Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama pemerintah daerah memastikan proses belajar mengajar bagi anak-anak di wilayah terdampak tetap berjalan.
"Kami menginginkan agar proses belajar mengajar untuk anak-anak kita yang ada di NTT terus berjalan," kata Lalu Hadrian kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu 19 Agustus 2026.
Menurutnya, sekolah darurat perlu disiapkan bagi sekolah yang belum dapat digunakan akibat kerusakan gempa. Sekolah darurat dapat berupa tenda maupun memanfaatkan sekolah lain yang tidak terdampak.
"Jumlah sekolah daruratnya ya tentu menyesuaikan. Kalau ternyata sekolah
existing-nya masih bisa dilakukan, ya tentu diinventarisir," kata Lalu Hadrian.
Meski begitu, ia tetap mendorong agar proses belajar mengajar dilakukan di sekolah darurat dengan menggunakan tenda atau di sekolah yang tidak terdampak gempa.
Gempa NTT berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA dengan episenter di laut sekitar 30-38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.
BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami sebelum mengakhirinya pada pukul 07.41 WIB. Gempa kemudian diikuti sejumlah gempa susulan.
Berdasarkan data yang dihimpun BMKG per Selasa 18 Agustus 2026, sebanyak 608 orang menjadi korban gempa tersebut. Sebanyak 70 orang meninggal dunia, 230 orang luka berat, dan 308 orang luka ringan.
“Adapun korban meninggal dunia sebanyak 70 orang,” ujar Kepala Kantor SAR Maumere Fathur Rahman.
Keseluruhan korban tersebut berasal dari enam wilayah di NTT, yakni Manggarai Timur, Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Sementara itu, BNPB mencatat gempa NTT menyebabkan 40.040 warga mengungsi. Sebanyak 11.925 rumah rusak, terdiri dari 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan.
Kerusakan rumah paling banyak tercatat di Kabupaten Nagekeo, Manggarai Barat, dan Ngada.
BERITA TERKAIT: