Menurut Direktur Eksekutif Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia, Neni Nur Hayati, peristiwa tersebut justru mencerminkan persoalan yang lebih serius terkait kualitas sumber daya kabinet, lemahnya koordinasi internal, serta minimnya evaluasi terhadap kinerja para menteri.
“Memang kualitas menteri kita saat ini mengalami inkompetensi, bukan hanya urusan data tapi juga kegagalan komunikasi publik berulang dan tidak pernah menjadi bahan evaluasi,” kata Neni kepada
RMOL, Sabtu, 23 Mei 2026.
Di sisi lain, Neni juga menilai respons Presiden Prabowo dalam kesempatan tersebut juga belum menunjukkan adanya mekanisme evaluasi yang tegas di lingkungan kabinet.
Pasalnya, Kepala Negara terkesan mewajarkan hal tersebut dengan melemparkan candaan yang menyinggung kemungkinan reshuffle terhadap Zulkifli Hasan.
“Hanya simboliknya Pak Prabowo sendiri menjadi bahan candaan dan humoris tidak memberikan peringatan secara serius,” sesalnya.
Padahal, kata Neni, kesalahan informasi yang terjadi saat kunjungan kerja Presiden Prabowo seharusnya menjadi momentum korektif bagi pemerintah.
Terutama, terhadap kinerja para menteri, baik dari sisi kompetensi, komunikasi publik, maupun kemampuan koordinasi dalam menjalankan program-program pemerintah.
“Hal ini juga menunjukkan ketidaksiapan pemerintah ketika turun ke lapangan. Koordinasi internal saja kan kacau,” pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menghadiri panen raya udang di Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu, 23 Mei 2026.
Saat memberi sambutan, Prabowo sempat salah menyebut nama desa lokasi acara.
“Terima kasih saya diundang ke sini Desa Karang Duwur,” ucap Prabowo.
Warga yang hadir langsung mengoreksi dan menyebut lokasi yang benar berada di Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan.
Menanggapi koreksi tersebut, Prabowo kemudian bercanda menyalahkan Menko Pangan Zulkifli Hasan.
"Waduh ini Menko tadi salah nama, perlu direshuffle gak ini kira-kira?" kata Prabowo yang disambut tawa warga.
BERITA TERKAIT: