Tercatat di sana berdiri sebuah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam investasi pembangunan solar panel. Hualian Holding Group namanya. Ke sinilah saya diajak berkunjung beberapa waktu lalu.
Saya meluncur dari penginapan di Kota Changzhou menuju Yangzhong sekitar pukul 9 sembilan pagi waktu setempat. (Kalau di Indonesia pukul 8; antara Indonesia dan China terpaut satu jam lebih lambat). Diperlukan satu jam lebih sedikit berkendara agar sampai di Yangzhong, sebuah kecamatan di Kabupaten Zhenjiang, Provinsi Jiangsu.
Galibnya kota-kota di seantero China, jaringan jalan bebas hambatan atau expressway mengular menghubungkan keduanya. Tentu saja juga ke kota-kota lainnya yang berjarak ribuan kilometer. Saya pun sampai di sebuah kompleks perkantoran--seperti rumah toko di kita--yang menjadi kantor pusat grup.
Sesampai di lokasi, seorang profesor hukum di salah satu universitas di Shanghai menyambut di parkiran dan setelah bersalaman langsung membawa ke lantai teratas menuju ruang direktur utama. Dia teman penulis yang juga berteman dengan kolega yang mengundang ke China kali ini. Kami masuk ke ruangan pemilik sekaligus Chairman Hualian Holding Group: Cao Enfa. Pandangan saya menyapu ruangan yang cukup besar itu dan tertuju kepada sebuah platform steering wheel kapal. Apakah anda seorang pelaut? Pertanyaan ini dilontarkan karena saya betul-betul tidak tahu apa bisnis sang
laoban (bos dalam Bahasa Mandarin). Teman professor dan yang mengundang saya juga tidak mem-brief sedikitpun seputar bisnis Cao Enfa.
Melalui penterjemahnya, lelaki 63 tahun itu menjelaskan bahwa dia bukanlah seorang pelaut. Dan, dalam kultur China, kemudi kapal melambangkan bahwa si empunya ada dalam posisi memimpin. Tidak ada kaitannya dengan profesi pelaut. Tak lama kemudia ia mengajak ke ruang display yang memuat berbagai pernak-pernik dinding, sepertinya visi-misi perusahaan. Dia tidak menjelaskan itu semua, melainkan sebuah maket berukuran kurang-lebih 1 meter kali 1 meter. Alat peraga ini menampilkan dua bangunan seukuran pabrik dengan panel surya memenuhi atapnya. Di halaman depannya, terdapat jajaran panel surya yang didirikan di atas tanah, lalu ada kincir angin serta fasilitas penyimpanan daya listrik yang dihasilkan (baterai) baik yang dihasilkan oleh panel surya maupun kincir angin.
Saya berpikiran Enfa usahanya seputar panel surya dan kincir angin. Ternyata saya salah. Kekeliruan ini terluruskan setelah meninjau sebuah tempat di mana jaringan panel surya-nya Cao berdiri. Fasilitas ini melistriki sebuah rumah sakit berlantai 5 yang sumber sebelumnya berasal dari pembangkitan konvensional.
Pemilik rumah sakit, kata lelaki ini, ingin mengubah sumber listrik untuk bisnisnya dari energi lama ke energi baru yang lebih ramah lingkungan dan murah. Mereka lantas berdiskusi dengan Hualian Group dan kami menawarkan untuk membangun panel surya dan rumah sakit membayar uang bulanannya saja, lanjut Cao.
Investasi kelompok ini mencakup aspek sipil (pembangunan tapak panel surya), jaringan kelistrikan ke rumah sakit dan grid publik dan sebagainya. Semua material atau komponen yang digunakan ada yang disuplai pihak ketiga. Hualian Group juga memproduksi sendiri beberapa di antaranya. Plus, investasi pembangunannya. Di titik ini, saya paham sepenuhnya “mainannya” Cao Enfa.
Cao Enfa tergolong figur unik dalam bisnis energi terbarukan. Dia bukanlah insinyur listrik. Latar belakang pendidikannya justru bertolak belakang: ia kuliah di bidang keuangan dari Nanjing Audit University. Dan, bahkan pernah bekerja di lembaga keuangan. Ketika China mulai mentransformasi sektor kelistrikannya, dari energi fosil menuju energi baru, Cao mencoba keberuntungannya dalam usaha ini. Projek pertama yang digarap adalah pembangunan panel surya di dua lokasi di wilayah Inner Mongolia yang diinisiasi oleh pemerintah setempat. Pembangkit energi surya pertama di Horqin dengan daya sekitar 27,3 MW sementara yang kedua berlokasi Tongliao dengan daya 41,5 MW.
Setelah itu investasinya terus berkembang dan wilayah yang dialiri listrik oleh panel surya atau kincir anginnya melebar ke berbagai wilayah di China. Pada 2017, dia resmi mendirikan Hualian. Kendati bukan “tukang insinyur”, ayah satu putri ini memiliki paten untuk fotovoltaik: teknologi yang digunakan untuk mengubah energi cahaya matahari secara langsung menjadi energi listrik.
Kami kini ingin melebarkan sayap keluar China dan Indonesia merupakan salah satu daerah tujuan yang tengah dipertimbangkan, ungkap Cao Enfa dengan wajah serius. Indonesia merupakan negara yang luas dengan sinar matahari sepanjang tahun. Di samping itu, tingkat elektrifikasi, khususnya di Indonesia timur, terbilang cukup rendah.
Kedua faktor ini merupakan prakondisi yang bagus bagi investasi Hualian Group. Harap dicatat, kami tidak bermaksud apapun dengan pernyataan ini selain keinginan tulus membantu. Tetapi, kami lumayan tahu model bisnis listrik di Indonesia berbeda dengan China. Sehingga, diperlukan sejumlah penjajakan sebelum niat yang ada dapat diwujudkan.
Kita perlu menyambut baik keinginan Hualian Group masuk ke dalam sektor energi terbarukan di Indonesia. Agar mentari bersinar cuan pula seperti di Yangzhou.
Siswanto Rusdi
Direktur The National Maritime Institute (Namarin)
BERITA TERKAIT: