"Jakarta membutuhkan cara kerja baru. Sinergi pusat dan daerah tidak boleh hanya bersifat seremonial, tetapi harus menjadi ruang kerja strategis yang rutin, terukur, dan berdampak langsung kepada warga,” kata Fahira.
Tujuh rekomendasi strategis untuk memperkuat sinergi pusat dan daerah dalam membangun Jakarta, yakni:
Pertama, menjadikan forum komunikasi pusat-daerah sebagai ruang tetap dan berkala.
“Jakarta membutuhkan orkestrasi kebijakan, bukan kerja sendiri-sendiri. Forum ini sebaiknya tidak berhenti pada silaturahmi, tetapi berlanjut menjadi ruang menyepakati isu prioritas, membagi peran, dan memastikan tindak lanjut,” ungkap Fahira.
Kedua, memperkuat posisi fiskal Jakarta, termasuk isu Dana Bagi Hasil atau DBH. Fahira menilai Jakarta memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, tetapi juga menanggung beban layanan publik yang sangat kompleks.
Ketiga, menempatkan transportasi publik sebagai agenda bersama. Menurut Fahira, transportasi publik adalah fondasi Jakarta sebagai kota global.
Keempat, mempercepat agenda Jakarta sebagai kota layak huni . Fahira berpandangan, kota global bukan hanya kota dengan gedung tinggi, tetapi kota yang sehat, nyaman, dan aman untuk ditinggali. Karena itu, isu banjir, rob, sampah, polusi udara, ruang hijau, air bersih, hunian, dan ruang publik harus menjadi agenda kolaboratif pusat-daerah.
Kelima, menjadikan pendidikan dan talenta sebagai fondasi era baru Jakarta. Fahira menegaskan, investasi terbesar Jakarta bukan hanya infrastruktur, tetapi kualitas manusia. Program KJP Plus, KJMU, Sekolah Swasta Gratis, Sekolah Rakyat, pendidikan vokasi, literasi digital, dan pengembangan talenta muda perlu dirangkai dalam satu ekosistem.
Keenam, menaikkan kelas ekonomi warga, UMKM, dan pasar rakyat . Fahira menilai pertumbuhan ekonomi Jakarta tidak boleh hanya bertumpu pada kawasan bisnis besar, tetapi juga harus dirasakan pelaku UMKM, pasar rakyat, koperasi, pelaku kuliner, ekonomi kreatif, dan anak muda pelaku usaha.
Ketujuh, merawat identitas Jakarta sebagai kota global berbudaya. Fahira menilai Jakarta harus modern tanpa kehilangan akar. Budaya Betawi, keragaman warga, Kota Tua, kampung budaya, kuliner, festival, museum, seni, dan ruang kreatif merupakan modal besar yang harus menjadi bagian dari strategi pembangunan.
BERITA TERKAIT: