Dalam analisa intelijen, kata Amir, pola tersebut mengarah pada upaya provokasi reaktif -- yakni mendorong penguasa bereaksi keras agar dapat membangun
framing otoritarianisme.
“Harapannya sederhana: jika Prabowo terpancing dan menyebut makar atau melakukan tindakan represif, maka narasi anti-demokrasi akan menguat. Tapi yang terjadi justru sebaliknya,” kata Amir.
Alih-alih merespons dengan keras, Prabowo memilih jalur konstitusional sebagai rujukan utama.
Hal ini, menurut Amir, secara efektif mematikan panggung bagi kelompok yang berharap konflik terbuka.
Dalam kacamata geopolitik, langkah Prabowo dinilai sejalan dengan prinsip klasik strategi perang ala Sun Tzu: memenangkan pertarungan tanpa harus bertarung.
Dengan mengafirmasi mekanisme DPR dan MPR, Prabowo tidak hanya menegaskan legitimasi sistem, tetapi juga mengunci ruang gerak lawan politik dalam koridor hukum yang ketat.
“Permainan dipindahkan ke arena formal, di mana Prabowo unggul secara struktur. Ini langkah yang sangat presisi,” kata Amir.
BERITA TERKAIT: