“Ini menyedihkan. Cukup sentimentil dan melankolis, tapi memang harus diutarakan secara terbuka, secara dewasa," kata Pengasuh Pondok Pesantren Ekologi dan Ketua Partai Hijau, KH Roy Murtadho (Gus Roy) dalam keterangan resmi pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Sejauh ini, Gus Roy cukup lama terlibat dalam isu-isu sosial-ekologis di Kalimantan, termasuk melakukan penelitian, advokasi, hingga produksi film dokumenter bersama PusDok.
Masuk lebih dalam, Gus Roy pun mengaku bertemu langsung dengan masyarakat yang menjadi korban aktivitas pertambangan.
“Saya berjumpa langsung dengan orang-orang korban tambang, bagaimana mereka digusur, dihancurkan ruang hidupnya dan tidak mendapat perlindungan apa pun,” kata Gus Roy.
Menurut Gus Roy, berbagai upaya untuk menyuarakan persoalan tersebut juga telah dilakukan salah satunya dengan mendatangi sejumlah instansi pemerintah. Namun, lagi-lagi suara masyarakat terdampak belum mendapatkan perhatian yang memadai.
“Sudah banyak mengetuk sana-sini, instansi pemerintah, tetapi diabaikan," kata Gus Roy.
Ketimbang menerima konsesi tambang, Gus Roy menilai seharusnya PBNU mampu membaca berbagai persoalan yang dihadapi warga Nahdliyin dan masyarakat luas pada abad ke-21, termasuk krisis ekologis yang semakin memburuk.
"PBNU gagal merumuskan dan menjawab masalah. Karena rumusan masalahnya tidak ketemu,” kata Gus Roy.
BERITA TERKAIT: