Tak Mau Disebut Londo Ireng, Hensa Kelakar Pensiun Jadi Pengamat Politik

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-alfian-1'>AHMAD ALFIAN</a>
LAPORAN: AHMAD ALFIAN
  • Rabu, 29 Juli 2026, 09:32 WIB
Tak Mau Disebut Londo Ireng, Hensa Kelakar Pensiun Jadi Pengamat Politik
Founder lembaga survei Kedai Kopi Hendri Satrio. (Foto: istimewa)
Kecil Besar
rmol news logo Founder lembaga survei Kedai Kopi Hendri Satrio berencana pensiun sebagai pengamat dan beralih menjadi komika politik agar tidak masuk dalam kategori "londo ireng" seperti yang disinggung Presiden Prabowo Subianto.

“Saya jadi Komika Politik aja, jangan disebut Pengamat lagi, supaya tidak termasuk dalam kategori ‘itu’, setuju ya @pandji @davidnurbianto @FahmiAgustian @NOTASLIMBOY?” kelakar Hensa melalui akun X miliknya, Rabu, 29 Juli 2026.

Pernyataan Hensa tersebut merespons pidato Presiden Prabowo Subianto dalam puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta Convention Center, Kamis, 23 Juli 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan pemerintah tidak antikritik. Namun, ia menilai terdapat pihak-pihak di Indonesia yang lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain.

Prabowo kemudian menyebut “londo ireng” masih ada hingga sekarang dengan mengenakan “baju” yang berbeda. Dalam bagian tersebut, ia menyinggung wartawan, jurnalis, pengamat, serta lembaga swadaya masyarakat atau LSM.

“Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain,” ujar Prabowo dalam pidatonya, Kamis.

Hensa mengaku memahami bahwa terdapat unsur kelakar dalam pernyataan Prabowo tersebut. Karena itu, ia memilih menanggapinya dengan gaya serupa, yakni melalui candaan dengan menyebut dirinya sebagai komika politik.

“Saya paham ada unsur bercandanya dalam selorohan Presiden. Makanya saya respons juga dengan bercanda, sekalian saja mengaku sebagai komika politik. Cuma, namanya juga candaan Presiden, tetap saja bisa membuat pengamat seperti saya sedikit deg-degan,” kata Hensa.

Menurutnya, respons tersebut tidak dimaksudkan sebagai serangan terhadap Presiden. Ia hanya ingin menyampaikan sentilan ringan mengenai posisi pengamat yang bertugas memantau, mengkritik, dan memberikan penilaian terhadap jalannya pemerintahan.

Dengan meminta tidak lagi disebut pengamat, Hensa menyentil anggapan bahwa suara kritis dapat dengan mudah dicurigai sebagai bentuk keberpihakan kepada kepentingan asing.

“Kalau pengamat yang tugasnya mengamati kemudian dianggap sebagai ‘londo ireng’, ya lebih aman saya menjadi komika politik saja. Kalau melontarkan kritik, nanti bisa dibilang sedang bercanda. Padahal, kritik dan pengawasan itu diperlukan agar pemerintah tetap berjalan pada jalur yang benar,” ujar Hensa. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: AHMAD ALFIAN

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA