Demikian disampaikan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulisnya, Rabu (6/11).
"Kita melihat industri pengolahan masih menjadi salah satu motor penggerak utama pada pertumbuhan ekonomi Indonesia," katanya.
Agus mengatakan, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2019 pertumbuhan tertinggi berasal dari lapangan usaha industri pengolahan sebesar 0,86 persen. Padahal, di periode yang sama, pertumbuhan ekonomi berada di angka 5,02 persen.
Pertumbuhan 5,02 persen tersebut, dinilai masih cukup baik di tengah kondisi ekonomi regional yang mengalami ketidakpastian akibat perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.
"Indonesia masih cukup tahan menghadapi ketegangan perang dua negara itu yang tercatat sebagai mitra dagang utama," tegas Agus.
BPS merinci, industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 8,33 persen, karena didukung oleh peningkatan crude palm oil (CPO) yang sejalan dengan konsumsi domestik CPO. Industri furnitur juga tercatat tumbuh 6,93 persen lantaran didorong meningkatnya permintaan dari luar negeri.
Atas dasar itu, Agus menegaskan, pihaknya tetap akan fokus untuk terus meningkatkan daya saing industri nasional agar bisa lebih kompetitif di kancah global. Karenanya, berbagai langkah strategis akan dijalankan untuk merevitalisasi industri manufaktur di dalam negeri.
"Kami terus memacu produktivitas industri kita supaya bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik dan mengisi permintaan ekspor. Apalagi, Indonesia punya pasar yang sangat besar. Ini yang menjadi potensi bagi kita," ujar Agus.
Selanjutnya, masih kata Agus, kebijakan hilirisasi akan terus dijalankan untuk terus meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri.
"Upaya strategis ini dinilai memberikan efek berganda yang luas bagi perekonomian, seperti pada peningkatan penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa dari ekspor," tandasnya.
BERITA TERKAIT: