Indikator utama kekuatan Dolar, Indeks DXY, yang mengukur performa dolar terhadap enam mata uang pesaing utamanya, kini tertahan di level 98,243 paa perdagangan Jumat pagi, 2 Januari 2026. Angka ini mencerminkan kelanjutan tren negatif setelah indeks tersebut anjlok drastis sebesar 9,4 persen sepanjang tahun 2025.
Pelemahan indeks DXY ini dipicu oleh kombinasi faktor fundamental dan politik, di antaranya siklus pemangkasan suku bunga yang agresif, kebijakan perdagangan yang dinilai tidak konsisten, dan kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS (The Fed) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dominasi Dolar AS kian terkikis seiring menyempitnya selisih suku bunga antara AS dengan negara ekonomi besar lainnya.
Euro tercatat stabil di level 1,1752 DolarAS di pasar Asia setelah mencetak reli luar biasa sebesar 13,5 persen tahun lalu.
Setali tiga uang, Pound Sterling bertahan di posisi 1,3474 Dolar AS usai menguat 7,7 persen. Bagi kedua mata uang tersebut, kenaikan terhadap Dolar ini merupakan yang tertajam sejak tahun 2017.
Di sisi lain, Yen Jepang bergerak relatif stabil di angka 156,74 per Dolar AS. Meski Yen sempat menyentuh level terlemahnya dalam 10 bulan terakhir pada November lalu, pergerakannya kini mulai tenang seiring penantian investor terhadap data ekonomi terbaru.
Anthony Doyle, Kepala Strategi Investasi di Pinnacle Investment Management, menilai bahwa meskipun dolar melemah, ekonomi global memasuki 2026 dengan momentum yang cukup solid.
"Di luar Amerika Serikat, dorongan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral mulai mereda. Hal ini justru dianggap positif karena mengurangi kejutan kebijakan dan menekan pergerakan pasar satu arah," jelas Doyle, dikutip dari Reuters.
Fokus pasar kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS yang akan rilis pekan depan sebagai kompas arah suku bunga sepanjang 2026. Selain itu, pelaku pasar tengah berspekulasi mengenai siapa sosok yang akan dipilih Presiden Trump untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve pada Mei mendatang, sebuah keputusan yang diyakini akan menentukan nasib Indeks DXY di masa depan.
BERITA TERKAIT: