Menurut Said Iqbal, keputusan menerima jabatan di lingkungan Istana bukan langkah yang diambil secara mendadak.
Sebelum menerima amanah tersebut, ia mengaku telah berdiskusi dengan jajaran KSPI dan berbagai elemen buruh untuk menentukan arah perjuangan gerakan pekerja ke depan.
Said Iqbal ingin berjuang dari dalam, karena menurutnya aspirasi kalangan pemilik modal relatif lebih banyak tersalurkan dalam proses pengambilan kebijakan pemerintah.
Kehadirannya sebagai penasihat khusus presiden, diharapkan dapat menjadi jembatan bagi suara kaum pekerja agar turut mendapat perhatian yang seimbang dalam setiap perumusan kebijakan strategis.
“Nah saya memberanikan diri berikhtiar, berijtihad, bahwa saya juga harus memberikan keseimbangan terhadap apa apa yang ingin diperjuangkan oleh kaum buruh," tegasnya.
Meski kini menjadi bagian dari pemerintahan, Said Iqbal memastikan perjuangan kaum buruh tidak akan kehilangan daya kritisnya.
Bahkan, saat ditanya mengenai agenda utama yang dititipkan kalangan pekerja kepadanya, Said Iqbal menegaskan bahwa pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketenagakerjaan menjadi prioritas yang akan terus diperjuangkan.
“RUU Ketenagakerjaan. RUU Ketenagakerjaan,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: