÂperti itu. Dengan mengangkat tema-tema yang sedang hangat dibicarakan, tentunya akan meÂnamÂbah wawasan juga bagi KPK dan lembaga penggiat anti koÂrupsi tersebut,†kata anggota KoÂmisi III DPR, Yahdil HaraÂhap.
Menurut Yahdil, suatu lembaga pemberantasan korupÂsi di negara manapun pasti menÂdaÂpatkan reaksi perlawaÂnan dari lawan-lawannya. MaÂkaÂÂnya, lanjut Yahdil, acara terÂseÂbut digunakan sebaik mungÂkin untuk mengetahui bagaiÂmana strategi yang digunakan untuk memberantas korupsi. “Saya rasa sangat wajar jika ada suatu lembaga pemberantas korupsi tidak disukai oleh suatu pihak atau oknum tertentu, sehingga terkesan sedang dilemahkan,†katanya.
Dengan hadirnya KPK dalam acara tersebut, Yahdil berharap lembaga superbodi itu dapat mengÂÂambil pelajaran dari lemÂbaga pemberantasan korupsi di Negara lain. “Jika tidak, maka percuma saja ikut menghadiri acara tersebut,†tandasnya.
Menurut Yahdil, aplikasi dari acara tersebut dapat langsung dipraktikkan di Indonesia yang sedang dilanda masalah korupÂsi. “Korupsi di Indonesia ini baÂgaiÂkan hantu yang sedang menakuti semua orang, saya harap ini dilakukan secara nyata oleh KPK nantinya,†ujarnya.
Politisi PAN ini menamÂbahÂkan, faktor kelemahan KPK sekarang adalah pencegahan terÂhaÂdap praktik korupsi. MenuÂrut Yahdil, faktor penceÂgahan merupakan salah satu poin penting yang harus dilakuÂkan. “KPK sangat minim memÂbeÂrikan penyuluhan anti korupÂsi ke lembaga-lembaga pemeÂrinÂtahan,†katanya.
Yahdil berharap, pasca seleÂsainya acara tersebut, KPK beserÂta lembaga penggiat anti korupÂsi dapat memberitahukan kepaÂda publik mengenai hasilÂnya. Soalnya, hal itu merupakan saÂlah satu bagian dari bentuk transÂparansi.
[RM]
BERITA TERKAIT: