BOI menyebut keberadaan mafia alutsista membuat desain sistem pertahanan nasional menjadi bobrok dan tidak efektif bagi agenda memperkuat pertahanan nasional.
“Mafia alutsista ini kan pikirannya cari untung, bukan untuk memperkuat sistem pertahanan nasional," kata Aktivis BOI Andi Yusuf Gufrang dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis 27 Agustus 2026.
Menurut Gufrang, mafia alutsista tidak akan peduli kalau kapal perang dan pesawat tempur yang dibeli rongsokan dan sudah tidak berguna lagi.
"Masak yang begini kita biarkan,” kata Gufrang.
Keberadaan mafia alutsista ini disinyalir ada karena institusi pemerintah tidak bersikap profesional dalam menunjuk rekanan penyedia atau
vendor pengadaan alutsista.
Sehingga, ungkapnya, seringkali alutsista yang diimpor tidak pernah sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan oleh publik.
“Yang diimpor akhirnya alutsista bekas atau kapal perang yang tidak bisa digunakan. Atau yang biasa terjadi, spesifikasi pesawat temput atau kapal perangnya tidak sesuai dengan spesifikasi dalam kontrak,” kata Gufrang.
Gufrang pun menanggapi kabar soal dugaan monopoli pengadaan alutsista oleh PT RKI yang mencapai angka 2,45 miliar dolar AS. Menurutnya, sangat tidak logis dan tidak bijak memberikan prioritas pengadaan proyek pada satu perusahaan yang tercatat memiliki rekam jejak yang kurang baik.
Gufrang meminta Presiden Prabowo bersikap konsisten dalam melawan korupsi dan mencegah perilaku korupsi di institusi pemerintahan manapun. Termasuk dalam melawan keberadaan mafia alutsista.
“Saya kira Presiden Prabowo pasti akan menunjukkan komitmen dalam melawan mafia alutsista. Presiden Prabowo tentu tidak akan membiarkan sistem persenjataan dan pertahanan negara bobrok dan rusak karena keberadaan mafia alutsista,” tutup Gufrang.
BERITA TERKAIT: