Penilaian Mossad yang menyebut serangan dapat memicu kekacauan di Iran justru dinilai keliru.
Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, mengatakan laporan tersebut muncul dari media Israel yang mengungkap adanya ketegangan internal. Ia menyebut kemarahan Netanyahu dipicu hasil analisis intelijen yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Netanyahu sudah marah kepada Direktur Mossad David Barnea karena pada Jumat malam, David menyampaikan bahwa dengan membunuh pemimpin tertinggi, komandan panglima angkatan bersenjata dan komandan militer Iran, termasuk Menteri Pertahanan, maka bisa menimbulkan kekacauan, kerusuhan di Iran, sehingga Mossad maupun CIA yang dilakukan bisa menggerakkan rakyat Iran untuk turun ke jalan dan menumbangkan rezim,” jelasnya dalam keterangan daring, Senin, 23 Maret 2026.
Namun, skenario tersebut tidak terjadi di Iran. Situasi di dalam negeri justru tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan seperti yang diprediksi.
“Laporan terbaru dari Channel 12 Israel sudah menyatakan Netanyau sangat marah.” lanjutnya.
Faisal menilai kondisi ini menandakan adanya kesalahan dalam perhitungan intelijen Israel. Ia menyebut penilaian yang disampaikan Mossad tidak mencerminkan realitas yang terjadi di lapangan.
“Ternyata assessment atau penilaian dari seorang Direktur Mossad itu ternyata sangat keliru. Hal itu tidak terjadi di Iran.” katanya.
Menurutnya, Iran sejak awal telah menyatakan akan terus melakukan perlawanan karena menganggap diri sebagai pihak yang diserang, sehingga konflik berpotensi terus berlanjut.
BERITA TERKAIT: