Minyak Goreng Langka, Ombudsman Ungkap Fenomena Panic Buying dan Penimbunan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/raiza-andini-1'>RAIZA ANDINI</a>
LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Selasa, 08 Februari 2022, 23:04 WIB
Minyak Goreng Langka, Ombudsman Ungkap Fenomena Panic Buying dan Penimbunan
Ilustasi minyak goreng/Net
rmol news logo Langkanya minyak goreng di pasaran disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya, mafia minyak goreng yang sengaja menimbun minyak goreng.

Selain itu ada fenomena panic buying masyarakat terkait pasokan minyak goreng yang menipis dengan harga tinggi.

Demikian diungkapkan Anggota Ombudsman RI Yeka Hendra Fatika dalam acara diskusi virtual bertemakan Menjamin Ketersediaan Minyak Goreng, Selasa (8/2).

Yeka mengungkapkan adanya fenomena penimbunan minyak goreng, pengalihan dan panic buying itu berdampak pada kelangkaan stok minyak goreng di pasaran.

Tiga faktor tersebut, lata Yeka, didasari oleh masuknya informasi dari 34 provinsi ke Ombudsman terkait kelangkaan minyak goreng.

"Pertama penimbunan, saya harap Satgas Pangan bereaksi cepat, jika ketegasan diberikan begitu Satgas Pangan tegas, upaya penimbunan bisa selesaikan,” kata Yeka.

Yeka mengatakan, masalah pengalihan ketersediaan minyak goreng ini sengaja dilakukan oleh oknum dari pasar modern yang menjual stok ke pasar tradisional.

"Jadi kenapa barang di pasar modern (minimarket-supermarket) itu langka karena ada oknum yang menawarkan ke pasar tradisional. Pengalihan di pasar modern itu dengan menjual ke pasar tradisional dengan harga Rp 15.000 misalnya,” katanya.

Fenomena adanya panic buying yang terjadi di tengah masyarakat disebutkan Ombudsman didapat dari temuan bahwa ada foto-foto bagaimana masyarakat memborong minyak goreng secara sporadis.

Dia mengatakan, untuk beberapa daerah, Ombudsman mendapatkan laporan harga minyak goreng masih cukup tinggi dari Rp 18 ribu hingga Rp 22 ribu per liter.

"Terjadi perkembangan harga di beberapa daerah Aceh masih Rp 18.000/liter, Sumatera Utara Rp 19.000/liter, Sumatera Barat Rp 18.000/liter, Kalimantan Timur Rp 22.000/liter, Jawa Barat Rp 22.000/liter,” demikian Yeka.rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA