Sebelum matahari sempat menyapa Bali pada Jumat 24 Juli 2026, sekitar pukul 01.30 WITA, sebuah tragedi telah lebih dulu menorehkan luka mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh.
Di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, seekor ayam menjadi awal dari kisah yang berakhir dengan hilangnya nyawa seorang ayah dan hancurnya masa depan sebuah keluarga.
Korban berinisial KD, warga Desa Sidetapa, Buleleng, datang ke Tabanan menggunakan sepeda motor. Ia diduga kedapatan mencuri seekor ayam aduan milik I Wayan Adi Suteja (31).
Dugaan itu kemudian berubah menjadi hukuman jalanan. Massa mengeroyoknya hingga tewas. Polisi mengamankan ayam tersebut, sebilah golok, sebuah tas berisi tang, ketapel, batu, serta uang tunai yang diduga milik KD. Sepeda motornya dibakar hingga hanya menyisakan rangka besi yang menghitam.
Namun, di atas semua barang bukti itu, ada satu bukti tak pernah bisa dimasukkan ke dalam kantong plastik penyidik, hancurnya hati tiga orang anak kehilangan ayah.
Anak pertama telah menikah. Anak kedua masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Yang paling kecil, seorang bocah perempuan kelas 1 SD, harus menerima pelajaran hidup paling kejam bahkan sebelum ia memahami arti kehidupan itu sendiri.
Inilah bagian membuat siapa pun yang masih memiliki hati akan sulit menahan air mata.
Di tengah kerumunan warga, bocah kecil itu menangis meraung-raung. Suaranya pecah memanggil satu nama yang tak akan pernah lagi menjawab.
"Bapak...! Bapak...! Bapak...!"
Ia berusaha berlari. Tubuh mungilnya meronta ingin mendekati ayahnya. Namun dua orang perempuan memegang erat dirinya agar tidak mendekat.
Kedua tangannya terus bergerak, kakinya terus mencoba melangkah, seolah seluruh tenaganya dikerahkan hanya untuk memeluk ayahnya sekali saja.
Pelukan itu tak pernah sampai.
Beberapa meter di depannya, tubuh KD terbujur di tengah jalan. Kedua kakinya terikat. Wajahnya ditutupi. Ia membisu, dikelilingi warga yang hanya berdiri memandang.
Pemandangan itu begitu memilukan. Cara tubuh itu tergeletak mengingatkan pada seekor binatang buruan yang baru saja ditangkap, bukan seorang manusia pernah menjadi kepala keluarga, yang pernah menggendong anak-anaknya, yang pernah menjadi tempat mereka pulang.
"Bapak...! Bapak...! Bapak...!"
Jeritan itu terus menggema memecah dini hari. Langit seolah ikut membisu. Angin pun terasa enggan berembus. Tidak ada yang mampu mengembalikan suara ayahnya. Tidak ada yang mampu menjawab tangisan anak kecil itu.
Barangkali ia belum mengerti apa itu pencurian. Ia belum memahami apa itu hukum. Yang ia tahu hanya satu, ayahnya ada di depan mata, tetapi ia tak bisa menyentuhnya. Ayahnya begitu dekat, tetapi terasa lebih jauh dari langit.
Luka seperti itu tidak selesai ketika pemakaman usai. Ia akan tumbuh bersama anak itu. Setiap ulang tahun, setiap hari pertama masuk sekolah, setiap wisuda, mungkin hingga hari pernikahannya kelak, akan selalu ada ruang kosong tak pernah bisa diisi siapa pun.
Ironinya, negeri ini sering mempertontonkan wajah keadilan terasa begitu kontras. Ada orang diduga mencuri seekor ayam kehilangan nyawa di tangan massa.
Di sisi lain, berkali-kali publik menyaksikan orang-orang merugikan negara hingga triliunan rupiah datang ke pemeriksaan dengan pakaian rapi, wajah tersenyum, melambaikan tangan ke kamera. Bahkan, masih sempat melempar candaan.
Bukan untuk membandingkan nilai sebuah kejahatan, sebab setiap pelanggaran hukum tetap harus dipertanggungjawabkan. Tetapi hukum tidak boleh digantikan oleh amarah.
Sebab ketika massa menjadi hakim, yang paling menderita sering kali bukan hanya pelaku, melainkan keluarga yang sama sekali tidak ikut bersalah.
Kini Polda Bali masih melakukan penyelidikan. Saksi-saksi diperiksa. Rekaman CCTV dianalisis. Kepala Desa Sidetapa pun menyayangkan hilangnya satu nyawa hanya karena dugaan pencurian seekor ayam.
Seekor ayam bisa diganti. Sepeda motor dibakar masih bisa dibeli kembali. Uang hilang masih mungkin dicari lagi. Tetapi seorang ayah tidak memiliki pengganti. Tidak ada toko menjual pelukan terakhir. Tidak ada pengadilan mampu mengembalikan seorang ayah kepada anaknya.
Mungkin, ketika orang-orang telah melupakan nama KD, akan tetap ada seorang perempuan yang setiap kali mengingat malam itu, masih mendengar gema suaranya sendiri yang serak memanggil, "Bapak...! Bapak...! Bapak...!" Sementara di pelupuk matanya, tubuh sang ayah akan selalu terlihat terbujur di jalan, kedua kakinya terikat, wajahnya tertutup, dikelilingi orang-orang yang hanya diam.
Sebuah pemandangan yang terlalu menyayat hati untuk dilupakan, dan terlalu mahal untuk kembali terulang di negeri mengaku menjunjung tinggi hukum.
Rosadi JamaniWartawan Wartawan
BERITA TERKAIT: