Pernyataan itu disampaikan Jeffrey menyusul IHSG yang ditutup melemah 94,03 poin atau 1,51 persen ke level 6.147,85 pada perdagangan hari pertama penerapan aturan baru tersebut.
Menurut Jeffrey, respons pasar terhadap pemberlakuan batas minimum harga saham dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1 justru cenderung positif.
"Harusnya tidak demikian. Pertama, pada saat ini mau diberlakukan respons dari pasar yang positif," kata Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta.
Jeffrey juga menilai saham-saham yang selama ini tertahan di level Rp50 memiliki bobot yang relatif kecil terhadap pergerakan IHSG. Karena itu, penurunan harga sejumlah saham di bawah Rp50 tidak serta-merta memberikan tekanan signifikan terhadap indeks.
"Yang kedua, tentu bobot dari saham-saham yang sudah lama di harga Rp50 itu bobotnya terhadap IHSG juga tidak besar," jelasnya.
Meski begitu, Jeffrey mengakui penerapan batas minimum Rp1 dapat meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek, khususnya ketika saham-saham yang sebelumnya tertahan di Rp50 mulai menemukan harga barunya.
Pasalnya, sejumlah saham diketahui telah bertahun-tahun berada di level Rp50 tanpa transaksi. Kondisi tersebut menunjukkan harga Rp50 belum tentu mencerminkan kesepakatan nilai yang diinginkan pelaku pasar.
Dia menambahkan, proses pencarian harga wajar tersebut membutuhkan waktu karena saham tetap akan menghadapi mekanisme auto rejection hingga menemukan titik keseimbangan baru
"Karena saham-saham yang ada di harga Rp50 itu ada yang sudah bertahun-tahun, di harga Rp50 tanpa ada transaksi. Artinya, memang kesepakatan dari pelaku, dari investor ya mungkin karena fair value-nya tidak di Rp50. Dan saat ini sedang mencari fair value-nya," tandasnya.
BERITA TERKAIT: