Tatanan Baru Dunia di Bawah Naungan Syariah Islam dan Khilafah

Kamis, 09 April 2026, 05:26 WIB
Tatanan Baru Dunia di Bawah Naungan Syariah Islam dan Khilafah
Bendera Iran. (Foto: Istimewa)
GEJOLAK perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Zionis, memunculkan inisiatif baru untuk membentuk aliansi militer dan keamanan di kawasan Timur Tengah, yang secara eksplisit bertujuan untuk menyingkirkan peran AS dan Israel. 

Usulan ini muncul dari Iran sebagai respons terhadap eskalasi ketegangan di kawasan, terutama pasca serangan militer yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran. 

Inisiatif ini muncul tidak lepas dari kegagalan telak militer Amerika menjaga kawasan, setelah rudal dan drone tempur Iran mampu menjebol sistem pertahanan militer Amerika di sejumlah pangkalan militer di kawasan. 

Fakta tersebut, menimbulkan kekhawatiran negara kawasan atas keamanan nasional mereka yang tidak lagi dapat dijaga oleh Amerika.

Arab Saudi mencoba membentuk aliansi baru dengan Eropa, menghentikan impor senjata pada Amerika. Langkah Arab Saudi ini, selain respons dari pernyataan Trump soal 'MBS mencium pantat Trump', juga karena kesadaran realitas bahwa Amerika sekarang tak lagi bisa menjadi preman bayaran yang tangguh untuk menjalankan tugas menjaga keamanan Saudi.

Sejak terjadi perang Iran, negara di kawasan (Arab Saudi, Qatar, Bahrain, UEA, Irak, Kuwait, Yordania), yang selama ini mengandalkan keamanan mereka pada Amerika dengan menyediakan tanah kedaulatan untuk pangkalan militer Amerika, mulai mengevaluasi kebijakan pertahanan. 

Evaluasi ini berangkat dari realita bahwa Amerika tak lagi dapat diandalkan untuk menjadi payung pengamanan kedaulatan negara mereka.

Evaluasi itu, meliputi tiga skenario utama:

Pertama, kesadaran untuk membangun pertahanan mandiri -- merujuk pada kemampuan pertahanan Iran -- sehingga negara kawasan tidak lagi tergantung pada Amerika dan diperas Amerika untuk membayar uang pengamanan. Strategi ini juga menjadi pilihan utama, disebabkan alasan utama Amerika yang tidak lagi dapat diandalkan, bukan karena besarnya biaya jasa pengamanan.

Namun, skenario ini terganjal pada kemampuan nasional. Dari aspek biaya, bukan masalah. Namun dari sisi teknis, ketersediaan ilmuwan, keteguhan sikap dan prinsip, waktu yang harus dilalui untuk mengembangkan sistem pertahanan mandiri, agak sulit untuk dipenuhi.

Negara-negara Arab ini sudah terbiasa hidup foya-foya dan bergelimang harta. Mereka, tak akan sanggup hidup prihatin, berdikari, mandiri bertahun-tahun, sabar mengembangkan teknologi dan persenjataan militer mandiri seperti Iran

Apalagi jika nanti dalam perjalanannya mendapatkan sanksi ekonomi. Mereka dipastikan tak akan kuat dan tahan banting seperti Iran.

Kedua, membangun aliansi baru dengan negara rival Amerika seperti Eropa atau Rusia dan China. Negosiasi dengan negara baru akan jauh lebih realistis, mengubah peta pertahanan yang lebih multipolar, dan dapat keluar dari hegemoni Amerika yang selama ini mendikte negara kawasan secara unipolar.

Langkah ini, seperti yang telah dirintis Arab Saudi. Saudi tentu akan melirik Inggris sebagai negara Induk Samangnya, yang sejak awal sudah menjadi mitra strategis Saudi saat pertama kali memisahkan diri (Bughot) dari Khilafah Turki Utsmani dan mendirikan entitas Kerajaan Arab Saudi.

Keluar dari ketergantungan terhadap Amerika, dan membuat hubungan dengan sejumlah negara untuk membangun pertahanan, akan menjadikan negara lebih punya pilihan untuk mandiri, dan menetapkan mitra strategis untuk kebijakan pertahanan berdasarkan kepentingan nasional. 

Namun, langkah ini ada kelemahan. Aliansi sifatnya egois dan pragmatis, seperti yang akan penulis uraikan dalam poin ketiga.

Ketiga, mempertimbangkan terlibat bergabung dengan proposal Iran, yakni membentuk aliansi baru di kawasan sebagai alternatif pertanahan, untuk menggantikan peran Amerika yang sudah usang. Itu artinya, akan ada semacam 'Pakta Pertanahan Timur Tengah' yang anggotanya terdiri dari berbagai negara kawasan.

Namun strategi ini juga mengandung kelemahan. Karena Pakta Pertahanan militer itu sangat pragmatis dan egois. Tak akan memberikan bantuan kemanan jika tidak menguntungkan.

Keluhan Amerika terhadap NATO yang tidak mengirimkan pasukan untuk membantu perang melawan Iran, adalah bukti konkretnya.  Meski satu aliansi dengan Amerika di NATO, namun Inggris, Perancis, Spanyol dan sejumlah negara anggota NATO tidak mau membantu Amerika.

Keengganan mereka terlibat dalam perang Iran didasari pada kesadaran bahwa kepentingan nasional mereka tidak diuntungkan. Bergabung dalam perang Iran, hanya akan menguntungkan Amerika dan Israel.

Negara anggota NATO lebih memilih bernegosiasi dengan Iran agar kapal niaga dan minyak mereka bisa melewati Selat Hormouz, ketimbang mengirim pasukan untuk membuka paksa Selat Hormouz bersama Amerika. Terbukti, kapal Perancis dan Spanyol bisa melenggang bebas melewati Selat Hormouz tanpa perlu ikut berkonflik dengan membantu Amerika.

Artinya, aliansi kawasan yang ditawarkan Iran suatu saat juga akan mengalami nasib serupa dengan NATO. Tidak akan efektif karena akan ada konflik kepentingan nasional, yang menyebabkan negara anggota akan egois dan pragmatis.

Satu-satunya solusi bagi negara kawasan agar mandiri dan kuat dalam menjaga keamanan wilayah, sekaligus mampu memaksa dunia menerapkan tatanan baru dalam dunia internasional adalah meninggalkan perangkat hukum internasional lama yang telah usang. Termasuk lembaga-lembaga nirfungsi (PBB, Bank Dunia, dll).

Berikutnya mendirikan entitas negara khilafah di kawasan. Khilafah, tak perlu dideklarasikan di seluruh negara kawasan, cukup di satu wilayah dan dari wilayah tersebut kawasan Timur Tengah diunifikasi menjadi satu kesatuan kekuasaan Islam yang menerapkan syari'at Islam.

Skenario pertahanan kawasan dengan tegaknya Khilafah Islamiyah dapat dilakukan dengan sejumlah langkah:

Pertama, Iran baik secara mandiri maupun berhimpun dengan Yaman, dapat mengumumkan tegaknya Daulah Khilafah di wilayah mereka. Iran, memiliki kapasitas untuk menegakkan khilafah karena keamanan wilayah Iran bersifat mandiri, tidak berada dibawah kendali Amerika, NATO, Eropa, termasuk China dan Rusia.

Kerjasama Iran dengan Rusia dan China hanya bersifat taktis (bukan aliansi bersama seperti NATO), karena Iran memiliki musuh bersama China dan Rusia, yakni Amerika. Sehingga, interaksi Iran dengan Rusia dan China tidak mengganggu kemandirian pertanahan Iran.

Terbukti, jet tempur canggih milik Amerika yang tidak bisa dijatuhkan oleh teknologi Rusia dan China, mampu dijatuhkan Iran. Itu artinya, Iran tetap memiliki kemandirian teknologi pertahanan yang tidak bergantung pada China dan Rusia.

Kedua, setelah khilafah resmi dideklarasikan di Iran, maka khilafah akan menyerukan baiat taat kepada seluruh kaum muslimin di dunia. Tak boleh ada lagi seruan penegakan khilafah, setelah Khilafah tegak di Iran.

Khilafah di Iran, selain menerapkan syariah Islam secara kaffah, secara simultan juga akan melakukan unifikasi dunia Islam. Langkah pertama, adalah dengan melakukan unifikasi negeri-negeri di kawasan.

Khilafah, akan menyatukan wilayah Arab Saudi, Qatar, Bahrain, UEA, Irak, Kuwait, Yordania menjadi satu kesatuan wilayah. Rakyat dan penguasa melebur menjadi satu kekuasaan Islam, membentuk entitas kekhilafahan Islam yang satu, dengan Khalifah yang satu, yang menerapkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Khilafah akan membentuk aliansi global, dengan menerapkan syari'at Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru alam. Aliansi semacam ini sangat solid, karena melebur dan menyatukan umat Islam, tanpa lagi membedakan wilayah teritorial, suku bangsa, mahzab, aliran, dan latar lainnya.

Umat Islam yang masih diluar yurisdiksi khilafah, menyerukan para penguasanya untuk menghimpunkan diri melakukan unifikasi dalam satu kesatuan wilayah khilafah. Jika sudah demikian, maka tatanan dunia baik penerapan hukum maupun keamanannya benar benar akan ada pada kendali keadilan Islam.

Umat Islam, akan kembali menjadi Khairu Ummah, seperti generasi sebelumnya saat umat bersatu dibawah naungan Khilafah. Jika ada kezaliman, maka khalifah akan melakukan intervensi dengan keadilan Islam. 

Jika ada yang melawan keadilan Islam, khalifah akan memencet tombol jihad, yang artinya perintah berperang bagi seluruh kaum muslimin baik di wilayah khilafah maupun diluar wilayah khilafah, untuk menghilangkan rintangan fisik kezaliman, agar bumi benar-benar dimakmurkan dengan syariat Islam.

Skenario ini terlihat utopis, bagi anda yang belum memahami Khilafah. Agar skenario ini bersifat praktis dan mudah di indera maknanya, penulis sarankan pembaca agar banyak berinteraksi dan berdiskusi dengan aktivis HTI. 

Karena HTI adalah bagian dari Hizbut Tahrir yang sejak mula didirikan memiliki visi melanjutkan kehidupan Islam, dengan menerapkan syari'at Islam melalui pendirian institusi khilafah.rmol news logo article

Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik 

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA