Jalanan masih berkabut. Dalam perjalanan turun ke kota, setelah istirahat di Kaliurang, kendaraan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dihentikan oleh seorang nenek yang tampak kepayahan menggendong bakul berisi dagangannya.
Sri Sultan turun dan membukakan pintu belakang mobil hardtop-nya. Membantu mengangkat barang dan memapah si nenek naik. Kelihatannya si nenek mengira yang dinaikinya kendaraan umum.
Ketika sampai depan Pasar Beringharjo, di tengah kota, si nenek minta diturunkan.
Sri Sultan pun membantu menurunkan barang si Nenek. Pagi itu Kota Jogja diliputi suasana cerah. Dan saat itu pula si nenek baru menyadari telah menumpang mobil Sri Sultan, yang bergegas naik lagi ke mobil, menuju Keraton Yogyakarta. Jaraknya sekitar dua kilometer dari Pasar Beringharjo. Konon si nenek langsung lemes nyaris pingsan saat tahu yang membantu dirinya adalah Sri Sultan Hamengku IX.
Harkat dan martabat kepemimpinan Sri Sultan sebagai salah satu founding fathers Indonesia dan ketulusan pengabdian beliau untuk bangsanya kemudian dibukukan: Tahta Untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX.
Buku ini disusun oleh Mohamad Roem, Mochtar Lubis, Lustiniyati Mochtar, S. Maimoen. Penyuntingnya adalah Atmakusumah.
"Buat apa sebuah tahta dan menjadi Raja apabila tidak memberi manfaat bagi masyarakat," kalimat lugas itu disampaikan pewaris tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Sri Sultan Hamengku IX dan Sri Sultan Hamengku Buwono X telah mengatasi ilusi dunia berupa status kebangsawanan, aristokrasi, dan simbol-simbol lain yang menyertainya.
Lantas menjadi bagian dari kepentingan publik. Mereka membebaskan diri dari belenggu statusnya sebagai raja, engaged dengan rakyat yang mereka pimpin.
Sebagaimana kata Ernest Hemingway, “true nobility is being superior to your former self.”
Bukankah masih jarang kita dapati pimpinan (ditakuti karena jabatan) yang memiliki courage meraih true nobility, sungguh-sungguh mau memenangi diri sendiri dan mindset lama, untuk menjadi pemimpin sejati (dihormati karena melakukan hal-hal benar secara tepat).
Dalam rapat-rapat, para pimpinan (yang ditakuti karena jabatan dan kekuasaan ) dengan mindset lama biasanya akan mengatakan, “Jangan datang ke saya dengan persoalan, tapi bawa solusi.” Atau, “Kita akan melakukan perubahan mendasar, saya minta semua orang bekerja lebih baik untuk kepentingan rakyat”
Dalam rapat berikutnya, seminggu, sebulan bahkan mungkin tiga bulan kemudian, si pimpinan akan marah-marah lagi karena banyak orang masih bekerja dengan cara lama. Organisasi mengalami stagnasi.
Kenapa? Karena sebagai pimpinan dia masih berperilaku sering berang, mudah menyalahkan anak buah, serta tidak konsisten jadwalnya untuk memimpin rapat. Rapat tergantung kepada dirinya. Bahkan rapat penting untuk membahas kepentingan publik bisa terbatalkan karena urusan pribadi dirinya.
Di tengah rapat tangannya juga aktif membuka notifikasi dan pesan-pesan yang masuk di smartphone-nya. Bahkan terkadang menghabiskan waktu sekian menit mengungkit-ungkit masa lalu. Mendewakan dirinya. Mencari kambing hitam.
Pimpinan berperilaku seperti diatas menjadikan dunia yang indah dan maha luas ini menyempit. Menjadi penjara baginya.
Dia terpenjara oleh ego, arogansi, bahkan mungkin juga stigmatized. Pimpinan dengan gaya perilaku seperti diatas tadi memang belum jadi pemimpin sejati, walaupun jabatannya tinggi.
Jiwanya terbelenggu oleh kenyamanan lingkungan dan ilusi yang diciptakannya sendiri. Ketika raja-raja yang sebenarnya, seperti Sri Sultan HB IX dan Sri Sultan HB X, berhasil merdeka dari belenggu kebangsawanan, belakangan ini di institusi-institusi pemerintahan, para pimpinannya malah cenderung ingin jadi raja dan ratu.
Memenjarakan diri dalam jabatan (fasilitas dan kemewahan) yang menyertainya. Mereka seperti membangun feodalisme baru. Seolah-olah dengan memiliki jabatan, martabat mereka tereskalasi di mata publik.
Memperlakukan amanah dari publik sebagai milik pribadi. Seakan-akan kekuasaan itu seumur hidup. Memperlakukan jabatan sebagai aset untuk mengeskalasi martabat diri pribadi, keluarga dan kolega.
Sementara prestasinya nol besar untuk kesejahteraan warganya. Bahkan narasinya menimbulkan kegaduhan di publik.
Tampaknya kita perlu belajar dari Sri Sultan Hamengku IX. Founding Father yang memperlakukan kekuasaan untuk kesejahteraan warganya. Bukan untuk menegaskan dirinya seorang penguasa dan raja.
Ngomong-ngomong, apakah pimpinan di negara dan daerahmu seperti Sri Sultan? Atau jangan-jangan dirimu merasa berdosa karena memilih pemimpin yang kurang tepat saat di bilik suara.

Rusmin Sopian
Mantan jurnalis dan pegiat literasi di Toboali Bangka Selatan
BERITA TERKAIT: