Nama Jokowi Nyaring Disebut dalam Korupsi Kuota Haji

Jumat, 16 Januari 2026, 02:12 WIB
Nama Jokowi Nyaring Disebut dalam Korupsi Kuota Haji
Joko Widodo saat memakai kain ihram. (Foto: Setpres)
KALIAN pasti sering membaca ungkapan, "Semua salah Jokowi." Dalam kasus dugaan korupsi kuota haji, Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut sudah jadi tersangka. Namun, ada drama di balik itu semua. Nama Jokowi pun disebut-sebut. 

Negeri ini memang tak pernah kehabisan tontonan politik. Ketika tema besarnya adalah ibadah paling sakral di dunia Islam, salah satunya haji. 

Sampeyan bayangkan! Urusan wukuf di Arafah bisa berubah jadi wukuf politik di Senayan, lengkap dengan aroma konspirasi, bisik-bisik podcast, dan plot twist ala serial Netflix. 

Kali ini pemeran utamanya Gus Yaqut, mantan Menteri Agama, yang resmi ditetapkan tersangka oleh KPK. 

Tapi seperti sinetron jam prime time, kasus ini tak berdiri sendirian. Nama Jokowi ikut disebut, bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai bayangan besar yang melintas di balik layar.

Cerita bermula dari sebuah podcast. Ya, republik ini sekarang sering menemukan “dokumen rahasia negara” bukan di arsip, tapi di YouTube. 

Islah Bahrawi, atau Gus Islah, duduk santai di hadapan Akbar Faizal, lalu membuka kisah yang membuat politik haji terasa seperti drama geopolitik. 

Menurut pengakuannya, Gus Yaqut mangkir dari panggilan Pansus Haji DPR bukan karena menghindar, melainkan karena sedang menjalankan perintah Presiden Jokowi. 

Bukan perintah biasa, tapi tugas kenegaraan menghadiri Konferensi Perdamaian Dunia di Prancis, dibuka langsung oleh Presiden Emmanuel Macron. Dari Senayan ke Paris, dari pansus ke croissant, begitulah garis ceritanya.

Di titik ini, publik disuguhi dilema klasik ala tragedi Yunani. Jika Gus Yaqut datang ke pansus, kata Islah, ia berisiko berhadap-hadapan dengan Presiden. 

Jika tidak datang, DPR siap menjadikannya sasaran tembak politik. Sebuah jebakan yang rapi, seperti labirin tanpa pintu keluar. 

Di sinilah bumbu konspirasi mulai terasa. Negara yang konon menganut sistem presidensial ini mendadak terasa seperti drama kerajaan, di mana titah raja dan murka parlemen sama-sama mematikan.

Islah tak berhenti di situ. Ia menyebut Pansus Haji bukan sekadar upaya pengawasan, tapi sarat kepentingan politik. 

Nama Muhaimin Iskandar alias Cak Imin ikut masuk frame, lengkap dengan sejarah lama hubungan panas-dingin dengan Gus Yaqut sejak perpisahan politik di PKB. 

Narasinya mengalir seperti teori konspirasi kelas berat, haji bukan lagi soal rukun Islam kelima, melainkan arena balas dendam politik, di mana kuota jamaah bisa berubah menjadi amunisi kekuasaan.

Lalu masuklah KPK sebagai penentu babak baru. Lembaga antirasuah ini memastikan Jokowi tak akan diperiksa. Alasannya terdengar rasional dan legal, tambahan 20 ribu kuota haji memang hasil lobi diplomatik Presiden ke Arab Saudi. 

Masalahnya bukan di Istana, melainkan di dapur operasional Kementerian Agama, saat kuota itu dibagi tak sesuai undang-undang. Dari total tambahan, proporsi haji khusus melewati batas, dan di situlah dugaan korupsi bermula. Jokowi aman, kata KPK. Yang terseret tetap para operator di bawah.

Namun bagi publik yang gemar teori besar, penjelasan hukum sering terasa kalah dramatis dibanding cerita jebakan politik. 

Gus Yaqut sudah “dikepung” sebelum palu KPK diketok, kata Islah. DPR menekan, opini publik memanas, podcast beredar, dan akhirnya status tersangka turun seperti tirai besi. 

Apakah ini murni penegakan hukum, atau orkestrasi yang lebih rapi dari sekadar salah hitung kuota? Pertanyaan itu dibiarkan menggantung, karena memang di situlah letak kenikmatan tontonan ini.

Gus Islah sendiri bukan tokoh sembarangan. Aktivis NU, pegiat moderasi, penentang radikalisme, dengan gaya bicara lugas dan sering menusuk. 

Kisah hidupnya pun sinematik, dari menggelandang di Amerika Serikat hingga jadi pengkritik keras di dalam negeri. Ketika sosok seperti ini bicara, publik otomatis pasang telinga, meski sadar betul bahwa yang disampaikan masih klaim, belum vonis kebenaran.

Akhirnya, kasus Gus Yaqut bukan hanya perkara hukum, tapi juga panggung besar tempat politik, agama, diplomasi, dan media bertabrakan. 

Kita menontonnya sambil tertawa pahit, karena di negeri ini, bahkan ibadah pun bisa terseret ke pusaran intrik. Seperti semua tontonan menarik, ceritanya belum tentu selesai di episode ini.rmol news logo article

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA