Cerita Wahidah, Aktivis Perempuan Jadi Penyelenggara Pemilu

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/adityo-nugroho-1'>ADITYO NUGROHO</a>
LAPORAN: ADITYO NUGROHO
  • Senin, 11 Juni 2018, 05:36 WIB
Cerita Wahidah, Aktivis Perempuan Jadi Penyelenggara Pemilu
Wahidah Suaib/Net
rmol news logo Pegiat Pemilu Wahidah Suaib menceritakan kisahnya saat menjadi anggota Bawaslu periode 2008-2012.

Menurutnya butuh perjalanan panjang bagi seorang perempun untuk bisa duduk di Bawaslu dan penyelenggara pemilu. Hal tersebut juga memerlukan strategi.

Wahidah yang selalu memakai jilbab berwarna ungu itu menjelaskan saat pemilihan anggota Bawaslu tahun 2008 didominasi oleh wanita.

“Komisi II DPR yang punya hak melakukan fit and proper test calon anggota Bawaslu saat itu tidak lepas dari peranan empat Srikandi,” ungkapnya dalam sebuah diskusi di kantor Bawaslu, Jakarta, Minggu, (10/6).

Empat Srikandi tersebut adalah anggota Komisi II DPR perempuan antara lain Lena Maryana Mukti (PPP), Ida Fauziah (PKB), Andi Yuliani Faris (PAN) dan Tumbu Saraswati (PDIP).

"Empat Srikandi ini yang berperan sampai kepada voting-nya, akhirnya muncul tiga nama perempuan anggota Bawaslu 2009," kenangnya.

Wahidah menerangkan empat Srikandi tersebut memiliki latar belakang sebagai aktivis perempuan diorganisasinya masing-masing. Sehingga komitmen dalam memperjuangkan keterlibatan perempuan dalam penyelenggara pemilu patut diacungi jempol.

Dalam skema voting tersebut, banyak anggota Komisi II yang minta diulang karena hasilnya di luar skenario yang telah dirancang. Dari lima orang, tiga di antaranya perempuan, sementara forum menghendaki perempuan hanya dua.

“Tapi Pak Mangindaan selaku Ketua Komisi saat itu meminta untuk menghargai keputusan voting akhirnya sah, itu berkat keempat Srikandi tadi yang berhasil dengan strateginya,” pungkas Wahidah. [nes]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA