Perjalanan silaturahmi Gus Salam dimulai dari lingkungan pesantren yang memiliki hubungan historis dengan perjalanan Nahdlatul Ulama. Salah satu dukungan penting datang dari keluarga besar Bani Bishri Syansuri.
Dalam pertemuan keluarga di ndalem kasepuhan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Gus Salam memperoleh izin dan restu untuk melanjutkan ikhtiar maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Nyai Hj. Muflichah Shohib, menyampaikan bahwa restu dari keluarga merupakan bentuk amanah untuk meneruskan nilai perjuangan para muassis NU.
“Ini bukan sekadar restu, tetapi amanah untuk menjaga NU, menjaga ideologi, tradisi, dan umat,” ujarnya dikutip ulang Kamis, 20 Agustus 2026.
Setelah dari lingkungan keluarga besar Denanyar, Gus Salam melanjutkan komunikasi dengan jaringan pesantren lain, termasuk para kiai di Pondok Pesantren Lirboyo dan Al-Falah Ploso, Kediri.
Jejak silaturahmi Gus Salam kemudian meluas ke berbagai wilayah. Di Jawa Timur, ia menemui sejumlah ulama sepuh seperti KH. Anwar Manshur Lirboyo, KH. Kafabihi Mahrus Lirboyo, KH. Kholil As’ad Situbondo, KH. Fuad Nurhasan Sidogiri, KH. Miftachul Akhyar, serta KH. Abdul Hannan Kediri.
Di Jawa Tengah, Gus Salam bersilaturahmi dengan para kiai di kawasan Sarang, Rembang, termasuk KH Ubaidillah Shodaqoh dan para pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syar’iyyah.
Dalam pertemuan bersama PCNU se-Karesidenan Semarang dan Pati, sejumlah kiai menyampaikan pandangan mengenai pentingnya kepemimpinan NU yang memiliki kepedulian terhadap masa depan jam’iyah.
Gus Salam juga menjangkau wilayah Jawa Barat. Ia sowan kepada KH. Sofyan Yahya dari Pondok Pesantren Daarul Ma’arif, Bandung serta KH. M. Nuh Addawami dari Pondok Pesantren Nurul Huda, Garut.
Dari pertemuan tersebut, Gus Salam mendapat pesan agar proses menuju Muktamar tetap berjalan dengan menjunjung tinggi akhlak organisasi, menghindari konflik, serta mengedepankan kepentingan jam’iyah.
Langkah serupa dilakukan di Banten. Gus Salam menemui Abuya Muhtadi Dimyati, pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Ulum Cidahu, Pandeglang. Ia juga berdialog dengan jajaran PWNU dan PCNU Banten mengenai kebutuhan organisasi di tingkat daerah.
Setelah menjangkau sejumlah wilayah di Pulau Jawa, Gus Salam melanjutkan safari ke Kalimantan Selatan. Ia menemui KH. Muhammad Wildan Salman atau Guru Wildan di Martapura, yang juga menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Selatan. Dalam pertemuan tersebut, Gus Salam mendapatkan nasihat agar NU tetap dikelola dengan landasan keilmuan pesantren, akhlak, dan semangat ukhuwah nahdliyyah.
“Saya kalau masuk ke suatu wilayah untuk menjalin komunikasi dengan ketua-ketua PCNU, saya akan sowan terlebih dahulu kepada Rais Syuriyah dan kiai sepuh setempat,” kata Gus Salam.
Pertemuan dengan Guru Wildan menjadi bagian dari upaya Gus Salam memahami dinamika NU di luar Jawa sekaligus membangun komunikasi dengan para pengurus daerah.
Langkah Gus Salam kemudian berlanjut ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Kupang, ia bersilaturahmi dengan PWNU dan PCNU setempat untuk mendengarkan persoalan serta harapan warga Nahdliyin di wilayah kepulauan.
Pengurus NU NTT menyampaikan harapan agar PBNU ke depan memberikan perhatian lebih besar terhadap pengembangan pendidikan pesantren dan penguatan organisasi di luar Jawa.
Ketua PCNU Alor KH Latif Daka menyampaikan pentingnya dukungan terhadap perkembangan pesantren di daerah. Sementara sejumlah pengurus NU NTT berharap kepemimpinan PBNU mampu memperkuat hubungan antara pusat dan daerah.
Selain NTT, Gus Salam juga bertemu dengan jajaran PWNU dan PCNU se-Sulawesi Selatan. Pertemuan bersama Rais Syuriyah PWNU Sulsel AG. DR. KH. Baharuddin dan Ketua Tanfidziyah PWNU Sulsel Prof. Dr. KH. Hamzah Harun Al-Rasyid menjadi ruang dialog mengenai penguatan organisasi dan pelayanan umat.
Di wilayah Bugis tersebut, Gus Salam menyampaikan apresiasi terhadap kiprah pengurus NU yang menjaga nilai keagamaan sekaligus merespons persoalan sosial masyarakat.
Rangkaian sowan Gus Salam memperlihatkan upaya membangun komunikasi dengan berbagai unsur NU, mulai dari keluarga pesantren, ulama sepuh, hingga pengurus struktural di daerah.
BERITA TERKAIT: