Ruang itu kini salah satunya berada di layar yang kita pegang hampir setiap hari. Setiap menit, kita menerima begitu banyak informasi. Berita, video pendek, komentar, potongan pernyataan, hingga berbagai narasi yang muncul silih berganti.
Namun ada sesuatu yang sering luput disadari: kita tidak selalu melihat informasi yang sama. Dua orang bisa membuka media sosial pada waktu yang sama, tetapi menemukan isi linimasa yang berbeda.
Seseorang terus melihat informasi yang mendukung pandangannya. Orang lain justru melihat informasi yang berlawanan. Akhirnya, keduanya bisa sama-sama merasa paling memahami keadaan.
Padahal, mereka mungkin sedang melihat dua potongan realitas yang berbeda. Ketika kita hidup dalam ruang informasi sendiri. Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah echo chamber, atau ruang gema.
Sederhananya, kita lebih sering mendengar pendapat yang mirip dengan apa yang sudah kita percaya. Informasi yang sejalan mendapatkan perhatian dan interaksi, sementara pandangan berbeda semakin jarang masuk ke percakapan kita.
Bukan berarti setiap pengguna media sosial otomatis terjebak dalam ruang gema. Penelitian menunjukkan pola paparan informasi di platform sangat beragam, dan peran algoritma maupun pilihan pengguna sama-sama penting.
Tetapi ketika ruang informasi menjadi semakin homogen, satu persoalan bisa muncul: perbedaan pendapat perlahan berubah menjadi perbedaan cara melihat kenyataan. Kita tidak hanya berbeda kesimpulan.
Kita bisa berbeda dalam menentukan fakta mana yang dianggap penting, siapa yang dipercaya, dan narasi mana yang dianggap benar.
Di sinilah polarisasi menjadi lebih sulit dikelola. Ketika perbedaan informasi menjadi bahan bakar konflik!
Bayangkan sebuah peristiwa terjadi. Kelompok pertama menerima informasi yang menggambarkannya sebagai persoalan serius.
Kelompok kedua mendapatkan narasi yang sama sekali berbeda. Masing-masing kemudian membagikan informasi kepada lingkarannya sendiri.
Narasi semakin kuat. Emosi ikut bergerak. Kecurigaan tumbuh. Pada kondisi seperti ini, informasi yang tidak benar atau setengah benar pun dapat semakin mudah dipercaya ketika sesuai dengan keyakinan yang sudah ada. Dan ketika perdebatan di ruang digital terus membesar, dampaknya tidak selalu berhenti di layar.
Perbedaan Informasi Dapat Memperlebar Jarak Sosial Inilah salah satu persoalan yang dibahas dalam kajian perang kognitif: bagaimana pertarungan narasi, perebutan perhatian, pembentukan persepsi, dan mobilisasi emosi dapat bekerja di tengah masyarakat yang semakin terkoneksi secara digital.
Mungkin ini bentuk perang yang paling sulit kita lihat. Kita bisa melihat gedung yang rusak, bisa melihat kerumunan, bisa melihat sebuah peristiwa menjadi viral.
Tetapi jauh sebelum semua itu terjadi, mungkin sudah ada sesuatu yang berlangsung di ruang yang tidak terlihat: cara manusia membentuk persepsi.
Karena itu, pertahanan di era digital tidak cukup hanya dengan melindungi jaringan dan perangkat. Kita juga perlu membangun ketahanan kognitif.
Kemampuan untuk berhenti sebelum bereaksi. Memeriksa sumber. Membandingkan informasi. Mengenali bias. Dan menyadari bahwa apa yang muncul di linimasa kita bukanlah keseluruhan dunia.
Persoalan inilah yang kemudian dibahas secara lebih luas dalam buku "Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025" karya Brigjen TNI Dr. Agus Bhakti.
Bukan sekadar tentang perang atau demonstrasi, tetapi tentang medan pertempuran yang sering kali tidak terlihat: pertarungan narasi, perebutan perhatian, pembentukan persepsi, dan mobilisasi emosi.
Sebab, perang abad ke-21 mungkin tidak selalu dimulai dengan suara senjata. Bisa jadi, ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: sebuah informasi yang kita percaya tanpa pernah kita periksa.
Karena di era ketika informasi bisa membentuk persepsi, menjaga pikiran tetap jernih mungkin adalah bentuk pertahanan yang paling penting.
Sebab, sebelum sebuah perang memenangkan medan, ia terlebih dahulu berusaha memenangkan pikiran.
BERITA TERKAIT: